Waktu dan Selamat Tahun Baru 2014

 

Apa yang terjadi bila dunia tak punya pengukur waktu?.

Manusia datang dan pergi tanpa jejak. Yang pasti, tidak ada ulang tahun memperingati kelahiran. Tak ada maulid Nabi dan ritual muhasabah. Sudah pasti tidak ada pesta kembang api pembuka tahun.

Tanpa pengukur waktu, manusia tak ada peransang. Tanpa pegas penggerak motivasi. Manusia tidak bisa mengukur untung dan rugi, karena waktu dinisbahkan uang. Tidak bisa meng-evaluasi diri bahwa hari ini lebih baik dari kemarin.

Tanpa mesin waktu, kekuasaanpun tak tahu cara mengakhiri diri, kecuali pertumpahan darah, atau waktu itu sendiri yang bertindak mengakhirinya.

Tanpa mesin pengukur waktu, bukan berarti waktu tak ada. Pasti selalu ada karena manusia lahir dan mati.

Matahari dan bulan adalah pemilik waktu yang sebenarnya. Kedua makhluk Tuhan  ini menguasai waktu. Memaksa makhluk hidup mematuhi hukum yang dibuatnya. Hukum siang dan malam. Dan Tuhanpun bersumpah, ‘Demi waktu!’

Kemudian, daya cipta manusia menerjemahkan matahari dan bulan kedalam penggalan detik, menit, jam, hari, bulan dan tahun. Semua ini disebut mesin waktu. Mesin-mesin ini mengarahkan manusia modern menjadikan waktu sebagai centrum kehidupan. Mengatur manusia dan sekaligus mengkerdilkan sang penemu mesin waktu.

Semua kitab samawi bercerita tentang waktu. Bahkan, di kehidupan setelah mati sekalipun waktu menjadi penting karena manusia memiliki ambang waktu. Andai, hidup kita seperti vampire yang abadi, tak tertindas waktu, tentu tak ada perbendaharaan kata ‘terburu-buru’,  tak ada yang perlu dikhawatirkan dengan putaran waktu. Tak perlu ditunggu dan disesali karena waktu selalu ada.

Pepatah Arab mengatakan, “Waktu ibarat pedang. Jika tidak mahir menggunakannya, maka kamu akan terpotong olehnya”. Dalam istilah bahasa Indonesia ‘bergelut dengan waktu’; bertarung siapa yang paling bisa menaklukinya. 

Simbol modernisasi adalah kemampuan menaklukkan waktu. Fareed Zakaria –editor news weeks international– menulis, kemampuan terbesar manusia era sekarang –dibanding satu abad yang lalu-, yaitu; kemampuan akselerasi mewujudkan sesuatu yang sebelumnya dilakukan dalam waktu 100 tahun, merubahnya sehingga bisa dicapai dalam 10 tahun.  Untuk kedepan, sesuatu yang bisa dilakukan 10 tahu, bisa dilakukan dalam satu bulan. Begitulah pergumulan manusia dan waktu bekerja. 

Islam sebagai peradaban modern, memberi banyak rambu waktu supaya muslim bisa digdaya dengan waktu. Memberi mesin pengingat, tidak hanya dengan hari, bulan dan tahun. Anjuran melaksanakan shalat tepat waktu 5 kali dalam 24 jam ialah manajemen waktu paling hebat.  Jika kontemplasi kilat itu dipakai sebagai mekanisme intropeksi penggunaan waktu. 

Menutup tulisan ini, ada satu hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Bukhari . Semoga bisa menjadi imam dalam pergumulan waktu. Abdullah bin Umar berkata: “Apabila kamu berada pada sore hari, maka janganlah menunggu waktu pagi. Jika kamu berada pada waktu pagi, janganlah kamu menunggu waktu sore. Gunakan waktu sehatmu untuk masa sakitmu, dan masa hidupmu untuk masa matimu.”

Banda Aceh, 6 Januari 2014