Tentang Jembatan Kebenaran.

Cogito Ergo Sum. Saya berfikir maka saya ada.”

Begitulah ungkapan Rene Descartes (1596-1650 M). Seorang bapak pendiri filsafat moderen dari Perancis. Sosok yang memberi metodologi pada ilmu filsafat. Descartes memulai dari mempertanyakan semua hal termasuk dirinya sendiri.

Ungkapan Descartes merasuk dalam fikiran saya. Dan, saya memahaminya begini “tulislah pikiran-pikiran itu supaya tidak hilang. Sampaikan pikiran-pikiran sehingga semua orang bisa berpartisipasi dan mendapat pengetahuan yang lebih luas.  Tentu termasuk menambah wawasan kepada saya sebagai penulis.“

Itulah sebabnya, tulisan-tulisan saya tidak berangkat dari pikiran untuk memonopoli kebenaran. Namun, saya meyakini kebenaran dari setiap karya saya. Saya menulis berdasarkan pengetahuan yang saya miliki,  hasil dari bacaan dan hubungan kemasyarakatan. Atau berdasarkan pertanyaan tentang kejanggalan dalam sehari-hari mahupun masa lalu.

Bahwa kemudian melahirkan penilaian-penilaian maka itu sudah jamak. Bisa saja, tulisan-tulisan saya menjadi kebenaran. Bisa juga sebaliknya. Atau menjadi kebenaran sementara; benar sebentar, lalu salah setelah mendapat fakta baru.

Kebenaran bisa objektif dan juga subjektif. Saya tidak peduli apapun definisi kebenaran itu sepanjang landasan karya yang saya gunakan adalah pengetahuan dan fakta.

Lantas dimanakah kebenaran itu? Kebenaran ada pada masing-masing pembaca sebagai penguasa nilai pada karya-karya yang dikunyahnya. Kebenaran tidak ditentukan oleh otoritas tertentu, melainkan dicapai dalam diskursus yang bebas dominasi.  Ide atau pemikiran pasti melewati proses dialektika tabayyun (saling menjelaskan) yang terus menerus.

Dengan demikian, kebenaran tidak diam tapi bergerak. Imam Syafii (767-819 M) mencontohkan hal ini dalam memilah maha karya beliau dari Qaulul Qadim (pernyataan lama) ke Qaulul Jadid (pernyataan baru).

Dalam perjalanan menuju ke kebenaran, jembatannya adalah toleransi.  Kebudayaan modern patut berbangga pada prilaku toleransi Imam Malik dan Imam Syafii’.

Berangkat dari beragam pemikir hebat di masa lalu itu, maka dalam setiap menulis saya selalu memposisikan pembaca sebagai orang cerdas. Memberi ruang-ruang berfikir.

Jadi, ketika saat menulis, saya bukan sedang melakukan transfer kebenaran. Melainkan memaksimalkan potensi pengetahuan saya dan pembaca dalam rangka tahu lebih banyak dan belajar dalam arti seluas mungkin.

Saya menghargai emansipasi setiap individu. Dengan begitu, tidak menutup kemungkinan lahirnya kebenaran baru yang kemudian bisa juga keliru di kemudian hari.

Saya mengerti betul, masyarakat kita produk sistem pendidikan ala gudang penyimpan.   Sekolah, dayah atau universitas yang berfungsi sebagai penyimpan kebenaran. Guru bertugas menjadi tukang transfer pengetahuan serta pemilik kebenaran. Sang murid berperan sebagai penghafal saja.

Kondisi pendidikan seperti ini, mendorong kita melihat perbedaan sebagai sesuatu yang asing. Sikap ini melahirkan prilaku tidak toleran dan berkecenderungan menolak keragaman. Bahkan yang konyol adalah sikap antikebenaran yang baru, walau kemudian mengakuinya dengan malu-malu.

Sejatinya, semua tulisan tidak memonopoli kebenaran juga tidak antikebenaran. Si penulis hanya berhak menguasainya saat masih bergumul dengan karya-karyanya. Ketika buah pikirannya masih terkunci di dalam laci.

Namun ketika masuk ke ranah publik, maka otomatis sudah melibatkan setiap orang untuk menafsirkannya, mengajukan pertanyaan, bahkan menambah argumen yang semakin menguatkan pengetahuan yang dipaparkannya. Tentu pintu penyangkalan juga terbuka lebar.

Tetapi, si pembaca pun memiliki kapasitas yang sama yaitu tak berhak mendikte si penulis tentang kebenaran yang diyakininya.

Untuk itu, tulisan tidak perlu dicerca. Penulisnya tak perlu diserang, tak usah diusir dari tempat tinggalnya, apalagi harus membunuhnya. Konon lagi membakar tulisan, membredel surat kabar atau portal berita yang memuat tulisannya dan menutup perusahaan penerbitan.

Jika itu dilakukan akan menjadi tragedi kebenaran. Apalagi jika di kemudian hari justru karya yang dihujat ternyata adalah sesuatu yang benar. Pengalaman seperti ini sudah pernah terjadi di era geraja abad kegelapan.

Ketika itu, penguasa gereja menjebloskan Galileo Galilei (1564-1642 M) ke dalam penjara karena temuannya tentang matahari sebagai poros yang dikelilingi planet-planet jagat raya; Termasuk bumi. Ini berlawanan dengan pemikiran para pimpinan gereja yang menganggap bumi sebagai poros semua planet.

Namun apa yang terjadi sekarang ini? Ilmu pengetahuan yang diajarkan Galileo itulah yang menjadi rujukan, bahkan Paus Johanes Paulus II pun meminta maaf.  Lalu, apakah masih pantas untuk zaman keterbukaan seperti sekarang ini ada orang yang merawat sikap layaknya pola pikir gereja abad kegelapan?

Zaman seperti itu telah selesai. Mari malu pada sejarah. Akankah kita mengulang dosa Raja Laches yang membunuh Socrates (469-399 SM) lantaran pikiran-pikirannya?

Satu hal yang saya dipahami, kebenaran selalu ada. Pikiran bukan dilawan dengan perilaku kekerasan (dalam bentuk apapun termasuk menyuruhnya berhenti menulis). Cukup dengan argumentasi, tulisan dan pertanyaan balasan.

Untuk alasan ini, saya akan terus menulis. Saya percaya, setiap tulisan pasti berangkat dari pengetahuan-pengetahuan kecil untuk tujuan pengetahuan yang lebih luas. Prinsip tulisan saya, reflektif dan transformatif.