Perjuangan Demokrasi Indonesia vs Perjuangan Aceh; Terawangan Masa Lampau

Tulisan ini sengaja ditulis mengenang gerakan reformasi Indonesia sembilan belas tahun lalu. Terima kasih kepada teman-teman yang sudah terlibat di tahun-tahun yang berpeluh tanpa keluh. — Mana lebih penting; isu pembangunan demokrasi nasional atau pembebasan lokal? Pertanyaan ini kerap jadi perdebatan dikalangan pejuang demokrasi Aceh. Pikiran yang berkembang saat itu, kita tak perlu ambil pusing […] Seterusnya

Koalisi dan Kompromi

Beberapa minggu sebelum deklarasi 8 partai politik membentuk Koalisi Aceh Bermartabat, ada gerakan khusus dilakukan segelintir politisi Aceh dalam membangun koalisi politik di DPRA (Dewan Perwakilan Rakyat Aceh). Tanpa menyertakan Partai Aceh, mereka berkumpul di Medan.

Referendum Aceh

Dalam sebuah diskusi di Sp. Kramat, Aceh Utara. Saya dijejal pertanyaan oleh seorang pemuda tentang referendum Aceh. Menurutnya, Aceh tak boleh menuntut referendum. Aceh sudah merdeka sejak dahulu, tak pernah tunduk kepada Belanda dan Jepang, apalagi Indonesia.

Selamat Datang Mahasiswa Baru di Kampus Perlawanan Rakyat

Lima belas tahun lalu, kalimat diatas menjadi tulisan selembar spanduk yang digantung di pintu gerbang Darussalam. Tepatnya, disimpang jalan Inong Balee, depan fakultas ekonomi Unsyiah. Spanduk itu ditulis oleh Solidaritas Mahasiswa Untuk Rakyat (SMUR) dalam rangka menyambut peserta Ordikmaru (Orientasi Pendidikan Mahasiswa Baru) yang dilaksanakan abang-abang pengurus senat Unsyiah dan IAIN Ar-Raniry. Senat Mahasiswa, sebutan […] Seterusnya

Nostalgia Perlawanan

Ada banyak cara orang Aceh bernostalgia tentang konflik di kampungnya. Kebanyakan orang Aceh –persis film Hindustan- senang dengan hal-hal bernuansa patriotik dan pengorbanan. Saya mencoba mengambil cara lain mengenang konflik dan sembilan tahun perdamaian Aceh. Tulisan ini saya dedikasikan untuk adik-adik di Komunitas Kotak Hitam yang bekerjasama dengan BEM FISIP (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu […] Seterusnya

Primordialisme

Ahmad Wahib dalam catatan hariannya mengaku heran pada prilaku mahasiswa dari daerah yang datang ke Jakarta. Dalam buku yang dicetak LP3ES pada Juli 1981, dia menulis, “Kenapa mahasiswa Indonesia masih terikat emosi kedaerahan?”. Bergabung dalam organisasi seperti Himpunan Mahasiswa Lampung, Perkumpulan Mahasiswa Solo, dan berbagai organisasi mahasiswa paguyuban lainnya. Menurutnya, “Bukankah menjadi Indonesia berarti menanggalkan […] Seterusnya