Sumpah Pemuda  

Kami mahasiswa Indonesia bersumpah,

bertanah air satu, tanah air tanpa penindasan.

Kami mahasiswa Indonesia bersumpah,

berbangsa satu, bangsa cinta keadilan.

Kami mahasiswa Indonesia bersumpah,

berbahasa satu, bahasa kebenaran.

Jakarta, 28 Oktober 1998

Untaian kalimat diatas menghiasi bagian belakang kaos oblong yang dikenakan mahasiswa baru. Mereka peserta Ospek yang digelar pengurus senat mahasiswa hukum Unsyiah periode 1998-1999.

Masih dalam ingatan, baju itu berwarna merah dengan les hitam dilengan. Tulisan sumpah mahasiswa berwarna hitam. Tahun-tahun itu, fakultas hukum Unsyiah dipimpin kelompok mahasiswa reformis.

Sumpah mahasiswa menjadi slogan wajib setiap demontrasi mahasiswa. Sebelum ‘turun ke jalan’ yel-yel sumpah mahasiswa menjadi lafadz yang diucap secara bersama. Pemicu semangat melakukan perlawanan.

Sumpah mahasiswa ini diucapkan mahasiswa penggerak reformasi di Jakarta. Tak tahu pasti siapa pencipta lafadz ini. Yang jelas, cepat sekali ucapan sumpah ini menyebar ke setiap kelompok perlawanan mahasiswa seluruh Indonesia. Padahal, sumpah ini tak pernah ditulis dalam media-media mainstream. Begitulah penetrasi gerakan reformasi dari pulau Jawa ke pulau-pulau lain di Indonesia terjadi.

***

70 tahun sebelum 1998, tepatnya 27-28 Oktober 1928, pemuda Indonesia melaksanakan kongres di Jakarta. Disana bertemu para pemuda yang membawa bersamanya api nasionalisme Indonesia. Bahwa nasionalisme sebagai anti tesa kolonialisme; mengganti pemerintah penjajah dengan pemerintah sendiri bangsa Indonesia. Lahir dan bertanah air satu, tanah air Indonesia, dari sumatera sampai ke Ambon dan berbahasa Indonesia.

Teks sumpah pemuda ditulis oleh Moehammad Yamin. Disetujui peserta yang hadir mewakili berbagai organisasi pemuda yang sudah terbentuk terlebih dahulu. Berikut petikan sumpah itu :

Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu,

tanah air Indonesia.

Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu,

bangsa Indonesia.

Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbahasa yang satu,

bahasa Indonesia.

                                                            Jakarta, 28 Oktober 1928

Nasionalisme menjadi identitas perjuangan. Ibarat kebun kosong yang sudah berpagar, memberi kesempatan kepada semua spectrum untuk bercocok tanam. Menanam pohon mereka masing-masing dan merawat kebhinekaan ini. Membawa Indonesia kearah yang lebih maju, berdaulat, adil dan makmur.

Sejak 1928, tak ada perdebatan tentang bentuk dan sistem negara. Seakan tidak perlu. Persis pertanyaan saya pada 1999 di Pusong, Lhokseumawe, kepada Ismail Saputra tentang bentuk negara setelah kemerdekaan Aceh. Ismail Saputra, seorang pejuang GAM (Gerakan Aceh Merdeka) menjawab, “Itu tidak penting. Yang penting Aceh merdeka terlebih dahulu, dan bentuk kenegaraan kita serahkan kepada masyarakat untuk menentukannya”.

Memang, sesuatu yang detail berpotensi merumitkan. Memancing perdebatan, dan khawatir akan ramai yang tidak setuju. Pada akhirnya, awai bak dawa, buet pih han jadeh (diawali dengan debat, dan setelah itu tak bergerak apapun).

Cerita melayu memang sering berakhir tragis diujung. Cerita Indonesia sejak 1908 sampai 2014 banyak berakhir tragis bahwa revolusi dan perubahan selalu memakan anaknya sendiri. Kenapa? Karena kita tak suka kerumitan diawal.

***

Teks sumpah mahasiswa Indonesia menjadi pembanding teks sumpah pemuda Indonesia. Semangat nasionalisme pemuda 1928 dilabrak semangat universalisme mahasiswa 1998. Bahwa, identitas yang menyatukan kita bukan didasari tumpah darah atau tempat kita dilahirkan. Bukan kesamaan bahasa yang biasa kita pakai bertutur. Juga, bukan lantaran kebangsaan yang tertulis di KTP dan Paspor kita.

Identitas kita melampaui batas negara, bangsa, bahasa, warna kulit dan agama. Kita dipersatukan oleh universalitas yang selalu anti kepada penindasan, cinta keadilan dan gandrung kebenaran. Begitu arti sumpah mahasiswa 1998, sumpah yang memikul subtansi pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Dimanapun diseluruh dunia, kita dipersatukan oleh semangat universalitas.

Mahasiswa Indonesia 1998 mengingatkan para pendahulu serta pemimpin generasi tua, bahwa semangat nasionalisme kita telah banyak merengut nyawa manusia. Telah banyak merampas kebebasan manusia Indonesia. Semangat nasionalisme kita telah menggiring Tan Malaka, Muso, Amir Syarifuddin, D.N Aidit dan Karto Suwiryo kedepan regu tembak Tentara Nasional Indonesia.

Atas nama nasionalisme, Daud Beureueh sang pelopor Indonesia di Aceh harus hidup terasing dalam tahanan rumah di Jakarta. Syahrir, seorang arsitektur kemerdekaan juga mengalami nasib sama. Dipenjara lantaran pikiran yang berbeda tentang Indonesia.

Setelah merdeka, negeri kita bergerak seperti drakula. Memangsa siapapun yang menolak untuk seragam. Bahkan tak seperti bayangan kami tentang mimpi Indonesia setelah 1998, Indonesia tanpa darah, Indonesia yang selalu memfasilitasi perbedaan, menghargai satu sama lainnya dalam bingkai demokrasi dan humanisme.

Apakah nasionalisme kita? Nasionalisme kita tidak sempit, tapi luas dan universal. Membaca tulisan dan pikiran tokoh-tokoh pendiri nasionalisme Indonesia, dapat dimengerti nasionalisme kita berangkat dari semangat pembebasan. Bukan nasionalisme dalam arti asoe lhok.

Benih nasionalisme Indonesia tumbuh dari kesadaran anti feodalisme, anti penindasan oleh bangsa sendiri atau bangsa luar. Nasionalisme Indonesia berangkat dari kesadaran pribumi, bahwa anak bangsa tak perlu berjalan jongkok didepan tuan feodalnya. Tak perlu menundukkan kepala ketika berhadapan dengan tuan Hindia Belanda. Nasionalisme kita lahir dari semangat anak priayi yang sudi melepas kefeodalan-nya untuk nilai persamaan manusia, persis seperti Minke dalam Tetralogi Buru Pramoedya Ananta Toer.

Orde baru memutar balik semuanya. Kita dipaksa menyanyikan Indonesia Raya, dan memberi hormat kepada bendera merah putih dengan semangat wright or wrong is my country. Kita dituntut berkorban untuk negara. Termasuk berkorban supaya tidak berkata benar, karena kebenaran akan membuat negara ini malu.

Saya masih ingat, bagaimana negeri ini memberi stigma ‘tidak nasionalis’ kepada Sri Bintang Pamungkas dan Nuku Sulaiman dari Pijar lantaran demontrasi mereka di luar negeri dinilai pemerintah memalukan Indonesia.

Disisi lain, tak pernah ada stigma apapun kepada TNI/Polri diera lampau yang melakukan pembunuhan terhadap anak negeri lantaran pendapat yang berbeda dengan kekuasaan. Ketika inilah kita berfikir nasionalisme itu perlu penyesuaian makna sesuai spirit universalitas para pendiri negeri ini. Dan mahasiswa Indonesia tahun 1998 membuktikan itu dengan mengubah syair sumpah pemuda dengan nuansa universalisme.

Memang, kekuasaan senantiasa bertindak menjadi penerjemah sah tentang nasionalisme suatu negeri. Ketika itulah kita merasa nasionalisme itu menjadi sempit, sesempit kekuasaan itu sendiri.

Banda Aceh, 28 Oktober 2014