Sinergisitas Narasi Mahasiswa Dalam Mengawal Isu Kekinian

Beberapa minggu lalu dibulan Oktober 2019, saya diundang mahasiswa IAIN Lhokseumawe untuk memberi materi tentang “Sinergisitas Narasi Mahasiswa Dalam Mengawal Isu Kekinian”. Acara ini turut mengundang pimpinan lembaga mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi di Aceh.

Lazimnya, pemateri menyampaikan makalah yang sudah terketik dihadapan hadirin. Saya tak melakukannya, karena memang tak menyediakan makalah tertulis untuk disampaikan pada acara tersebut. Saya hanya memaparkan beberapa pokok pikiran tanpa teks, yang sudah saya siapkan sebelumnya. Apa-apa saja yang akan menjadi stressing point saya dihadapan anak-anak muda, para harapan kita semua.

Kali ini, hasil dari pemaparan tersebut saya salin dengan penyesuaian pada beberapa hal; menambah dan mengurangi. Jadilah tulisan ini yang saya posting di website pribadi saya.
Selamat Membaca!

***

Sinergi ialah keserasian dalam keberagaman.

Sinergi sebagai bentuk persatuan gerak yang berangkat dari keberagaman objektifitas. Ibarat mobil yang memiliki lebih dari seribu keanekaragaman komponen. Mulai dari besi sasis, kaca, pintu, sampai pada baut dan kabel yang terkecil. Semua memiliki pengaruh sama, menyumbang fungsi untuk bisa disebut mobil. Itulah harmoni sebuah sinergisitas. Saling melengkapi dan menguatkan.

Sinergisitas memiliki makna aktif, bukan pasif. Ia jelmaan sebuah gerak. Bisa karena gerak yang disengaja maupun bersinergi sendiri tanpa faktor kesengajaan, bergerak seperti air yang spontan bersinergi mencari tempat yang rendah. Terjadi sebab didorong oleh hukum alam yang objektif adanya. Begitu juga sinergisitas dalam masyarakat dan negara. Tanpa perlu rekayasa sosial, tanpa perlu kepemimpinan dan tanpa sistem sosial apapun. Bisa bergerak sendiri apabila memang realitasnya memenuhi unsur-unsur hukum alamiah yang objektif.
Hukum alamiah ini disebut dengan kematangan situasi objektif. Setiap revolusi atau gerakan sosial politik diseluruh dunia selalu menimbang-nimbang kematangan situasi objektif untuk melakukan gerakannya.
Setelah menimbang, diujung kalimat mereka selalu memutuskan; “Inilah saatnya, kematangan revolusioner sudah tiba. Mari bergerak!”. Atau sebaliknya, “Situasi belum matang. Kita tak boleh memajukannya. Kita akan kalah!”.

Persis seperti pemuda pimpinan Wikana di Rengasdengklok yang memaksa Soekarno-Hatta segera mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia, setelah mengetahui Jepang kalah pasca Hiroshima dan Nagasaki diluluhlantak bom atom sekutu.
Inilah yang disebut dengan kematangan situasi atau kematangan semesta. Kita tinggal mensinergikan saja, lalu memimpin kematangan tersebut.

Ada juga barometer kesalahan dalam memahami kematangan sebuah situasi, yang fatal dan mengakibatkan kekalahan langkah politik. Misalnya, Gerakan 30 September 1965 di Indonesia. Partai Komunis Indonesia salah membaca situasi politik dalam tubuh angkatan darat.

Kesalahan membaca realitas sosial ini biasa kami sebut sebagai tindakan reaksioner. Gegabah membaca tanda zaman yang pastinya mengenyampingkan hal-hal objektif dari realitas itu sendiri.
Meski begitu, realitas sebagai hasil dari refleksi sebuah keadaan dan kesadaran dalam masyarakat, bisa direkayasa, bisa diciptakan, bisa didesain dan pula bisa dimanipulasi.

Pastinya dengan mengikuti kaedah-kaedah hukum perkembangan sebuah masyarakat. Disini dibutuhkan kecerdasan dan sinergisitas semua kalangan untuk sebuah tujuan yang menjadi keyakinan bersama.

***

Apa yang bisa menyatukan manusia?

Berangkat dari pemikiran Harari, narasilah yang bisa menyatukan manusia. Narasi yang bisa memanipulasi pikiran manusia. Mendominasi manusia sampai ia merasa berkepentingan terhadap sesuatu, kemudian berfikir harus menciptakan, melawan atau mendukung.
Andai monyet punya kemampuan sama seperti manusia dalam hal mengarang narasi, mereka bisa jadi memiliki negara sendiri di bumi ini, masih kata Harari.
Narasi yang kemudian melahirkan aneka persepsi dalam masyarakat, menggerakkan sinergisitas yang bermuara pada gerakan perubahan.

Dalam prespektif atheisme, Islam dan atau agama-agama lain adalah narasi yang terbukti mampu menyatukan manusia dari segala suku bangsa, bahasa, warna kulit dan kebudayaan. Islam mampu merekatkan solidaritas sesama muslim, sama-sama menghadap kiblat, berpuasa dan berhaji. Islam menjadi narasi yang universal.

Begitu juga Indonesia. Terdiri dari bermacam kebudayaan, beragam agama dan kepentingan. Lalu, narasi kebangsaan menyatukan sinergi semua yang ada didalamnya, bahwa kita adalah Indonesia. Serta-merta suku Dayak di Kalimantan merasa sepersaudaraan dengan suku Jawa yang jauh di seberang laut, daripada sesama suku Dayak di Sabah, Serawak dan Brunei Darussalam, yang masih satu pulau dan satu kebudayaan.

Begitulah hebatnya sebuah narasi yang lahir dari persepsi-persepsi masyarakat.

***

Ketika ada pertanyaan bagaimana sebuah gerakan kita mulai?

Jawabnya, kita memulai dengan menciptakan narasi. Dengan bahasa lain; menciptakan gagasan.
Bagaimana narasi atau gagasan bisa kita ciptakan?
Apakah sama seperti mamak-mamak membuat adonan kue didapur?
Iya. Kurang lebih begitu.

Narasi terbagi dua. Pertama, narasi yang lahir sendiri sebagai akibat terjadinya dialektika dalam keseharian disekitar kita. Kita menyebutnya narasi objektif, karena berdasar pada situasi riil disekitar kita. Narasi yang lahir sendiri akibat dialektika objektif dari pertentangan dan harmoni, komponen-komponen kuat dan lemah dalam masyarakat.

Kedua, narasi yang diciptakan, dipropagandakan, digagas, baik secara sadar maupun menggunakan instrumen represi. Yang dalam waktu tertentu akan menjelma menjadi narasi kebenaran. Antonio Gramsci menyebut dengan istilah hegemoni.

Adolf Hitler menulis dalam autobiografinya, bahwa kebohongan yang diulangi secara terus menerus, hingga pikiran manusia akan mempercayainya. Kebohonganpun diterima sebagai kebenaran.
Pada tataran praksis Ali bin Abi Thalib mengatakan “Kejahatan yang terorganisir akan mengalahkan kebaikan yang tidak terorganisir”
Apapun gagasannya, ketika suatu narasi tidak diperjuangkan atau tidak digerakkan, narasi tersebut akan mati. Untuk itu sebuah narasi memiliki konotasi aktif bukan pasif.

***

Bagaimana menyatukan narasi?
Bagaimana mensinergikan narasi?
Sekali lagi, ini merupakan pertanyaan yang menuntut kita melakukan kerja aktif.

Kita perlu menjajakan narasi yang kita miliki menjadi narasi bersama. Bukan narasi saya dan kamu.

Semakin objektif sebuah narasi, semakin mudah kita mensinergikan narasi tersebut dengan berbagai kalangan. Karena objektif dengan semua kepentingan. Apalagi bila kita yakin bahwa manusia lebih dominan digerakkan oleh kepentingan-kepentingannya daripada kesadaran semu, yang terlihat objektif dipermukaan.

Bagaimana menilai, objektif atau tidakkah sebuah narasi?
Ilmu pengetahuan saat ini sudah menemukan metode yang bisa dipertanggungjawabkan secara pasti dan tepat. Sebagai contoh, melakukan survey untuk mencari masalah dalam masyarakat. Mencari juga apa yang dipikirkan masyarakat. Lalu, memberi solusi objektif terhadap masalah tersebut. Kemudian, disosialisasikan menjadi narasi bersama untuk diperjuangkan secara bersama pula. Dalam tataran perjuangan kita membutuhkan persatuan dan sinergisitas.

Pengalaman politik Nabi Muhammad SAW, beliau mempraktekkan politik koalisi antar komponen. Kerjasama antar suku, agama, muhajirin, dan ansar dalam rangka melawan oligarki Makkah yang setiap saat bisa saja melakukan invasi ke Madinah.

Koalisi adalah ikatan kerjasama dan persatuan dari berbagai elemen kelompok kepentingan, yang terikat dalam sebuah narasi perjuangan. Pada masa Nabi narasi itu dibahasakan kedalam perjanjian bersama; Piagam Madinah.

Sebagai sebuah refleksi dari situasi objektif kekinian, sebuah narasi akan terus bergerak. Tidak statis. Sebuah narasi akan dipertentangkan dengan realitas-realitas baru, sehingga narasi tersebut menyesuaikan diri dengan realitas yang ada. Bila tidak, maka narasi tersebut akan mati.

Maka beberapa ideologi di dunia memperkenalkan term “edisi revisionis”.
Artinya, membaca kembali pikiran lama dengan realitas kekinian. Menemukan penyesuaian baru sesuai zaman.

Dilihat dari bagaimana sebuah narasi mempersatukan berbagai kelompok kepentingan yang beragam, kita bisa membagi narasi kedalam dua kategori; Narasi Umum dan Narasi Khusus.

Rumusnya: menghormati narasi-narasi khusus, bersepakat dengan narasi-narasi khusus dan mempersatukan diri dengan narasi umum, yang menjadi kesepakatan umum di lintas kepentingan.

Untuk itu narasi umum perlu melindungi narasi-narasi khusus. Dalam bahasa lain, narasi umum bisa menjadi jawaban pencapaian narasi khusus. Niscaya, sinergisitas itu akan muncul.

Penting menghormati setiap perbedaan dan bersepakat dengan perbedaan. Kemudian meminta kesepahaman setiap elemen berbeda tersebut dan menyetujui suatu hal yang kita sebut pemufakatan bersama yang besar. Artinya, meninggalkan perbedaan-perbedaan kecil demi mencapai konsensus yang besar.

Secara objektif, kita tidak bisa memaksa orang lain bersepakat dengan konsensus bersama yang sifatnya lebih besar, ketika kita tidak bisa bersepakat dengan hal-hal kecil. Yang mana, hal kecil itu adalah kesepakatan antara anggota kelompok yang kita ajak dalam jamaah lebih besar. Piagam Madinah tak akan lahir tanpa ada pengakuan Nabi Muhammad SAW terhadap Yahudi, Nasrani dan suku-suku Arab yang berdiam di Madinah.

Gerakan mahasiswa tidak akan mendapat dukungan rakyat, apabila narasi perjuangannya tidak bersangkutan dengan kepentingan masyarakat. Ketika mahasiswa berjuang menuntut rektorat menyediakan tempat parkir bagi sepeda motor di kampus, tentu narasi ini hanya menarik perhatian para mahasiswa dan dosen yang memiliki sepeda motor saja.

Jangankan menarik dukungan rakyat, menarik dukungan dari kalangan mahasiswa tak bermotor juga sulit. Inilah yang saya sebut dengan narasi khusus yang sifatnya kecil. Yaitu narasi yang hanya mampu melayani kepentingan-kepentingan kecil. Pastinya tak akan kuasa menjadi narasi umum, yang sifatnya besar dan mampu menarik dukungan yang lebih besar.

Ketika mahasiswa bergerak menuntut biaya pendidikan diturunkan, gerakan ini akan didukung seluruh mahasiswa, juga didukung para orang tua mahasiswa, kalangan umum yang tertarik untuk kuliah atau menguliahkan anaknya, bahkan akan didukung oleh para dosen yang punya anak berstatus mahasiswa. Dukungannya sudah ditataran medium.

Bayangkan ketika kita bisa menemukan narasi lebih besar lagi, pasti akan menarik elemen lebih luas untuk terlibat. Semakin umum yang terlibat, semakin memudahkan komponen yang sedang berjuang.

Pada tataran praktek perjuangan, juga perlu diberi ruang emansipasi seluas-luasnya, baik kepada personal para pejuang maupun kelompok yang terlibat. Setiap personal maupun kelompok pasti memiliki interes-interes kecil dalam berjuang. Selagi tidak merugikan kepentingan bersama yang besar, sebaiknya interes-interes kecil tersebut dinaungi saja sehingga memperkuat interes yang besar. Karena interes yang besar selalu merupakan gabungan dari interes-interes kecil.

Selamat Mencoba!

Banda Aceh, 22 Oktober 2019