Selamat Datang Mahasiswa Baru di Kampus Perlawanan Rakyat

Lima belas tahun lalu, kalimat diatas menjadi tulisan selembar spanduk yang digantung di pintu gerbang Darussalam. Tepatnya, disimpang jalan Inong Balee, depan fakultas ekonomi Unsyiah.

Spanduk itu ditulis oleh Solidaritas Mahasiswa Untuk Rakyat (SMUR) dalam rangka menyambut peserta Ordikmaru (Orientasi Pendidikan Mahasiswa Baru) yang dilaksanakan abang-abang pengurus senat Unsyiah dan IAIN Ar-Raniry. Senat Mahasiswa, sebutan era 1999 kebawah kepada lembaga Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM).

Tidak hanya spanduk, SMUR juga memproduksi selebaran dan terbitan pers mahasiswa dengan tema yang sama. Mengajak “teman baru” bergabung dalam organisasi perlawanan mahasiswa.

Ini cara yang dilakukan SMUR. Menyambut mahasiswa baru yang dilihatnya sebagai amunisi baru perlawanan terhadap pemerintah. Organisasi ini dari awal tidak setuju dengan pelaksanaan Ospek –istilah tenar Ordikmaru. Kegiatan tersebut dinilai terkesan militeristik, hura-hura dan mengangkangi prinsip egalitarian yang diusung SMUR.

***

Kini, setelah lima belas tahun berlalu. Saya diundang Himpunan Mahasiswa Jurusan Hukum Pidana Islam, Universitas Islam Ar-Raniry, untuk memberi motivasi kepada adik-adik baru yang masuk ke jurusan yang pernah menjadi bidang studi saya dahulu.

Ada kebanggaan sekaligus kebingungan untuk menyampaikan motivasi kepada teman-teman yang baru menjadi mahasiswa. Seumur hidup tak pernah menjadi mentor Ordikmaru apalagi motivator.

Saya bukan sosok patut dicontoh secara akademik. Posisi legislator yang saya jabat nanti tidak bisa dinilai sebagai karir. Sejak menjadi aktivis, saya tidak pernah bercita-cita menjadi legislator.

Karir adalah sesuatu yang harus dirintis sedari awal. Seseorang harus dengan sadar menetapkan cita-cita, merancang cara mencapainya, serta berjuang untuk mendapatkannya. Perjuangan meraih cita-cita biasanya bersifat runut atau linier.

Lantas apa yang harus saya katakan?. Dalam setiap pendidikan politik tingkat dasar SMUR, saya selalu mengatakan, pendidikan adalah alat negara dalam melakukan pembodohan. Jika seseorang ingin pintar, maka tinggalkan sekolah karena lembaga pendidikan merupakan alat hegemoni negara. Saya menyadur pikiran Paulo Freire; sekolah itu candu.

Negara menciptakan sekolah dan universitas. Merancang kurikulum, membangun jenjang pendidikan dan melaksanakan pendidikan umum. Semuanya diperuntukkan untuk mengabdi kepada sistem yang dibangun negara.

Pikiran ini terkesan ekstrim. Apalagi menilai pakai cara pikir orde baru. Paulo Freire jujur dalam menjelaskan situasi dan masalah tentang peran pendidikan dibawah kekuasaan otoriter. Ketika pikiran itu dilekatkan pada kekuasaan orde baru menjadi sangat sesuai.

Beruntung sekali bagi yang pernah hidup dan merasakan kekuasaan otoriter Soeharto. Pengalaman itu menjadi empirik saat dihadapkan pada tulisan-tulisan tentang otoritarianisme. Membuat saya mudah mengerti arti kekuasaan despotik.

Tiga puluh dua tahun kekuasaan orde baru, dunia pendidikan menjadi mesin efektif membungkam inovasi dan kreatifitas bangsa. Menciptakan kebudayaan bisu. Penguasa tiba-tiba menjelma menjadi Tuhan. Membuat masyarakat tunduk dan taat kepadanya. Membuat masyarakat tidak berani dan tidak bisa mempertanyakan keberadaannya. Akhirnya, menjadi fatalistik seakan inilah qadha dan qadar.

Sekolah ialah alat mobilisasi politik orde baru. Guru dan dosen setiap lima tahun menjelma sebagai juru kampanye Golkar. Sumber-sumber ilmu lainnya, seperti media massa, cetak ataupun eletronik, menjadi alat propaganda kekuasaan. Menjadi transmitor kebudayaan yang pasif.

Paulo Freire menawarkan solusi rekontruksionisme; merombak yang lama dan membentuk yang baru. Menjadi klop saat pikiran ini dihadapkan dengan nasionalisme Aceh yang sedang tumbuh. Disanalah saya pernah menempatkan diri, meninggalkan bangku kuliah bergabung bersama gelombang besar gerakan perubahan Aceh.

***

Mahasiswa menurut terminologi kelas dalam masyarakat –meminjam analisa Karl Marx- berada pada persimpangan. Tidak bisa dikategorikan sebagai massa proletariat atau bourjuasi; penindas atau ditindas. Dalam terminologi penguasaan ekonomi, mahasiswa tidak bisa dikategori sebagai kelompok kepentingan, atau kelompok yang secara lansung menjadi penderita utama dari kedhaliman kekuasaan.

Sepintas menurut analisa determinisme ekonomi, mahasiswa dikategorikan sebagai elemen masyarakat yang masih bergantung kepada orang tua dalam pembiayaan kehidupan. Kebanyakan berangkat dari keluarga kelas menengah. Mahasiswa kelompok masyarakat yang bisa saja sedang mempersiapkan diri menjadi bagian dari kekuasaan yang menindas. Mengejar mimpi yang dipropagandakan kekuasaan.

Oleh sebab itu, dari dulu saya bukan sosok yang mengagung-agungkan mahasiswa sebagai agen perubahan sosial. Daya tahan perlawanan mahasiswa sangat terbatas menimbang jenjang waktu menjadi mahasiswa juga terbatas. Lebih daripada batas tersebut akan terancam drop out.

Apakah bisa diharap mahasiswa menjadi agen utama perubahan sosial dan politik? Tentu tidak. Mahasiswa tidak mewakili kelompok yang teradikalisasi oleh situasi yang ada. Lagi pula, dunia sekarang berbeda sekali dengan situasi lampau yang melahirkan teori determinisme ekonomi ala Karl Marx dan pendidikan membebaskan ala Paulo Freire yang menjelaskan situasi negeri-negeri dibawah pemerintahan diktator.

Yang dihadapi Paulo Freire adalah kebudayaan bisu; negara yang otoriter, media dikontrol, masyarakat miskin dan buta huruf. Lembaga pendidikan bertindak sebagai perpanjang tanganan kekuasaan, serta seluruh institusi masyarakat bekerja melayani kekuasaan. Wajar jika kemudian, perlu adanya gerakan rekontruksi radikal dunia pendidikan.

Aceh kekinian berbeda dengan Aceh ketika konflik masih berkecamuk. Pilihan saat itu, tidak ada lain kecuali meninggalkan ruang-ruang kuliah, berjuang untuk situasi yang lebih baik. Situasi kini tidak memiliki alasan kuat untuk memilih berada diluar ruangan kuliah untuk alasan totalitas perjuangan perubahan sosial politik masyarakat.

Aceh saat ini, partisipasi politik lokal melalui partai lokal terbuka sangat lebar. Begitu juga partisipasi politik untuk nasional mahupun internasional. Masyarakat bisa mudah, bebas dan merdeka mengepresikan pikiran dan keyakinan politiknya. Pola perjuangan tak perlu seribet dahulu. Harus demo kesana dan kemari lantaran melakukan kampanye mencari dukungan masyarakat.

Saat ini karakter kekuasaan cenderung terbuka dan demokratis. Sistem politik demokrasi Indonesia sudah memperlihatkan kekuatannya melalui partisipasi politik yang setiap tahunnya tumbuh menggembirakan. Hal paling istimewa adalah kemajuan teknologi informatika mempermudah emansipasi politik masyarakat dalam membangun kesadaran sosial bersama dan mobilisasi politik maha dasyat.

Melakukan gerakan tak perlu lagi selebaran karena sudah terganti dengan facebook dan twitter. Tak perlu lagi pidato kesana dan kemari sebab ada fasilitas youtube. Semua bisa dilakukan dengan mudah, efisien dan efektif.

Kemudahan teknologi membuat ibu rumah tangga bisa turut serta dalam gerakan perubahan sosial tanpa meninggalkan rutinitas perkerjaan rumah. Begitu juga masyarakat pekerja kantoran, guru dan elemen professional lainnya. Apalagi seorang mahasiswa tak harus lagi meninggalkan bangku kuliah hanya untuk cita-cita perjuangan layaknya romantisme Che Guevara.

Mahasiswa punya dua tanggungjawab yang seimbang; menyelesaikan kuliahnya dan turut serta dalam emansipasi perjuangan perubahan sosial. Kemudahan teknologi memungkinkan keseimbangan ini dapat dipraktekkan.

***

Lantas, apakah mahasiswa tidak memiliki nilai tawar apapun dalam perubahan masyarakat? Kekuatan mahasiswa, ia berada dalam bank ilmu pengetahuan. Penghafal dogma kebenaran. Sekaligus penganut idealisme. Kelebihannya lagi, mahasiswa bukan kelompok langsung yang bersentuhan dengan kepentingan ekonomi dan politik. Oleh sebab itu, mahasiswa dan dunia akademik ditabal sebagai simbol moral masyarakat. Suara universitas adalah perwakilan moral masyarakat.

Untuk itu, mahasiswa perlu berbagi peran dengan elemen masyarakat lain dalam konstribusi melakukan perubahan tanpa perlu ada perasaan megalomania seakan-akan diutus menjadi pemimpin perubahan.

Perjuangan perubahan di era post modernisme tidak lagi menitik beratkan satu dua elemen sebagai pilar utama perubahan. Perjuangan sekarang tidak memerlukan lagi simbol tunggal baik perseorangan mahupun organisasi. Era sekarang hubungan manusia bergerak ke arah semakin setara, otonom serta menghormati kebebasan individu. Membuat perubahan dapat terjadi ketika masing-masing sektor mengambil perannya sendiri.

Selain memberi sumbangsih terhadap perubahan, mahasiswa adalah elemen transisional menuju masyarakat kelas menengah, sebelum menjadi kelas atas dalam evolusi masyarakat kapitalisme periode yang berbeda dengan kapitalisme awal abad ke-20. Tujuan evolusi masyarakat kita bergerak ke arah peningkatan jumlah kelas menengah dalam masyarakat. Kelas menengah yang mandiri dan otonom. Mahasiswa baru perlu mempersiap diri menyonsong pertumbuhan ekonomi yang tak bisa dielakkan. Anda-anda perlu memberi warna baru dalam perkembangan kapitalisme dunia sehingga tidak pernah lari dari spirit kemanusiaan.

***

Tentu pikiran lama saya sudah tidak relevan lagi untuk kondisi saat ini. Saya perlu merevisi pandangan terdahulu yang banyak dipengaruhi cara pikir determinisme ekonomi.

Kini, saya mengerti kapitalisme merubah cara kerjanya, memperbaharui kebudayaannya sesuai gerak pasar dan corak hubungan produksi bahwa dunia ini tidak segampang mendefinisikan orang miskin dan orang kaya serta menafikan faktor kesadaran sosial.

Pemilik modal dalam masyarakat kapitalisme tidak lagi berdiri sendiri, melainkan bagian dari kompleksitas struktur masyarakat yang lebih luas. Melibatkan berbagai aspek, seperti pengetahuan dan teknologi, kebijaksanaan politik pemerintah, penanaman modal dan kapital multinasional.

Para kapitalis bukan lagi pemilik modal tunggal. Bisa saja dia menjadi pengabdi kepada kapitalis yang lainnya, mendapat pinjaman bank dan kerjasama-kerjasama ekonomi yang belum tentu adil dalam membagi keuntungan. Disanalah peran negara menjadi penengah diantara keragaman kompleksitas masyarakat kapitalisme. Negara mendapat mandat itu bukan dari jalur paksaan tetapi dari legitimasi warga yang memiliki pendapatan ekonomi yang juga berbeda-beda.

Hasil eksploitasi ekonomi yang terjadi akibat hubungan modal dalam masyarakat kapitalisme modern tidak semata-mata dimiliki orang kaya. Melainkan terdistribusi dikalangan kelas menengah lainnya; dalam bentuk bunga bank, asuransi, pajak, dan proyek-proyek penelitian. Lalu, pajak didistribusikan untuk banyak hal seperti menanggung pembiayaan negara melaksanakan fungsi keamanan, pendidikan, kesehatan, jaminan sosial bahkan kegiatan non negara seperti berkesenian, beasiswa, dan berkebudayaan.

Kelas-kelas dalam masyarakat yang saling berkonflik di awal kapitalisme, akan berubah menjadi saling berkompromi. Identitas kelaspun hilang membentuk fragmentasi kesadaran masyarakat. Misalnya, negoisasi upah minimum rendah, pemungutan pajak dan stabilisasi harga barang. Pada aktivitasnya dipengaruhi oleh kompromi politik di lembaga-lembaga legitimasi yang terbentuk akibat proses dialektika kesadaran masyarakat dan bernegara.

Dengan kompleksitas corak ekonomi mutakhir, maka perubahan sosial tidak lagi terfokus pada gerakan masyarakat miskin. Melainkan pada keseluruhan komponen dalam masyarakat.

Pada masyarakat demokrasi liberal, struktur sosial terbentuk karena peran ekonomi dan kesadaran sosial masyarakat. Kedua hal ini diserahkan sukarela oleh masyarakat kepada negara melalui mekanisme demokrasi. Kemudian, negara melaksanakan kesadaran sosial tersebut sebagai sebuah kebijakan Negara.

Kesadaran sosial ini bersifat historis, temporal dan fruktuatif. Kontruksi dan rekontruksi sosial dibangun berdasarkan reaksi atas kepentingan momen tertentu dan hanya membentuk aliansi-aliansi sementara. Gerakan perlawanan bukan lagi tentang kelas dalam masyarakat, tetapi hal yang lebih luas lagi. Pelaku perlawanan bisa mencakup kelompok sosial lain diluar orang-orang miskin. Bisa kelas menengah dan kaum intelektual.

Setiap orang bisa terlibat dalam proses perubahan sosial. Disanalah anda sebagai mahasiswa dapat turun tangan bersama elemen-elemen lain menggelindingkan perubahan sehingga evolusi dunia bergerak dengan cepat kearah yang lebih baik.

Banda Aceh, 29 Agustus 2014