Referendum Scotlandia

Darah dan air mata, persembahan cita-cita nasionalisme yang disajikan dalam banyak cerita tentang kemerdekaan.

Hal ini tidak terjadi di Scotlandia. Jajak pendapat atau referendum digelar 18 September 2014. Negeri dengan 5,2 juta penduduk ini mengambil keputusan “lebih baik bersama – Better together” daripada menjadi negara sendiri. Hanya 46% suara yang mengatakan “Yes” untuk Scotlandia merdeka.

Inilah akhir perjuangan kelompok pembebasan Scotlandia. Berjuang turun temurun sejak 1296, saat Raja Inggris Edward I berhasil menancapkan kekuasaannya di Scotlandia. Menjadikannya bagian Britania Raya. Sejak itu, perjuangan pembebasan yang berangkat dari karakter “kebanggaan akan Scotlandia” mengalami pasang surut kemenangan dan kekalahan.

Scotlandia dan Inggris menjadi kerajaan yang bersatu –univikasi– dibawah undang-undang bersama tahun 1707. Isinya, membubarkan parlemen Scotlandia serta membentuk parlemen bersama. Penyatuan ini bagi Scotlandia merupakan langkah pragmatis sekaligus rasional, untuk menghindar dari kebangkrutan kerajaan akibat proyek gagal Darien dalam melakukan koloni di Panama.

Dengan bersatu, negeri penghasil wiski terbaik ini bisa memperbaiki ekonomi negerinya, serta memiliki akses penggunaan semua pelabuhan di negeri jajahan Inggris.

Pada Mei 1999, untuk pertama sekali rakyat Scotlandia memiliki parlemen sendiri yang terpisah dari Inggris. Tony Blair, Perdana Menteri -saat itu- menunaikan janjinya. Dan partai buruh memenangkan kursi mayoritas mengalahkan partai lokal Scotland National Party yang berjuang untuk kemerdekaan Scotlandia.

Sejak itu, Scotlandia menjadi pemerintahan sendiri. Pemerintah pusat di London memberi banyak kewenangan kepada parlemen Scotlandia untuk mengatur perihal dalam negerinya. Di bidang hukum, Scotlandia memiliki yurisdiksi hukum publik dan privat yang berbeda dengan apa yang berlaku di wilayah lain Inggris; Wales dan Irlandia. Begitu juga kebebasan agama dan sistem pendidikan yang tersendiri.

Mei 2011, Partai Nasional Scotlandia memenangkan pemilihan parlemen. Kemenangan ini memancing partai lokal tersebut melaksanakan jajak pendapat penentuan nasib bangsanya; apakah menjadi negara merdeka atau bagian istimewa dalam kerajaan Inggris. Hasilnya ialah lebih baik bersama Inggris.

Bagi orang Aceh dan Indonesia, keputusan ini membuat kita terkejut. Ada kesepahaman umum seakan-akan kelompok pejuang pemisahan diri selalu menang dalam referendum. Kesimpulan ini salah di Scotlandia.

Kejadian yang sama di Quebec. Disana juga memiliki kelompok masyarakat yang berjuang memisahkan diri dari Kanada. Dalam referendum yang digelar kedua kalinya pada 1995, masyarakat Quebec masih setia memilih bersama Kanada daripada mendirikan negara sendiri.

Ada banyak pertimbangan memilih mendirikan negara sendiri atau tetap menjadi bagian dari negara yang sudah mapan, dengan fasilitas keistimewaan politik dan ekonomi. Ada banyak pertanyaan, debat dan kekhawatiran menjelang jajak pendapat dilaksanakan.

Pertanyaan umumnya, akan seperti apa ekonomi negeri peniup bagpipes ini setelah menjadi negara merdeka?. Akankah kemapanan yang selama ini dirasakan masyarakat menengah keatas masih bisa dinikmati setelah Scotlandia merdeka?. Atau jangan-jangan akan membuat Scotlandia tambah mundur dari kemajuan yang ada.

Kelompok pro integrasi menyebarkan kampanye yang menyulut kekhawatiran dikalangan pemilih. Membuat mereka tidak berani berjudi dengan masa depannya dan masa depan kolektifnya. Pertimbangan ekonomi menjadi alasan utama masyarakat memilih tetap bersama kerajaan Inggris. Pertarungan dalam jajak pendapat yang demokratis ini adalah kemampuan menaklukkan opini, siapa yang mampu menaklukkan dan menguasai rasionalitas publik, maka dialah pemenang sesungguhnya.

Dengan merdeka, mata uang Pound sterling dan dua bank besar dinegeri itu akan kembali ke Inggris. Banyak pemodal besar dan pelaku bisnis khawatir dengan kejelasan masa depan usaha mereka dibawah negara baru yang merdeka. Tidak ada yang mampu menjelaskan kekhawatiran ini. Akhirnya, mereka memilih ambil jalan aman. Tetap bergabung bersama Inggris.

Sekilas memang prakmatis, namun rasional. Mendirikan negara, tidak cukup dengan modal emosi, kebanggaan akan kepahlawanan masa lalu, dan pemujaan simbol-simbol kebangsaan. Negara modern tidak cukup dengan itu.

Masyarakat modern selalu menggantungkan kepentingannya atas dasar rasionalitas dan objektifitas. Yang selalu menjadi pertimbangan dalam mendirikan negara ialah masa depan pasca kemerdekaan. Tentang tatanan ekonomi, kebebasan politik, dan kebanggaan bersama atas modernitas yang telah mereka dapat. Semangat kebanggaan romatisme masa lalu tidak menjadi ukuran penting. Masyarakat Scotlandia tidak akan mau kembali ke masa lalu. Tetapi, ingin berada dimasa depan yang tentu harus lebih gemilang dari masa lalu. Dengan demikian, mereka memilih tetap bersama Inggris.

“Saya William Wallace. Saya melihat kalian wahai tentara negeriku. Anda datang kesini sebagai laki-laki merdeka. Apa yang dapat kalian lakukan tanpa sebuah kemerdekaan?. Maukah kalian berperang untuk kemerdekaan ini?. Jika kalian ikut, kalian akan mati. Bila kalian lari, setidaknya akan hidup sebentar. Lalu, mati di tempat tidur. Apakah setelah hari ini, kalian bisa menemukan hari seperti hari ini?. Hari yang memberi kesempatan kepada kita, laki-laki muda Scotlandia, bersuara lantang kepada musuh kita, bahwa kalian dapat saja merampas hidup kami, tapi kalian tidak akan mampu mengambil kemerdekaan kami”.

Begitulah suara lantang Mel Gibson yang memerankan William Walles dalam film Brave Heart. Ucapan ini mendeskripsikan heroisme bangsa Scotlandia pada perang di Stirling yang berhasil memukul mundur Inggris. Pertempuran ini menjadi lambang tak pernah mati tentang perlawanan dan kemerdekaan Scotlandia.

18 September lalu, tak ada ucapan seperti ini keluar dari mulut Alex Salmond, pimpinan Scotland National Party, sekaligus menteri besar dan pemimpin pemisahan diri dari Inggris. Tidak ada kata ‘kematian’ dan ‘perang’ dari kedua belah pihak. Yang ada hanya kata ‘merdeka’ untuk semuanya; baik menjadi negara terpisah atau menjadi bagian dari Inggris.

Rakyat Scotlandia dulu dan sekarang masih sama. Gandrung pada kata “freedom” seperti teriakan William Wallace sebelum dieksekusi mati dalam adegan akhir film Brave Heart.

Kemerdekaan yang diinginkan 18 September lalu, tidak lagi dalam makna kewilayahan. Solidaritas nasional yang tumbuh karena sejarah panjang nasionalisme Scotlandia sejak 306 tahun lalu, tidak mengkungkungnya kedalam sekat negara. Arti kebebasan bergerak ke tataran yang tak bisa diterjemahkan secara administratif dan sekat-sekat wilayah. Tujuan kebebasan itu adalah peningkatan taraf hidup masyarakat. Dan cita-cita ini hanya tercapai dengan tetap bersama kerajaan Inggris.

Apapun hasilnya, jajak pendapat ini pertanda kemenangan Inggris sekaligus kemenangan Scotlandia. Dimata masyarakat Scotlandia dan dunia, Inggris menjadi representasi negara demokratis dalam menyelesaikan konflik perjuangan pemisahan diri. Kedigdayaan militer yang dimiliki Inggris tidak memancing negeri ini melakukan operasi militer seperti Indonesia di Timor Leste, Indonesia di Aceh, Indonesia di Maluku, dan Indonesia di Papua.

Semua persoalan dapat diselesaikan dengan musyawarah berlandaskan semangat; bahwa kemajuan dan kemandirian yang didapat pemerintah Scotlandia, adalah bagian dari kemajuan dan kemandirian Inggris secara nasional. Dengan kemenangan ini, pemerintah Inggris melalui Perdana Menteri David Cameron berjanji akan memberi perhatian lebih pada pembangunan ekonomi dan memperluas kekuasaan politik parlemen Scotlandia. Satu lagi nilai tambah kemenangan Scotlandia.

Meski tidak jadi merdeka, masyarakat Scotlandia menjadi pemegang kartu truf inisiatif politik, karena kemenangan kelompok pro integrasi yang tak sampai 10% masih terbilang rawan, jika pemerintah dan rakyat Inggris tidak sungguh-sungguh membuktikan cinta mereka kepada Scotlandia.

Untuk itu, saya mengucapkan selamat kepada rakyat Scotlandia. Anda beruntung karena bisa terlibat langsung dalam menentukan pendirian negara.

Banda Aceh, 25 September 2014