Ramadan; Eat, Pray and Love

Besok, Ramadan meninggalkan kita. Ada perasaan tak ingin melepas pergi, supaya bertahan setidaknya untuk satu bulan lagi. Terasa ada kesedihan. Kalau ungkapan ini keluar dari mulut saya, terkesan lebay. Ungkapan begini pantas keluar dari mulut para sufi dan a’bid.

Dari lubuk hati yang dalam, saya benar-benar menikmati Ramadan laksana rekreasi yang membuai.

Ramadan bulan ibadah. Bulan penuh pengekangan. Umat Islam secara sadar dan ikhlas berpuasa, mengekang dirinya sendiri dari hal-hal yang tidak diperkenankan selama Ramadan. Ramadan ialah jalan menuju ketaqwaan; derajat tertinggi dalam Islam. Para pemburu surga memanfaatkan Ramadan dengan sebaik-baiknya, seakan tidak mau kehilangan satu detikpun tanpa ibadah dan doa. Wajar karena ibadah di bulan ini diganjar balasan pahala berlipat ganda dibanding bulan lainnya.

Ada paradok dari Ramadan. Disatu sisi, kita diperintah menahan makan dan minum di siang hari, dianjurkan tidak berlebih-lebihan di malam hari. Diseru melaksanakan ibadah, bersedekah, zakat dan berbuat amal saleh lainnya. Sepatutnya Ramadan menjadi bulan terhemat dari segi biaya belanja dibanding bulan yang lain. Yang terjadi justru sebaliknya, pengeluaran di bulan Ramadan membengkak. Apalagi pada kultur masyarakat Aceh, Ramadan tidak hanya bulan ibadah tapi juga pesta dan leisure.

Sangking spesialnya, seminggu menjelang Ramadan sudah menjadi saat keramat bagi masyarakat Aceh, dikenal dengan sebutan “minggu terakhir”. Masyarakat berbondong-bondong bertamasya terakhir, biasanya  ke laut. Selama sebulan mereka tidak akan ke laut atau tempat tamasya lainnya. “Minggu terakhir” benar-benar menjadi lampiasan tamasya terakhir. Di daerah pegunungan yang jauh dari pantai, masyarakat bertamasya ke sungai, mandi dan membersihkan diri disana lalu bersiap-siap memasuki bulan puasa dengan bersih dan suci.

Satu dan dua hari menjelang dimulainya puasa, masyarakat Aceh merayakan tradisi meugang bersama keluarga; memasak daging dalam aneka macam masakan. Menyantapnya bersama keluarga, bisa juga menghadiahkan hasil olahannya kepada kerabat. Tradisi memasak daging dalam jumlah yang banyak juga ada, sekaligus persiapan untuk persediaan di bulan Ramadan. Mungkin hampir sama seperti perayaan thanks giving di Amerika.

Dipenghujung Ramadan menjelang Idul Fitri, rumah tangga disibukkan dengan persiapan hari raya. Tak jauh dari makan-makan. Ibu-ibu mempersiapkan tepung, gula, telor, dan aneka pernak pernik lain untuk sajian kue hari raya. Lazimnya dilakukan secara berjamaah, kolektif-kolektif kecil semisal dusun. Setiap lorong gampong mendadak harum dengan wewangian kue dan makanan rempah lainnya. Sekali-kali diwarnai cekikikan perempuan tertawa tanda girang atau akibat candaan sesama perempuan yang tak jauh-jauh pasti soal vitalitas laki-laki.

Suasana seperti ini tentu sukar didapat di kota. Bahkan saat sekarang di kampung sekalipun sangat sulit suasana seperti ini masih bisa dirasakan. Masyarakat memang sudah sunnatullah harus berubah, wajib berubah mengikuti hukum perubahan itu sendiri.

Pada masyarakat Aceh tempo dulu ada filsafat hidup, “sithon mita, sibeuleun pajoh”. Bermakna, satu tahun mencari nafkah untuk dihabiskan hanya dalam sebulan yaitu saat Ramadan. Persis sebulan itu menjadi bulan ibadah, puasa, makan enak, berleha-leha, santai, dan berkasih sayang sesama. Meminjam bahasa keren dari film Julia Robert; Eat, Pray and Love.

Selama Ramadan, Aceh tiba-tiba bergerak lambat, produktifitas menurun, pelayanan pemerintah terasa kurang prima. Anak-anak libur sekolah, masyarakat seperti memaklumi situasi ini, sebuah kearifan yang tercipta dengan sendirinya. Di rumah sakit sekalipun para keluarga pasien bisa memaklumi para perawat dan dokter yang lelet memberi pelayanan, tak boleh marah-marah karena mereka berpuasa.

Disini, di Aceh tempat para orang-orang berpuasa dimanjakan.

Saat berbuka puasa sekalipun, anak-anak yang tidak berpuasa tak boleh ribut, tak boleh minta dilayani dan tak boleh mengganggu yang sedang berbuka di meja makan. Waktu siang warung makan tak boleh buka sembarangan karena mengganggu orang puasa. Meski sebenarnya ada non muslim, perempuan haid, orang tua, para pekerja berat dan musafir yang mendapat keringanan atau dispensasi dalam berpuasa dengan syarat harus menggantikan puasanya di lain waktu atau membayar fidyah. Budaya Aceh terstruktur dalam kebudayaan menghormati orang puasa, bukan sebaliknya menghormati orang yang tidak puasa.

Satu, dua tahun lalu, viral di media sosial ajakan menghormati orang tidak puasa. Ajakan ini berdampak pada negara tak perlu mempermasalahkan jika ada warung makanan yang terbuka di siang hari. Tak menjadi masalah jika ada orang yang tidak berpuasa sekalipun ia muslim makan terbuka ditempat umum. Alasannya, orang yang ikhlas berpuasa karena Tuhan tak memerlukan privilege sosial atas ketaatannya. Meski puasa hukumnya wajib, tapi Tuhan tak pernah memaksa hambanya berpuasa, karena puasa manifestasi iman dan keikhlasan manusia.

Jika setuju dengan cara pikir demikian, maka kontruksi sosial masyarakat Aceh tentang Ramadan akan berubah secara radikal. Segala romantisme kita tentang Ramadan sebagai bulan yang spesial akan pupus. Nilai leisure pada bulan puasa yang bermakna, ibadah, makan enak, berleha-leha, santai, dan berkasih sayang antar sesama akan terasa datar-datar saja. Ketika Ramadan memiliki kesamaan dengan bulan-bulan lain maka kesan rekreasi yang ada sepanjang Ramadan juga akan hilang karena definisi rekreasi yang benar menurut guru saya di MIN Seutuy dulu adalah; keluar dari rutinitas keseharian. Ramadan di Aceh mendefinisikan itu.

Maka tidak berlebihan jika saya katakan Ramadan adalah bulan rekreasi bagi kita semua menikmati treatment istimewa dari hari-hari biasa.

Mencari Jalan Tengah

Puasa adalah ibadah yang bersifat pribadi antara Tuhan dan hambanya. Yang tahu kualitas puasa seorang hamba hanyalah Tuhan. Begitu juga keimanan dan ketaqwaan juga tak seragam dimiliki oleh setiap orang Islam. Kadar iman seorang muslim fluktuatif; bertambah dan berkurang. Begitu juga turunannya pada kesalehan seorang hamba juga berbeda-beda menurut kadar keimanan dan ketaqwaan masing-masing muslim.

Tak semua orang yang berpuasa akan tarawih 30 hari penuh, akan melaksanakan qiyamul lail, akan khatam Qur’an, akan bersedekah dan hal-hal yang lainnya.

Ada keunikan-keunikan tersediri penyesuaian antara yang lurus dengan yang bandel dalam kontruksi masyarakat Aceh selama Ramadan. Hal tersebut menambah keunikan dan kekayaan tersendiri dalam kultur kita; tentang bagaimana mensiasati bisa makan siang secara sembunyi, bisa nongkrong di warung kopi tanpa harus ke masjid untuk taraweh dan kenakalan-kenakalan lain yang biasa terjadi dalam masyarakat. Bukan dimotori oleh perlawanan kepada aturan dan kebenaran umum tetapi kebandelan sosial dalam rangka menikmati Ramadan dengan cara yang tidak umum. Bagi kelompok masyarakat yang seperti ini juga ikut bisa menikmati Ramadan versi dirinya sendiri.

Untuk itu, menjaga tradisi Ramadan di Aceh sebagaimana yang sudah lazim merupakan hal yang perlu dipertahankan, bahkan bisa dikemas menjadi sesuatu yang bisa dijual dengan bungkus pariwisata.

 

Wallahualam,

Banda Aceh,    29 Ramadan 1438 H

24 Juli 2017