Pulo Bunta

kautsar Pulo Bunta

Letaknya cuma 45 menit perjalanan menggunakan speed boat nelayan dari Ujong Pancu, Aceh Besar. Perjalanan lumayan menantang. Perjalanan ke Pulo Bunta harus melalui pusaran arus kencang dan ayunan ombak besar. Menurut nelayan, perjalanan ke sana harus melihat gerak pasang surut air laut. Akan lebih baik, jika perjalanan dilakukan ketika air laut sedang pasang.

Pulo Bunta, pulau kecil yang tak jauh dari pulau Aceh dan Pulau Batee. Dari ujung pulau kita bisa melihat indahnya pantai Lampuuk dan megahnya pabrik semen Andalas Lho’nga. Disana bermukim lebih kurang lima kepala keluarga dengan belasan rumah bantuan BRR –Badan Rehabilitasi dan Rekontruksi Aceh- yang tidak didiami oleh penghuninya.

Rumah bantuan BRR tersebut dibangun tanpa dilengkapi sumber air bersih (sumur) di setiap unitnya. Masyarakat disana hanya hidup dari dua buah sumur yang dipakai secara kolektif. Pulau ini terasa masih perawan karena tidak ada fasilitas listrik, rumah sakit dan sekolah sehingga berada di Pulau Bunta memiliki kesan eksotisme tersendiri.

Saban hari  burung tak berhenti berkicau. Selain burung, pulau ini juga dihuni oleh sejumlah banyak babi hutan liar yang tak segan menampakkan diri, berkeliaran disekitar pemukiman penduduk sehingga terkesan binatang tersebut seperti hewan piaraan.

Pulo Bunta memiliki hamparan pantai pasir putih yang panjang dengan kehalusan pasirnya melebihi pantai Lampuuk. Sayangnya, laut disana kurang nyaman untuk berenang karena dipenuhi karang dan batu. Ombak dan arusnya juga kurang bersahabat.  Gemal, seorang teman dari Kuala menyarankan jika pergi ke Pulau Bunta sebaiknya dilakukan pada bulan Agustus karena situasi laut di bulan ini lebih bisa diajak kompromi.

Untuk bisa bertahan, masyarakat Pulo Bunta mengantungkan hidup dari melaut dan beternak. Tidak ada aktifitas pertanian apalagi perkebunan meskipun diseluruh pulau dipenuhi dengan tanaman kelapa yang menjulang tinggi.  Buah kelapa disana dibiarkan begitu saja tanpa ada pemamfaatan.

Penduduk  Pulo Bunta memamfaatkan sampah plastik yang singgah ke pantai lantaran dibawa ombak. Sampah tersebut dikumpul, dipilah, kemudian dijual ke daratan sebagai sarana mencari rezeki.

Banyak sampah yang singgah disana, bekas kemasan makanan yang datang dari negara luar Indonesia. Hal ini bisa dimaklumi karena laut disekitar Pulau Bunta adalah pintu masuk ke Selat malaka yang banyak dilewati kapal dari berbagai negara.

Kepada teman-teman silakan berkunjung ke  Pulau Bunta dan ikut merasakan sendiri eksotisnya pulau ini.

Banda Aceh, 8 Mei 2011