PKI, Bandit dan Saya.

Sekitar tahun 1987-1988, usia saya sekitar 10 atau 11 tahun. Bagi anak-anak yang hidup dizaman tak ada pilihan tontonan selain TVRI, sangat menantikan tayangan film berjenis action dan horor. Setiap hari-hari yang berhubungan dengan negara, TVRI selalu menyuguhkan tayangan yang pas dengan cita rasa kami sebagai anak-anak. Salah satunya adalah film G30S/PKI (Gerakan 30 September/Partai Komunis Indonesia).

Abu memberitahukan saya, komunisme ialah paham sekuler yang tidak mengakui keberadaan Tuhan. Punya cita-cita menjadikan Indonesia sebagai negara komunis yang tunduk dibawah pemerintahan Uni Soviet dan Republik Rakyat Cina. Agenda mereka membunuh ulama dan menghancurkan organisasi Islam yang ada di Indonesia.

Film G30S/PKI adalah tontonan yang ditunggu saban tahun. Saya perlu menonton untuk menjawab rasa penasaran akan penjelasan yang diberikan Abu. Lagipula, film ini dibumbui adegan perang-perangan dan unsur angker. Cukup  menghibur.

Saban tahun pada tanggal 29 September, kami sekeluarga  berkumpul didepan pesawat televisi. Perencanaan menonton sudah dilakukan sejak awal. Hari itu, di sekolah, sesama teman sudah saling mengingatkan bahwa nanti malam ada pemutaran film PKI.

Sepulang sekolah, Ummi menganjurkan kami tidur siang, supaya malam nanti bisa nonton tanpa ngantuk. Perencanaan ritual malam itu tersusun begitu rapi.

Belakangan ketika menjadi mahasiswa, saya tahu bahwa film G30S/PKI merupakan bentuk propaganda negara terhadap partai terlarang ini. Cerita dalam film  tersebut fiksi belaka. Kisah pemberontakan malam 30 September 1965 masih menjadi misteri hingga saat ini.
Ada perasaan aneh yang saya simpan ketika kecil terhadap peran PKI dalam film ini. Saya tahu PKI jahat, membunuh para jendral dengan kejam, perempuan-perempuan yang belakangan disebut dalam buku sejarah sebagai Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia) juga tak ubahnya seperti drakula dalam film-film hantu. Saya tak tertarik dengan penilaian yang sudah menjadi konsensus publik ini.

Banyak kritikus era reformasi memprotes tayangan film ini. Mereka meminta penanyangannya di televisi dihentikan karena dinilai menyebar kebohongan publik. Saya bertanya dalam hati, “Sejauh mana efektifitas film tersebut dalam menyudutkan PKI?”

Saya sendiri merasa kagum dengan PKI lantaran setiap tahun nonton film ini. Kekaguman saya bukan terhadap ideologi komunisme karena hal-hal begitu tentu terlalu tinggi buat saya seorang pelajar Madrasah Ibtidaiyah.

Sebagai pecinta film misteri dan detektif serta pembaca setia buku cerita Tiga Sekawan dan Lima Sekawan karangan Enid Blyton,  Saya kagum pada metode pemberontakan mereka terhadap negara.

Saya tertarik dengan intro film melakonkan mulut-mulut, bergerak sambil menghisap dan menghembus asap rokok. Diselingi  ucapan-ucapan menghasut. Dialog tentang strategi bergerak. Rapat-rapat tengah malam digambarkan sebagai sesuatu yang konspiratif. Membicarakan dan merencanakan sesuatu yang besar: Menggulingkan kekuasaan. Kalimat yang tak bisa saya lupa adalah, “mari samakan jam”. Luar  biasa !

Saya tidak menemukan jawaban tepat, kenapa efek yang saya rasakan berbeda dengan harapan yang diinginkan negara dari pemutaran film tersebut.

——-

Johnny Depp berperan sebagai John Dillinger dalam film Public Enemy. Film ini melatari kisah nyata zaman depresi  Amerika, bercerita mengenai seorang agen FBI yang berusaha menangkap penjahat, John Dillinger. Dalam film ini peran detektif sangat heroik. Mengejar dan menembak mati Dillinger, musuh masyarakat lantaran merampok dan membunuh.

Menonton film ini, keberpihakan saya justru kepada Dillinger.

Bruce Willis memerankan film Bandits yang diproduksi tahun 2001. Dikisahkan Joe (diperankan Bruce Willis) dan Terry (diperankanThornton), dua narapidana yang berhasil kabur dari penjara. Dalam pelarian Joe dan Terry kehabisan uang namun berencana hidup nyaman layak orang-orang kaya. Merekapun melakukan sederet perampokan bank.

Selama dua jam film ini bercerita tentang perampokan dan pengejaran Joe oleh otoritas keamanan setempat. Lagi-lagi keberpihakan saya yang menonton tertuju kepada Joe. Meski saya tahu ia berada pada sisi yang salah.