Patung Tani

“Selamat memperingati hari tani dan hari agraria nasional Indonesia.”

Banyak patung di Jakarta. Diantara semua, hanya tugu tani yang berkesan dan punya kenangan khusus. Patung ini terbuat dari perunggu. Berdiri di Segitiga Menteng. Patung itu lebih indah dan gagah bila dilihat dari jendela bagian depan hotel Aryaduta, Jakarta Pusat.

Patung itu,seorang pemuda bercelana pendek, telanjang dada, memakai caping, topi yang biasa dikenakan petani Indonesia. Menyandang senjata dan menyelipkan belati di pinggang. Disampingnya, berdiri rendah seorang perempuan berkebaya dan bersanggul, lengkap serta selendang yang terurai di bahu. Perempuan itu sedang mempersembahkan pengganan kepada sang lelaki, petani pemanggul senjata.

Sekilas dilihat, lelaki di patung ini tidak menggambarkan petani Indonesia. Patung tani ini dibuat dengan perawakan lelaki tinggi besar, kekar, dan cukup gizinya. Sementara petani Indonesia badannya tidak tinggi. Meski kekar karena kerja keras, tetapi hanya berotot ditangan dan kaki saja.Tubuh lainnya ceking, pamer tulang, tanda jauh dari kemakmuran.

Patung tani dibuat pada 1962-1963 oleh Matvey Manizer dan Ossip Manizer. Patung ini menjadi salah satu koleksi Bung Karno diantara ratusan, mungkin ribuan, koleksi patung yang dimilikinya. Belakangan koleksi patungnya menjadi milik Indonesia.

Pikiran Soekarno terpahat di patung tani.Lelaki dipatung tani mengilustrasikan marhaen yang -menurut Soekarno- menjadi soko guru revolusi Indonesia. Patung tani juga inspirasi DN. Aidit tentang angkatan kelima. Mempersenjatai buruh dan tani, berkonfrontasi dengan Malaysia, meng-anektasi Sabah, Sarawak dan Papua yang kemudian disebut Irian Jaya.

Ada kalangan berpendapat, patung ini memiliki kaitan dengan alur pikir komunisme. Apalagi melihat revolusi komunis di Tiongkok yang menyandarkan perjuangan pada petani bersenjata dengan teori long march desa mengepung kota.

Ada benar juga pandangan tersebut. Bila melihat atmosfir politik Indonesia antara 1960 – 1965, banyak dipengaruhi hegemoni politik komunisme. Alasan ini semakin dekat dengan kebenaran bila merujuk kedua perancang patung yang berasal dari Uni Soviet; negara komunis terbesar di dunia.

Katakanlah, benar.Berarti patung ini mengalami pengubah suaian pandangan komunisme yang disesuaikan dengan konteks Indonesia yang masih belum sepenuhnya keluar dari budaya feodal. Melihat kepada brosur dan mural komunisme di Soviet, Eropa Timur.bahkan Tiongkok, yang Asia sekalipun, senantiasa memposisikan perempuan sebagai figur sejajar dengan lelaki.

Komunisme melihat hubungan laki-laki dan perempuan sebagai mitra sejajar. Berbeda dari simbolisasi patung tugu tani yang memposisikan tempat berdiri perempuan lebih rendah dari laki-laki.

Tidak jauh dari tugu Tani, ada patung Selamat Datang. Berdiri megah didepan Hotel Indonesia, Jakarta Pusat. Patung sepasang manusia Indonesia; laki-laki dan perempuan, berdiri sama tinggi, melambai tangan selamat datang di Jakarta. Patung ini sengaja dibuat untuk menyambut peserta Asian Games IV.

Patung ini dipesan khusus Soekarno. Rancang gambarnya dikerjakan Henk Ngantung yang saat itu menjabat wakil gubernur Jakarta. Pelaksana yang membuat patung itu tegak sampai sekarang ialah tim pematung Keluarga Arca pimpinan Edhi Sunarso di Karangwuni.

Asumsi saya, perancang patung tani sudah benar. Matvey dan Ossip memahat objektifitas revolusi Indonesia. Tentu sesuai penjelasan Soekarno, bahwa tulang punggung revolusi Indonesia, petani kecil yang berjuang dengan senjatanya melawan Belanda dan Jepang. Mereka meninggalkan sawahnya. Dengan perlengkapan tempur seadanya, berjuang merampas senjata dari musuh. Lalu, memakainya memukul musuh mundur meninggalkan Indonesia.

Cita-cita petani selalu sederhana, Indonesia merdeka dipimpin anak negeri untuk mencapai kemerdekaan sepenuhnya yaitu perubahan taraf hidup petani Indonesia.

Pastinya pematung profesional perlu melakukan observasi tentang materi patung yang dibuatnya. Merujuk literatur tentang feodalisme dalam kerangka hubungan laki-laki dan perempuan pada masa itu, dapat diambil kesimpulan, se-revolusioner apapun petani Indonesia dalam mengusir penjajah, namun pola hubungan domestik rumah tangga, begitu juga pola hubungan masyarakat pedesaan dalam konteks laki-laki dan perempuan masih terkungkung belengu feodalisme yang melihat perempuan sebagai subordinasi laki-laki.

Namun begitu, perempuan –isteri atau ibu sang petani- memiliki kontribusi besar dalam revolusi Indonesia. Mengambil perannya masing-masing dalam organisasi gerilya. Salah satunya seperti digambarkan patung tani; perempuan berperan di lini belakang khususnya dibidang makanan, kesehatan dan logistik; sesuatu yang maha penting dalam perang gerilya.

Tentu tidak berlebihan, mengatakan petani memiliki sumbangsih besar dalam revolusi di negara agraris. Kebanyakan perjuangan nasionalisme di negeri pertanian pasti memposisikan petani sebagai pemilik nasionalisme sesungguhnya. Yang lain, bila tidak mahu disebut penumpang gelap, maka disebut penggembira.

***

Tahun 2000, dalam pertemuan pejuang sosialis se Asia Pasifik di Sidney, Australia. Saya di hadapkan pertanyaan tentang “karakter kelas” perjuangan kemerdekaan Aceh.Arti fulgar pertanyaan itu, siapa sebenarnya pemilik revolusi kemerdekaan Aceh? Petani miskin atau orang kaya terpelajar?

Jujur saya bingung mau menjawab apa.

Supaya mendapat dukungan dari pejuang yang datang dari berbagai negaradi asia pasifik, saya jawab saja perjuangan Aceh memiliki karakter kelas masyarakat petani miskin. Yang berjuang bersama GAM (Gerakan Aceh Merdeka) ialah petani miskin yang menginginkan kehidupan lebih baik jika Aceh merdeka dari Indonesia.

Mereka menginginkan tanah pertanian sendiri, sawahnya dialiri irigasi, bisa bercocok tanam sampai tiga kali setahun, memperoleh benih dengan kualitas ekonomis, mendapat pupuk subsidi, pinjaman yang membantu dari perbankan, pertanian yang terintegrasi dan termekanisasi teknologi, sebagai pra kondisi menuju negeri industri. Petani yang memiliki akses pendidikan dan kesehatan gratis. Begitulah imajinasi petani yang berjuang bersama GAM. Imajinasi ini kemudian dibungkus dalam kesadaran politik yang sedang tumbuh yaitu nasionalisme Aceh.

Imajinasi ini tidak mungkin didapat bila Aceh berada dalam Republik Indonesia. Aceh tidak memiliki anggaran membangun semua infrastruktur yang dibutuhkan imajinasi petani tersebut. Semuaanggaran terpusat di Jakarta. Aceh hanya mendapat jatah tak sebanding dengan sumbangsih Aceh melalui penghasilan minyak dan gas kepada pemerintah pusat.Untuk itu, Aceh melawan.

“Perjuangan GAM bukan perjuangan kelas dalam makna marxisme. Melainkan perjuangan nasionalisme yang memiliki karakter kelas dalam surah marxisme”. Begitulah pidato saya dalam pertemuan itu. Disambut gemuruh tepuk tangan tanda setuju terhadap perjuangan referendum Aceh sebagai cara paling demokratis keluar dari penindasan.

Sampai sekarang, terkadang mereka masih menulis email kepada saya. Menanyakan nasib petani Aceh setelah perdamaian. Apakah konsesi damai sudah digunakan untuk mengejar imajinasi petani miskin yang menyokong perjuangan Aceh merdeka?

Tak perlu saya menulis disini apa jawaban saya terhadap mereka.

***

Masih terkesan dengan tugu tani. Pertamasekali saya mengunjungi Jakarta pada 1985. Patung ini menjadiakrab lantaran abu (panggilan saya untuk ayah)berulang kali bercerita, ketika beliaumasih menjadi aktivis mahasiswa, bila berkunjung ke Jakarta selalunya jogging setelah subuh dengan mengelilingi patung tersebut. Posisi tugu tanidi ujung Jalan Menteng Raya, sangat dekat dengan kantor Pengurus Besar Pelajar Islam Indonesia (PII) organisasi tempat abu bergiat semasa menjadi aktivis mahasiswa.

Pertama sekali melihat patung ini, tak menjelaskan apapun kecuali estetika semata.Tak ada bayangan seperti tulisan diatas. Yang terpikir, kenapa patung itu dibuat begitu? Abu menjawab, lelaki di patung itu pejuang kemerdekaan bersama ibunya yang sedang memberi makanan sekaligus restu disaat istirahat dalam sebuah peperangan. Saya lansung mengerti jawaban abu. Patung itu mirip salah satu gambar dalam cerita bergambar yang baru saya baca. Buku cerita itu tentang serangan umum 1 Maret di Jogyakarta.

Ketika mahasiswa, saya membaca berbagai literatur politik, juga tentang sosiologi petani dan pertanian. Membandingkannya dengan marhaenisme Soekarno, dibantu pemahaman saya tentang marxisme, khususnya perlawanan petani di Rusia, Tiongkok dan Vietnam. Kemudian saya mengerti, patung tani memiliki arti luas selain keindahan. Yaitu kemanunggalan rakyat petani dan perjuangan militer sebagai simbol revolusi Indonesia merebut kemerdekaannya.

Jika petani bisa diajak melawan dan mengusir penjajah yang memiliki persenjataan lebih lengkap, organisasi militer yang lebih modern serta logistik berlimpah. Pasti petani bisa juga diajak membangun secara masif. Jika struktur ekonomi politik kita konsisten serta radikal dibangun diatas fondasi pertanian, maka tahap demi tahap Indonesia akan cepat lebih maju dan masyarakat Indonesiadapat menimalisir lonjakan pengangguran setiap tahunnya. Kemiskinan struktural akibat pembangunan yang timpang khususnya kota dan desa, pertanian dan sektor lainnya dapat dikendalikan.

***

Begitu juga Aceh. Masa depan kita semua ada di lahan pertanian. Apalagi cadangan minyak dan gas –bila tidak ditemukan sumur baru- tidak lagi menjadi primadona andalan dalam pembagian hasil antara Jakarta dan Aceh. Dana otonomi khusus yang diberi untuk Aceh, juga akan mengalami penurunan setiap tahunnya. Lima belas tahun pertama sejak 2008 Aceh mendapat 2% dari dana alokasi umum nasional, setelah itu sampai di 2027 Aceh hanya mendapat 1% saja.

Kini tinggal lima tahun lagi kita mendapat 2% dari dana alokasi umum nasional. Setelah lima tahun ini uang kita tinggal 1% saja.

Setelah tahun itu, uang Aceh kembali ke tahun sebelum konflik. Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh menyusut drastis. Situasi akan tertolong bila pemerintah mempersiap diri membangun primadona baru diluar minyak dan gas.

Prof. Ibrahim Hasan, mantan Gubernur Aceh periode 1986-1993, dalam pidato terkenalnya tentang Aceh sekarang dan masa depan; “Aceh sekarang adalah era minyak dan gas. Aceh saat ini ialah pantai timur dan utara. Tetapi, Aceh masa depan ada di kebun dan sawah pertanian. Aceh masa depan juga ada di pantai barat dan selatan”.

Lalu, Ibrahim Hasan tanpa kemudahan dana otonomi dan kewenangan khusus bekerja membebaskan rakit di jalur barat-selatan. Memperbaiki dan membangun irigasi untuk mengairi sawah dan memberi fasilitas kepada pengusaha lokal mendapat konsesi pengelolaan hutan dan perkebunan. Merencanakan Aceh yang maju untuk masa yang akan datang.

Pemerintah Zaini-Muzakir juga melakukan hal sama. Visi dan misi kampanye Pilkada menempatkan sektor pertanian sebagai ujung tombak pembangunan Aceh. Janji kampanye itu sudah dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah lima tahun. Pekerjaan rumah sekarang ialah bagaimana konsep pembangunan pertanian bisa berpindah dari sekedar tulisan visi dan misi kepada sesuatu yang bergerak di lapangan.

Alat ukurnya apa? Sudahkah terjadi peningkatan signifikan pada jumlah komoditas pertanian per-tahun? Sudahkah peningkatan komoditas ini berdampak pada meningkatnya taraf hidup petani? Apakah peningkatan komoditas ini sudah berakibat kepada pertumbuhan dan pemerataan ekonomi? Banyak dan masih banyak lagi pertanyaan yang perlu dijawab dengan kerja keras semua kita; pemerintah Aceh, legislatif Aceh dan pemangku kepentingan pembangunan pertanian Aceh.

Banda Aceh, 24 September 2014.