The Patriot

Tak semua orang yang terlibat perang dirasuki filosofi idealisme. Banyak alasan subjektif kenapa seseorang terlibat dalam perang. Menarik untuk ditonton film The Patriot, yang dirilis Colombian Pictures tahun 2000, mengisahkan Benjamin Martin yang dibintangi Mel Gibson, veteran paling ganas pada pertempuran Wilderness. Dia, membunuh sekaligus memutilasi musuh-musuhnya. Lantaran itu semua orang menganggapnya pahlawan.

Saat perang selesai, ia memilih jadi ayah yang baik sekaligus orang tua tunggal untuk tujuh anaknya.

Ketika Amerika disulut kesadaran kebangsaan ingin merdeka dari Inggris, ramai warga kota yang mabuk perang.

Martin tak terpengaruh. Dia menolak bergabung ketika Kolonel Harry Burwell, teman yang pernah bersamanya dalam pertempuran Wilderness, merekrut warga untuk dijadikan milisi pro-kemerdekaan.

“Kami mencita-citakan deklarasi kemerdekaan. Kita dijajah oleh tirani yang 3000 mil jauhnya dari sini”. Kata Burwell, mengawali pidato perekrutan di Balai Kota South Carolina.

“Ini bukan perang untuk kemerdekaan satu atau dua koloni, tapi kemerdekaan satu bangsa. Bangsa Amerika”. Lanjut Burwell bersemangat.

Ada beda sudut pandang antara Burwell dan Martin. Mereka sama-sama nasionalis dengan pendekatan berbeda. Burwell menyakini, “Jika prinsipmu adalah kemerdekaan, maka perang jalan satu-satunya”.

Hal ini ditentang Martin. Di Balai Kota itu, didepan para warga yang hadir, ia mendebat pemuka masyarakat yang doyan perang.

Kata Martin, “Kenapa aku harus menukar tirani yang 3000 mil jauhnya dari kita, dengan 3000 tirani yang 1mil jaraknya dengan kita?”. Gugat Martin tentang subtansi kemerdekaan yang sedang diperjuangkan rakyat Amerika. Menurutnya, penjajahan bisa dilakukan siapapun. Baik oleh yang sangat jauh dari kita, atau dilakukan orang yang sangat dekat dengan kita, di rumah kita sendiri.

“Ada pilihan lain selain perang”. Ungkap Martin.

“Kita bawa masalah ini kehadapan raja George di Inggris. Kita mohon padanya”.

“Kami sudah mencobanya”. Jawab Burwell.

“Kalau perlu kita coba lagi, dan lagi, untuk menghindari perang”. Timpal Martin.

Memang, Martin terlalu ideal. Menginginkan kemerdekaan hanya dengan meminta dan memohon. Dia pikir negara akan mudah melepas sebuah wilayah. Melepas sebuah koloni yang melayani kemewahan-kemewahan negara. Tak akan semudah itu.

Di Balai Kota South Carolina, silih berganti para warga saling mengagitasi. Yang satu mengagitasi yang lain. Mereka sedang mengagitasi diri sendiri. Memberanikan diri menghadapi perang yang kejam untuk sebuah marwah dan kebanggaan, yang dilihat Martin sebagai kelemahan manusia.

Hanya Martin yang tak tersulut agitasi itu. Ia pernah berada di garis depan perang Amerika melawan Perancis-Indian. Dia mengerti betul bagaimana yang disebut dengan perang.

Kata Martin, “Koloni Amerika harusnya memerintah diri sendiri secara merdeka. Kurasa mereka bisa. Dan mereka seharusnya begitu. Tapi, jika kau tanya aku, apakah mau berperang dengan Inggris? Jawabannya, pasti tidak”.

Martin terus berpidato, “Aku punya tujuh orang anak. Istriku sudah meninggal. Jika aku berperang, siapa yang mengurus mereka?. Perang ini akan berkobar, tidak hanya di garis depan, atau di suatu medan perang yang jauh, tapi di tengah-tengah kita, disekitar tempat tinggal kita. Anak-anak kita akan menyaksikan dengan mata kepala mereka sendiri. Dan yang tak berdosa akan mati bersama kita. Aku tak akan berperang, Aku tidak akan ikut”.

Di pertemuan itu, hanya Martin yang tak dirasuki agitasi kebanggaan nasionalisme. Argumentasinya dikalahkan dengan jumlah orang ramai yang terasuki patriotisme. Merekapun setuju berpartisipasi bersama pemerintah continental berperang melawan invasi Inggris.

Martin terpaksa merelakan anak sulungnya, Gabriel, yang masih remaja bergabung dengan milisi bersenjata. Ia tersulut kebangaan nasionalisme.

Perangpun terjadi, dan berjalan tidak seimbang. Tentara reguler Inggris yang terlatih melawan pejuang kemerdekaan yang hanya petani biasa. Tak punya kecakapan militer kecuali modal semangat dan kebangaan saja. Itupun lahir dari dendam dan kebencian.

Seperti prediksi Martin. Perang tidak hanya terjadi di medan yang jauh dari pemukiman penduduk. Perang juga terjadi disekeliling kampung. Meminta nyawa warga yang tak punya kaitan dengan perang, anak-anak dan perempuan.

Martin harus merelakan putranya yang masih kanak-kanak mati ditangan tentara Inggris. Tentara Inggris melakukan penggerebekan di rumahnya, menangkap Gabriel yang terluka dan sedang dirawat. Martin-pun terpaksa merelakan rumahnya hangus dibakar.

Martin merubah prinsipnya, mengambil kesimpulan terlibat dalam perang. Tujuannya sangat pribadi, mendampingi, melindungi dan menyelamatkan puteranya yang ikut dalam perang.

Ada banyak alasan melakukan perang. Banyak alasan, mengapa manusia berfikir mereka dapat membenarkan kematian yang lain. Alasan itu pasti berbeda satu dengan yang lainnya. Alasan itu kemudian disatukan dalam satu alasan yang mendapat persetujuan umum. Mendapat penghormatan dan penghargaan bagi yang melakukannya. Itulah perang. Perang hanya bagaimana kita mendefinisikannya saja.

Para agamawan, tentu menjadikan Tuhan sebagai alasan melakukan pembunuhan dan kekerasan. Begitu juga pejuang ideologi tertentu, menjadikan idealisme itu sebagai alasan melakukan tindakan yang sebenarnya juga ditentang oleh cita-cita ideologi tersebut.

Hampir semua pejuang kemerdekaan mengagung-agungkan kepentingan rakyat sebagai tujuan kemerdekaan dan untuk itu rakyat harus berkorban dan atau dikorbankan. Pertanyaannya, apakah kita lahir ke dunia untuk melakukan pengorbanan? Untuk sesuatu yang sulit dan kejam?

Keterlibatan Martin sebagai veteran perang menambah amunisi baru perjuangan melawan tentara Inggris. Membuat Inggris kesulitan dan akhihrnya kalah. Sosok Martin lahir dari perang yang salah urus. Ia berubah dari kepribadian yang sangat anti perang menjadi manusia bengis di medan pertempuran.

Martin merubah gaya perang konvesional yang dilakoni Burwell kepada taktik gerilya. Menyerang, lari dan sembunyi. Menyerang musuh dari tempat dan waktu yang tak terduga. Menjadikan kelicikan dan tipu daya sebagai senjata utama yang mengiringi keberanian dan kerelaan berkorban.

Martin, tidak lagi merekrut penduduk untuk ikut berperang dengan hanya berdakwah di gereja. Dia mendatangi café-café tempat para pemabuk, kelas pekerja dan gangster berkumpul. Mengelola emosi kebangsaan mereka dan mengakomodir ‘kesenangan-kesenangan’ mereka. Martin menggunakan kelompok masyarakat yang dekat dengan budaya kekerasan, merekrutnya dan menjadikan mereka bagian dari tentaranya.

Langkah ini pada awalnya ditentang Gabriel. Menurutnya, bagaimana melakukan pertempuran dengan orang-orang yang tidak mengerti subtansi perjuangan kemerdekaan. Melakukan perjuangan dengan milisi yang memiliki kebudayaan yang sama dengan musuh. Martin menjawab singkat, “Inilah perang. Disini kita hanya dituntut untuk menang”.

Pasukan Inggris mengalami kewalahan menghadapi milisi pimpinan Martin. Nilai-nilai aristokrasi yang menjunjung tinggi kehormatan dan kesatriaan pasukan Inggris dalam perang, akhirnya sirna. Berganti dengan segala upaya harus dilakukan untuk mengalahkan lawan termasuk melanggar etika kemanusiaan dalam perang.

Ada konsep lama perang anti gerilya yang jika tak pandai memadukannya dengan objektifitas sosiologis setempat bisa jadi bumerang bagi pemakainya. Perang selalu dipahami dalam kerangka siapa yang menguasai ketakutan masyarakat. Perang adalah penaklukan rasa takut. Siapa yang bisa menguasai ketakutan musuh dan masyarakatnya, dialah pengendali perang yang sebenarnya.

Pasukan Inggris melakukannya dengan membunuh keluarga milisi yang terlibat melawan mereka. Membakar kampung dan menebar rasa takut dikalangan masyarakat.

Dalam aksi yang demikian, ketika takaran tidak pas, dampak yang dihasilkan adalah keberanian luar biasa dari masyarakat. Mereka merubah ketakutan menjadi keberanian. Membuat mereka tak punya pilihan selain melawan. Inilah punca kekalahan kekuatan-kekuatan besar di setiap perang gerilya di belahan dunia.

Seperti perang Amerika dan Inggris yang membuat Martin menang melawan tentara reguler kerajaan Inggris.

Film ini membuat saya terasa melihat kebelakang. Ketika semua orang punya alasan pribadi kenapa harus terlibat dalam perang Aceh melawan Indonesia.

Semasa gerilya dulu, saya mendengar cerita bagaimana seorang anak memilih menjadi desertir dari angkatan bersenjata pemerintah. Lantas, bergabung dengan pasukan perlawanan karena ingin melindungi keluarganya di kampung. Si anak takut keberadaanya sebagai pasukan pemerintah akan membahayakan keamanan keluarga. Bisa menjadi sasaran kelompok perlawanan.

Begitu juga, ada cerita orang-orang pemilik hutang. Tak sanggup lagi membayar hutang. Lalu, memilih bergabung dengan tentara perlawanan dengan harapan tak perlu lagi membayar hutangnya.

Belum lagi pelaku kriminal dan residivis. Kebanyakannya pemuda kampung yang putus sekolah dan pengangguran. Mereka tak punya alasan selain melawan. Negara   dalam situasi perang selalu mencurigai usia muda. Memposisikan mereka sebagai orang-orang yang melawan. Perlawanan selalu menawarkan kebanggaan dan penghormatan. Sesuatu yang jarang dirasa oleh masyarakat terpinggir.

Perang selalu menghancurkan keluarga. Memisahkan anak dan orang tua, istri dan suami, adik dan kakaknya.

Apa alasan pribadi Hasan Tiro sehingga memproklamirkan perlawanannya?.

Begitu juga dorongan besar apa yang membuat dr. Mukhtar Hasbi Geudong meninggalkan Azzimar istrinya dan memilih melakukan perlawanan untuk kemerdekaan yang baru selain Indonesia. Tentu ada banyak jawaban disana.

Jakarta, 15 Desember 2014

  • Hendra Fanny

    Benar apa yg di papar itu,banyak liku2 mengapa kita terjun kemedan tempur.

  • Agam

    Perang bukan jalan tapi niat berperang untuk apa dan siapa???….di perjelas