Pahlawan

“Saya tak mengharapkan pahlawan. Orang tak selalu baik, benar, berani. Tapi saya mengagumi tindakan yang baik, benar, berani, biarpun sebentar”. -Goenawan Mohamad-

Siapa pahlawan anda? “Kalau saya sosok ibu”. Siapakah pahlawan anda? tentu jawabannya berbeda-beda. Dari Teuku Umar sampai Superman.

Jika anda penggemar film laga, mungkin anda cenderung menyukai pahlawan yang memiliki otot lebih kekar, penyandang senjata dan pernah terlibat aksi laga dalam memperjuangkan sesuatu yang disebut kebenaran.

Aktifis perempuan –mungkin- akan menunjuk figur yang punya kaitan dengan pembebasan perempuan.

Hampir seperti agama, semua orang punya pahlawannya sendiri. Terkadang, seseorang yang kita anggap pahlawan, sebaliknya “dia” dianggap pecundang atau penjahat oleh yang lainnya. Sosok pahlawan adalah definisi ruang dan waktu.

Ketika saya masih duduk di bangku kelas III Madrasah Ibtidaiyah, Pak Yusis, beliau guru PSPB -Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa-, menjelaskan didepan kelas bahwa Daud Beureueh seorang pemberontak bukan pahlawan.

Penjelasan ini bertolak belakang dengan cerita abu di rumah. Menurutnya, Daud Beureueh, seorang pahlawan yang dikhianati negara.

Ketika negara menunjuk Teuku Umar sebagai pahlawan nasional, masih saja ada yang berbisik bahwa pribadi dari Meulaboh, yang terkenal dengan kupiah meukeutop– dan kisahnya pernah diangkat dalam film layar lebar ini, dianggap bukan sosok pahlawan tetapi oportunis sejati.

Dia landlord sekaligus warlord yang pernah bekerjasama dengan Belanda dalam rangka rebutan pengaruh antar sesama landlord di Aceh. Dikatakan, Teuku Umar pernah terlibat dalam pembentukan milisi pro Belanda untuk berhadapan dengan pasukan Aceh yang anti kolonial.

Di Jakarta, Tan Malaka sosok yang pernah punya cerita sendiri dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, akhirnya dianggap sebagai pemberontak lantaran pendapat yang berbeda tentang peristiwa Madiun.

Begitu juga PKI -Partai Komunis Indonesia-, pernah menjadi partai paling pertama membubuhkan kata Indonesia dibelakang nama partainya. Pada akhirnya ditabal sebagai partai pengkhianat negara lantaran kudeta 1965. Ajarannya masih dilarang sampai saat ini. Jasa-jasanya terhadap negara seperti terhapus dan tak pernah lagi dikenang.

Begitulah, semua kita bisa sepakat dengan definisi pahlawan sebagai pemberani, rela berkorban, dan kesatria untuk tujuan yang memiliki dampak luas terhadap masyarakat umum. Ketika definisi ini dipakaikan pada sosok tertentu, disanalah perdebatannya menjadi seru, bahkan masuk ranah sensitif politik.

Tentang siapa yang harus disebut pahlawan selalu berangkat dari sudut mana kita berdiri. Disana hanya ada dua sudut; kekuasaan atau orang-orang yang melawan kekuasaan.

Ketika kita mendiskusikan tentang siapa pahlawan pembangunan, tentu banyak telunjuk menunjukkan kepada foto Jenderal Soeharto. Padahal ramai –karena alasan pembangunan- yang tergusur dari tanah dan tempat tinggalnya tidak disebut pahlawan pembangunan. Ramai buruh bangunan yang dibayar tak sesuai nilai keringatnya juga tidak disebut pahlawan pembangunan. Saya tak tahu mereka disebut sebagai apa. Intelektual menyebut mereka korban pembangunan.

Untuk itu, tak perlu kita tergiring dalam perdebatan tentang kepahlawanan seseorang. Tentang siapa lebih pahlawan daripada yang lain. Biarkan soal pahlawan masuk wilayah personal warga tentang siapa yang ia idolakan dan dipahlawankan.

Kita masih beruntung, di negeri seperti Indonesia ramai sekali bertebaran pahlawan, sehingga tak perlu meng-impor kepahlawanan dari luar atau menciptakan pahlawan-pahlawan imajiner.

***

Esensi tentang pahlawan adalah suri tauladan. Kepribadiannya menjadi referensi kemanusiaan untuk ditiru. Jasa-jasanya jadi motivasi kepada yang lain. Oleh sebab itu, siapapun bisa menjadi pahlawan, seorang ibu, ayah, suami atau guru, bahkan seseorang yang dianggap bandit sekalipun ditaraf tertentu bisa menjadi pahlawan kepada yang lain.

Pahlawan sering sekali dikaitkan dengan patriotisme. Banyak orang mengartikan patriotisme dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan militer. Sudah tentu seorang pahlawan selalu dihubungkan dengan pertempuran dan adegan kekerasan lainnya.

Begitulah masyarakat kita mempersepsikan sosok kepahlawanan. Secara tidak sadar masyarakat kita merepresentasikan kesadaran dan pikirannya memperlihatkan bahwa lingkungan kita gandrung dengan kekerasan.

Percayalah, pahlawan itu ada dimana-mana; ada dikamar anda, rumah anda, kampung anda, kantor anda dan lingkungan hidup anda. Mari kita mencintai pahlawan-pahlawan kita.

—-

Banda Aceh, 10 November 2014