Onani, Revolusi, dan Online

 

Kadang kita berpikir nakal. Bahkan tentang sesuatu yang “tabu”; Apakah ayah kita pernah melakukan onani?. Apakah kakek kita juga pernah melakukannya?. Jika “ya”, apakah mereka melakukan sesederhana yang kita bayangkan?

Teman-teman saya di Tsanawiyah melakukan onani dengan reka ulang imajinasi sesuai stensilan yang mereka baca. Periode selanjutnya foto dan film porno juga ikut membantu.

Ketika saya berkesempatan menonton kembali film You Have Got My Email, dalam penerbangan Garuda Indonesia menuju Jakarta dari Banda Aceh. Saya terperanjat dengan dialog dalam film tersebut tentang cyber sex. Sesuatu yang tidak terperhatikan. Sekaligus tak saya pahami saat pertama sekali menonton film ini di bioskop Gajah, Banda Aceh sekitar tahun 1999. Film ini dibintangi Tom Hanks dan Meg Ryan. Bercerita tentang hubungan percintaan diantara keduanya yang dimulai dari perkenalan dan kirim mengirim surat via email. Tanpa diawali pertemuan dan saling kenal di dunia nyata.

Meg Ryan menceritakan kepada teman dekatnya, perihal “pendekatan” via email. Lantas, temannya mengatakan, “Inilah yang disebut cyber sex”. Tentu sekarang saya memahami sekali apa itu cyber sex. Justeru memahaminya jauh lama sebelum menonton film ini. Majalah-majalah banyak menulis penjelasan tentang phone sex dan virtual sex menggunakan jejaring internet. Membuat dunia onani seperti yang tak pernah terpikir oleh ayah kita atau ayahnya ayah kita dahulu.

Tahun lalu, saya nonton film berjudul Her. Film yang bercerita tentang kaitan dunia maya dengan dunia realita. Hubungannya persis seperti manusia dan udara. Bagaimana dunia 50 tahun kedepan, dikuasai perusahaan-perusahaan pencipta operation system yang menawarkan beragam produk. Tidak hanya media sosial, tetapi juga media-media privat. Misalnya software sekretaris pribadi yang bisa dipilih laki-laki atau perempuan.

Piranti lunak berbentuk operation system ini dibuat dimana sang sekretaris yang hanya berwujud suara yang kita dengar melalui gawai, komputer, mahupun televisi yang terkoneksi ke internet. Dapat membantu membaca dan membalas email kita, menyusun jadwal kegiatan, menjadi mesin pengingat, mesin laksana google, memberi masukan-masukan baik bersifat pribadi mahupun tentang pekerjaan. Piranti ini bertindak profesional dalam segala bidang. Kita seperti memiliki teman, sekretaris, dan sekaligus konsultan. Kita merasa tak memerlukan teman yang lain termasuk isteri, suami mahupun tetangga disebelah rumah.

Saya pikir ini sangat mungkin terjadi. Bahkan lebih cepat dari yang diperkirakan. Sekarang saja, ketergantungan kita pada piranti lunak sudah pada kadar kebutuhan pokok kehidupan. Kita bisa melakukan semua aktivitas hanya dengan modal telepon genggam atau gawai yang terhubung ke internet. Begitu juga kehidupan sosial kita, cukup terlayani facebook, path, twitter, instagram dan media sosial lainnya. Sama halnya dengan dunia orgasme, juga bisa dijawab oleh alam yang lain ini juga.

Jepang dan Singapura memberi bukti tentang ketergantungan manusia kepada dunia digital, semangat kerja keras, dan bentuk dari individualisme manusia. Bahkan pembangunan institusi keluarga sebagai ikatan sosial terkecil dalam masyarakat bukan lagi sesuatu yang menarik. Struktur terkecil dari ikatan sosial masyarakat ialah individu. Dan yang paling besar juga individu. Manusia tak perlu lagi repot karena kita seperti punya dunia sendiri dalam dunia yang semakin lebar. Teknologi mampu merevolusi kebudayaan seksiologi kita. Apalagi untuk hal-hal yang lain? Saya semakin percaya, teknologi adalah imam perubahan. Ia lahir dari pengetahuan-pengetahuan manusia.

Saya beruntung pernah hidup di beberapa zaman, sejak era sahabat pena, email, pager, handphone, Yahoo Messenger, friendster, facebook, dan sekarang entah apalagi. Di era sahabat pena berlomba-lomba kita berkorespondensi ke penjuru nusantara, berkoleksi perangko dan saling tukar foto. Berlomba membubuhkan foto disetiap majalah yang menyediakan sudut untuk sahabat pena. Mungkin ramai juga remaja saat itu yang mendapatkan cinta lewat goresan surat sahabat pena. Tentu mereka tak pernah orgasme dengan surat-surat itu. Tentu tak ada istilah letter sex atau sex by letter. Begitulah dunia merevolusi dirinya sendiri; semudah lelaki melakukan onani.

Apa yang bisa membuat dunia melakukan revolusi? Membuat perubahan mendasar pada prilaku manusia. Merombak struktur sosial dan kebudayaan masyarakat. Teknologi mampu melakukannya. Dulu, awal abad XIX mesin uap menjadi pemicu revolusi dunia. Menghidupkan perang dimana-mana, baik dengan mesiu mahupun gagasan-gagasan. Meluluh lantak feodalisme, menggusur raja-raja feodal yang bodoh, yang tak mahu berkompromi dengan modernisasi. Nasionalisme dan sosialismepun tumbuh dimana-mana melakukan koreksi terhadap kapitalisme yang lahir dari rahim revolusi industri.

 

Era itu sudah selesai. Kini dunia telekomunikasi, informasi dan telematika menjadi mesin penakluk ruang dan waktu. Penaklukan inilah yang menjadi alat ampuh perubahan dunia. Saya percaya ini. Kita sedang berada di alam setelah modernisme. Bahwa nasionalisme kita bagian dari universalisme. Bahwa keberagaman bagian dari persatuan kita. Bahwa kebenaran tak lagi absolut. Bahwa kita warga negara dunia. Bahwa kolektivisme kita ialah penghormatan kepada kebebasan individu. Bahwa piranti-piranti lunak semakin meninggalkan ketergantungan kita kepada manusia dan negara. Kita sedang diambang perubahan dunia.

 

Lantas dimana peran partai politik?.

Bukankah menurut Lenin, partai politik menjadi mesin utama perubahan?. Bukan, partai politik merupakan produk dari revolusi industri itu sendiri. Kedepan, karya dari revolusi telematika.

 

Partai politik harus menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi. Ia tak bisa menepuk dada sebagai sentrum perubahan lantaran monopoli kekuasaan ada ditangannya. Partai politik dan kekuasaan dalam masyarakat yang demokratis didikte oleh realitas yang dibentuk dunia telematika. Hanya ilmu pengetahuan yang abadi, pencipta dari segala teknologi.

 

Lantas, apa sikap kita? Kita perlu jemput perubahan itu. Persiapkan semua kemudahan kepada dunia telekomunikasi, informatika dan telematika. Tak perlu risau apapun karena perubahan itu bagian dari sunnatullah.

 

Jakarta, 22 Agustus 2015.