Namanya Kautsar

Munawar Azis (Ajes). Mahasiswa Aceh di Australia.

Namanya Kautsar. Beberapa teman memanggilnya lain. Mungkin disesuaikan dengan waktu dan keadaan tersendiri.

Aku mendengar namanya ketika masih duduk dibangku SMA. Lima atau 16 tahun yang lalu.Mengenalnya lebih dekat setelah terperangkap dalam jebakan arus gila pemuda-pemuda kampus. Kepopulerannya dikalangan pemuda -apalagi pemudi- kala itu, menurutku disebabkan oleh keliaran aktifitasnya di kampus. Dimana hingar-bingar jalanan menuntut penjatuhan Suharto, dan pekik-pekik anti militerisme berkumandang dimana-mana melalui pengeras suara. 

Kautsar adalah salah seorang dari sedikit pemuda berpikiran maju kala itu. Keyakinanku, hal ini pulalah yang menjadikan namanya berkibar di kalangan pemuda. Kelebihan lainnya yang kusaksikan sendiri, antaralain keberaniannya dalam mengambil keputusan dan bertindak. Terlepas dari benar atau tidaknya keputusan atau tindakan itu. Keberanian dan pemikiran kritisnya juga memberikan sumbangan yang besar bagi kemajuan gerakan politik pemuda dan demokrasi di Aceh (dan tentusaja Indonesia).

Pengalamanku berorganisasi dengannya, memiliki banyak warna. Organisasi ini berisikan pemuda keras kepala dan kritis. Sehingga tidaklah mudah untuk memenangkan sebuah pendapat, sebelum mempertahankannya dengan gigih dan melawan para kepalabatu. Bahkan, Kautsar sebagai pimpinan organisasi inipun tidak terlepas dari kesulitan. Diapun pada akhirnya keluar dari organisasi ini dikarenakan keyakinannya yang tidak mendapatkan restu mayoritas.

Pada masa sulit, keunikan lainpun ditunjukkannya. Sebagai contoh, pada saat ruang berekspresi menyempit, pemuda-pemuda kritis ditangkapi. Media kehilangan independensi. Pedagang mengurangi jam jualan. Petani memilih meninggalkan sawah dan lading. Orang-orang berbisik, tak lagi bersuara lantang. Bahkan banyak yang pergi meninggalkan kampung. 

Bagi sebagian besar aktifis yang tersisa, ide membangun gerakan solidaritas dari luar Aceh merupakan solusi realistic, terhadap himpitan teror darurat militer. Kautsar, kala itu justru mempunyai rencana lain. Dia besikukuh bertahan di pedalaman hutan bersama pejuang-pejuang Gerakan Aceh Merdeka. Menyatu secara utuh kedalamnya. Menunjukkan kesungguhannya bertahan bersama rakyat Aceh; sebuah keputusan yang dengan tegas menghindarkannya dari pangkat coksilop yang sering ditabalkan untuk pelarian di kemudian hari.

Sejak mendengar pencalonannya sebagai caleg dari kampungku, kurasai gatal tanganku muncul untuk menuliskan sesuatu. Berharap kawan, sanak dan famili sekampungku dapat mengenalnya dengan lebih baik. Menentukan pilihan mereka dengan bijak. Bersamanya kuyakin; Peudada dan Bireun akan berkembang dengan pesat.

Tak ada pesan lain yang kutinggalkan selain: “Jak ta dukong Kautsar kalinyoe!!!”

Munawar Azis, Mahasiswa Aceh di Victoria University, Melbourne,  asal desa Blang Kubu, kecamatan Peudada, Bireun.