Munir

“Dia Jawa yang berbeda”. Ungkapan Abdullah Syafii’, Panglima GAM (Gerakan Aceh Merdeka) kepada sosok Munir.

Ketika rakyat Aceh melihat Jawa sebagai sinonim penindasan, Munir menjadi pengecualiannya. Dia memberitahu orang Aceh, prilaku kejahatan kemanusiaan bukan bawaan suku atau bangsa, melainkan tabiat negara yang masih memberi kewenangan politik kepada tentara.

Aceh pernah menolak semua identitas Indonesia, baik lembaga pemerintah atau non pemerintah. Tidak demikian halnya dengan KontraS (Komite Untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan). Ketika menjadi relawan KontraS Aceh, saya merasa mudah diterima semua pihak di gampong-gampong pelosok yang sedang trauma dengan Indonesia. Mudah diterima para pemuda yang sedang dirasuki nasionalisme Aceh. Itupun, lantaran satu alasan; Munir, SH.

Kini, dua-duanya telah tiada. Abdullah Syafii’ tewas ditembak TNI dalam operasi militer di Aceh. Munir tewas diracun aparatur intelijen negara di bandara Changi, Singapura.

Munir. Postur badannya tidak besar. Tak sebesar efek foto di koran atau majalah yang menulis keberaniannya. Kulitnya putih. Rambutnya bergelombang dan pirang. Penampilannya necis. Dia senantiasa bercelana bahan dan berkemeja rapi, tidak seperti kebanyakan aktivis. Bertemu pertama kali di Banda Aceh pada 1998. Munir datang mendeklarasikan KontraS Aceh di kantor YLBHI (Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia), di lantai dua Pasar Aceh.

Dalam deklarasi tersebut, Munir mengeluarkan beberapa catatan penting. Menyeru institusi TNI segera membebaskan masyarakat sipil, yang masih disekap di tangsi militer seluruh Aceh. Mendesak negara melakukan investigasi dan bertanggungjawab terhadap pelanggaran HAM masa DOM (Daerah Operasi Militer) berlaku di Aceh.

Pasca reformasi berhasil menjatuhkan Soeharto, Munir meminta negara segera mengakhiri status DOM Aceh. Munir datang tak lama setelah DOM dicabut, dan TNI sedang melakukan penarikan pasukan secara bertahap dari Aceh. Ia menjadi motivator utama aktivis HAM.

***

Di Jakarta, Munir menempati ruang kerja kecil di bagian belakang kantor YLBHI, Jalan Diponegoro 74, Jakarta Pusat.

YLBHI memberi fasilitas “tiga ruangan kecil-kecil” kepada Munir dan rekan-rekan KontraS bermarkas. Menuju ke ruang itu, kita akan melewati sebuah ruangan tengah yang biasa dipakai Munir melakukan temu pers terkait advokasi yang dilakukan KontraS. Dari ruang-ruang itulah -sejak reformasi hamil tua- mereka bergumul melawan negara. Munir dan kawan-kawan sejak 1990-an menjadi guru yang baik, mengajarkan penguasa bahwa rakyat tak perlu dilawan, karena sebenar-benar kekuasaan milik rakyat.

Keberanian Munir seketika membahana ke seluruh negeri. Apalagi setelah ia berhasil mendapat informasi tentang 24 aktivis yang diculik TNI. Dia seperti tak memiliki urat takut. Persis tokoh Spiderman dalam bentuk yang lain.

Kehebatan Munir terletak pada akurasi data. Informasi yang keluar dari mulutnya menjadi kebenaran aktual. Suaranya menebar ketakutan bagi kalangan jenderal pelanggar HAM. Munir menjadi buruan wartawan. Dia melayani semua wartawan, meski hanya seorang jurnalis majalah kampus. Munirpun menjadi media darling serta Man of The Year  tahun 2000 versi majalah Ummat.

Bagi aktivis Aceh, Munir punya tempat tersendiri. Dia masyhur dikalangan aktivis mahasiswa dan LSM Aceh yang lantang bicara HAM. Dia punya jasa besar melakukan internasionalisasi kasus Aceh.

Komunikasi terakhir saya dengan Munir terjadi pada 2003. Almarhum membantu saya mencari Zulfikar dan Mukhlis. Dua aktivis yang sampai sekarang masih hilang karena ditangkap paksa satuan gabungan intelijen di Bireuen.

Masyarakat Aceh perlu memberi penghormatan yang layak kepada almarhum, yang mendedikasikan hidupnya, memberi konstribusi banyak untuk perdamaian dan penegakan HAM Aceh.

Meski Aceh kerap di cap pelupa atas jasa bantuan komunitas solidaritas luar Aceh, selaku pribadi yang baik, sebait doa perlu kita kirimkan kepada almarhum. Semoga semua perlawanannya dinilai sebagai amal shaleh dan diberi derajat sebagai orang yang syahid. Amien…

Banda Aceh, 7 September 2014