Monolog

Politik itu ruang berisi, bukan ruang kosong. Bentuknya tidak tetap, berarti berubah-ubah. Supaya bisa disebut, sebuah ruang membutuhkan nama. Perlu garis, bundar, segi empat atau segi lima. Lalu, bentuk ini melahirkan eksistensialisme yang bisa melakukan apa saja. Termasuk membunuh teman, anak atau ayah kandungnya sendiri. Begitulah politik menerjemahkan diri dalam ruang besar kehidupan.

Politik adalah gerakan mencapai tujuan. Merupakan manifestasi cipta, karsa dan kehendak kemanusiaan. Sering sekali dalam tindakannya, politik lari dari tujuan. Kemudian, terjebak dalam eksistensialisme bentuk ruang yang diciptakan sendiri. Sesat dalam simbol-simbol yang terkadang mempersempit tujuan dasar sebuah gerakan politik dicetuskan.

Di Indonesia, ketika politik identitas meninggalkan dirinya sendiri. Partai politik menjadi kosong. Ia menjadi ruang tak terbedakan antara bundar, petak atau persegi delapan. Politik menjadi seperti air, yang mengikuti segala bentuk ruang yang ada. Partai politik persis seperti bungkusan kacang di super market yang beragam bentuk, warna dan ciri khas tertentu tetapi cita rasa yang sama; hanya sebuah kemasan saja.

Sistem pemilu Indonesia semakin terbuka, semakin lansung, dan semakin individual. Undang-undang pemilu memposisikan calon legislatif sebagai sentrum; ‘siapa yang mendapat suara terbanyak dalam pemilihan, berarti berpeluang mewakili rakyat’. Peran partai tinggal sedikit lagi; menjadi hanger bagi politisi mendapat pekerjaannya.

Dimana gunanya partai politik? Tidak lebih sebagai kendaraan bagi politisi yang ingin menjadi anggota pengatur anggaran negara. Selebihnya memang tidak berguna.

Partai politik tak memiliki arah. Di era ini, berpartai, menjadi calon legislator, dan jabatan politik lainnya hanya bicara tentang kesempatan kerja di negara yang semakin sulit mencari pekerjaan.

Dalam identitas yang semakin tak perlu, partai politik dimasa akan datang tak ubah sebuah perusahaan cleaning service. Penyedia jasa pelayanan kebersihan masyarakat. Partai politik bertugas memberi jasa pelayanan perwakilan masyarakat. Pekerjaan didapat sama seperti perusahaan yang mengikuti lelang tender di kantor pemerintah dan swasta. Partai juga begitu; ikut tender saban lima tahun sekali untuk pemilu, lima tahun sekali untuk Pilkada dan lima tahun sekali untuk Pilpres.

Partai politik –saling memaki dan menghasut- setiap lima tahun sekali. Mereka diadu sesama partai politik melalui hajatan rakyat yang ongkosnya dibebankan kepada negara. Setelah itu, partai-partai yang bersaing tadi, menjadi teman bahkan keluarga dalam sebuah oligarki kekuasaan.

Rakyat marah? “Ya”. Apakah ada tawaran alternatif? “Tidak”. Lantas apa? Golput atau tidak ikut memilih. Terus, bagaimana dengan pemilu? Itu sebuah kenduri siklus pengurai kekuasaan.

Kenduri menjadi komoditi pihak-pihak yang terlibat didalamnya. Ada pengusaha, tukang cetak spanduk, baliho, stiker dan alat peraga lainnya. Ada tukang naikkan spanduk, penjaga alat peraga yang sewaktu-waktu bisa diturunkan pemuda gampong lantaran belum membayar jasa keamanan. Ada jasa mobilisasi dukungan, tukang sound system, wartawan, polisi, penjaga suara, rakyat pemilih, bahkan panitia pelaksana pemilu. Semuanya ada rate tertentu. Ada angka-angka yang harus dibayar seorang politisi peserta pemilu.

Demokrasi memang milik orang kaya dan si miskin hanya pencari kerja musiman.

Walaupun tak semua, dalam keadaan seperti ini, Masyarakat akhirnya bukan memilih partai tetapi individu yang dianggap layak dan mampu memenuhi libido prakmatisme mereka.

Apakah anda percaya dengan tugas mulia politik menurut Aristoteles? sebagai usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama.

“Saya percaya. Lalu, bagaimana? Kita lihat saja nanti”.

Bagaimanapun juga, rakyat menjadi juri dan tangan Tuhan. Parlemen atau pemimpin yang dilahirkannya adalah perwujudan kesadaran masyarakat, manifestasi dari kebudayaan yang sedang berkembang.

Tulisan ini tidak dalam kerangka menyudutkan siapapun. Tidak partai politik, masyarakat, apalagi negara. Ini sebuah kontemplasi pribadi, seorang manusia yang sedang bicara pada dirinya sendiri. Dia ngeracau kemana-mana persis seperti orang yang bicara dalam tidurnya.

Gambaran diatas adalah realitas keseharian kita. Perlu ditemukan benang merah yang bisa menghubungkan situasi saat ini dengan rencana perubahan masyarakat dan negara. penemuan ini kemudian menjadi energi positif bagi sebuah evolusi perubahan negara.

Hati-hati! Tulisan ini tidak boleh dibaca sendiri-sendiri dengan suara yang keras karena orang-orang akan berfikir si pembaca tersebut menderita kekurangan hemoglobin.

Banda Aceh, 11 Agustus 2014