Merokok

‘Tidak merokok berarti bukan laki-laki’. Semboyan ini –mungkin- menjadi pendorong lelaki merokok. Ada sisi maskulinitas pada rokok. Kedewasaan dan kemapanan seseorang diukur dari merek rokok yang ada dalam kantongnya.

 Saya perokok aktif selama lima belas tahun. Tak pernah berfikir mampu berhenti. Niat untuk itu sudah ada sejak tahun 2000. Waktu itu, saya memahami bahwa merokok adalah tabiat orang terbelakang. Bukan bagian kebudayaan modern. Semangat modernitas ini membuat saya selalu berfikir berhenti merokok.

Tahun 2000, saya berkunjung ke Sidney, Australia. Disana harga rokok mencapai  Rp. 120.000,- dibanding harga tanah air Rp. 7.000 per-bungkus. Saya pikir, inilah  kesempatan pertama bisa berhenti merokok karena harga yang mahal. Rupanya salah. Masyarakat Aceh Australia punya tabiat yang sama seperti di Aceh, maniak rokok. Mereka menjejal saya berbungkus-bungkus rokok sebagai bentuk solidaritas perjuangan. Akhirnya bibir ini terus mengepulkan asap sepanjang hari. Didukung cuaca Sidney yang sama dengan Takengon. Sangat pas untuk merokok.

Kesempatan kedua berhenti merokok pada Juli 2001. Saya ditangkap Polres Aceh Besar. Dituduh menyebar kebencian kepada pemerintah yang sah. Saya dikurung di Polres selama 60 hari. Waktu itu masih bermarkas di Jambo Tape, Banda Aceh. Dilanjutkan 60 hari lagi dalam tahanan kejaksaan, ditempatkan di penjara Keudah, Banda Aceh.

Penjara. Bayangan saya seperti dalam film. Akses hubungan keluar pasti tertutup rapat. Tiba-tiba saya berfikir, “Ini saatnya berhenti merokok”. Nyatanya, persis pengalaman di Australia. Hubungan saya kepada rokok sama seperti diluar penjara. Dalam penjara rokok bisa berlebihan. Hampir setiap yang berkunjung membawa rokok berbungkus-bungkus. Malah teman-teman seorganisasi yang berkunjung saya hadiahi rokok. Akhirnya niat berhenti merokokpun hilang seketika.

Kesempatan ketiga berhenti merokok yaitu ketika presiden Indonesia, Megawati Soekarnoputri mengumumkan pemberlakuan darurat militer Aceh, 19 Mei 2003. Pemberlakuan ini membuat saya bersama pasukan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) harus melakukan gerilya total. Meninggalkan gampong menuju hutan. Tempat tanpa kios penjual rokok. Dengan begitu, tiba saatnya saya berhenti merokok.

Dugaan saya salah lagi. Hutan tempat kami bermukim tak jauh dari gampong. Akses terhadap rokok juga masih sangat mudah. Malah sebenarnya kami lebih sering di gampong daripada di hutan. Saya tak mampu menghentikan kebiasaan buruk ini.

Ketika berada di hutan, tentu harus berhemat menghisap rokok. Kami tak bisa menjangka seberapa lama akan terputus dengan kaki-kaki logistik di gampong. Cara efektif menghemat adalah mencampurkan tembakau rokok dengan daun ganja yang tersebar di kebun-kebun illegal dalam hutan.  Pernah suatu ketika, persediaan rokok habis total. Mulut-mulut kami tak bisa lagi mengepulkan asap. Jalan keluarnya, kami harus menghisap daun ganja murni tanpa campuran tembakau. Disini ganja bisa didapat secara gratis, sedangkan rokok harus dibeli.

Meski demikian, saya tak pernah kecanduan ganja. Bagi saya efek bodoh lantaran ganja yang dapat menyerang saraf manusia  lebih menakutkan daripada efek mati serangan jantung akibat rokok.

Saya terus menerus menjadi perokok yang tak tahu kapan bisa berhenti. Meski  niat untuk itu selalu ada dalam hati.

Suatu ketika, pasca perdamaian Aceh 2005, ada trik baru yang  saya lakukan yaitu; tetap merokok tapi berhenti membeli rokok.

Jatah uang yang biasa saya siapkan untuk beli dua bungkus rokok perhari, saya masukkan dalam celengan.  Selanjutnya, setiap ingin merokok, saya hanya mengambil punya teman.

Tujuan yang ingin dicapai, pasti kita hanya akan merokok ketika hasrat merokok tak mampu terbendung lagi. Kita tak mungkin merokok banyak hanya mengandalkan rokok teman. Pastinya harus malu menjadi tukang hisap yang tak pernah menjadi tukang beli. Jumlah batang rokok yang dihisap ter-reduksi secara tiba-tiba.

Dengan seperti ini, tentu saya tak membawa rokok ke rumah. Merokok di rumah? Itupun jika ada teman yang datang.  Merokok hanya dilakukan di teras, bukan didalam rumah. Sedari awal, saya berkomitmen kepada isteri bahwa dalam rumah dan mobil harus bebas asap rokok. Dengan seperti ini saya melatih diri sendiri mengurangi rokok.

Ketika sering melakukan perjalanan Banda Aceh-Bireuen-Aceh Timur, kadang tak tahan bila tidak merokok.  Ini adalah aktifitas berkendaraan yang lama, memakan waktu 7 jam. Jalan keluar yang saya ambil ialah memberhentikan mobil, lalu keluar dan merokok sambil istirahat dipinggir jalan. Tindakan ini saya lakukan saban kali ingin merokok dalam mobil.  Meski terkadang dalam mobil hanya ada saya sendiri.

Saya melakoni kedisiplinan ini dalam waktu tiga bulan lebih. Rokokpun tak kunjung bisa berhenti. Lalu saya tak tahan hati selalu menghisap rokok teman. Akhirnya saya memutuskan berhenti untuk tidak membeli rokok. Selanjutnya,  setiap saya ingin merokok, saya harus membelinya. Saya kembali ke kehidupan perokok normal. Batas yang saya jaga hanya saya tak merokok didalam rumah, dikamar hotel, dikawasan yang ada balitanya, didalam mobil dan ruangan berpendingin udara.

Menurut salah satu artikel yang saya baca dari sebuah majalah lifestyle laki-laki, Meanshealth. Dituliskan bahwa berhenti merokok tidak harus ditempuh dengan menyiksa diri melalui berbagai pola diet rokok yang berlebihan. Perokok yang ingin berhenti tidak perlu melakukannya dalam keadaan yang tertekan.

Saya menanyakan beberapa teman mantan perokok tentang pengalaman berhenti merokok. Selalu saja jawaban mereka simple. Berhenti, ya berhenti saja, tak perlu berkompromi dengan metode “mengurangi” atau “pelan-pelan” karena merokok tak bisa dihentikan dengan cara menguranginya tetapi hanya dengan terobosan “stop” dan tak melakukannya lagi.

Ada banyak pesohor dunia yang meninggalkan tabiat merokok. Saya sangat tersentuh dengan wawancara Mick Jagger di majalah The Rolling Stone Indonesia. Ditulis, Mick meninggalkan rokok lantaran alasan kecantikan. Dia takut terlihat cepat tua karena rokok mengandung zat adiktif yang asapnya bisa bikin kulit cepat keriput, kusam, dan iritasi. Kesimpulan saya, tidak merokok adalah gaya hidup modern, terpelajar dan bagi pria pasti terkesan maskulin karena tak ramai yang bisa mengendalikan pengaruh nikotin.

Saya tak menggubris lagi soal rokok. Meski kadang masih sering browsing hal menyangkut pola hidup sehat. Hasilnya, ada bentuk disiplin baru yang saya terapkan pada diri sendiri.

Pertama, membiasakan olah raga lari – jogging dan berenang. Dalam seminggu bisa tiga sampai empat kali. Kedua, membiasakan diri dengan aneka macam makanan lezat. Hal ini dilakukan dengan uji coba resep-resep baru yang bisa didapat dari internet atau berwisata kuliner. Tujuan yang dimaksud yaitu, melatih mulut dan indera pengecap agar sensitif akan cita rasa yang masuk kedalam mulut.   Ketiga, mengkonsumsi sayur mayur dan buah-buahan dalam jumlah yang banyak. Keempat, minum susu secara teratur. Kelima, menghentikan konsumsi gula kedalam minuman. Minum teh, kopi dan juice tanpa gula. Keenam, membiasakan mengisap cerutu dari Amerika latin.

Disiplin makanan ini dilakukan dalam tiga bulan pertama, terasa pengaruhnya pada metabolisme tubuh. Memang terasa berat, terutama menjauhi gula pasir pada minuman. Khusus untuk kopi, awalnya saya tidak menolak gula secara ekstrim karena tak tahan dengan pahit kopi. Jalan keluarnya, gula yang disedu dalam air tidak diaduk. Sehingga manis gula yang larut dalam air dapat mengurangi pahit kopi.  Berbeda dengan kopi Arabica, yang dapat dinikmati tanpa gula sama sekali karena kelat yang dimunculkan menjadi kenikmatan tersendiri. Sejak mengkonsumsi kopi Arabika, secara total saya mampu menolak campuran gula dalam kopi.

Pengaruh disiplin kesehatan ini berdampak besar pada penolakan tubuh terhadap rokok. Tiba-tiba saya merasa tak ada lagi rokok yang nikmat untuk dikosumsi. Saya mencoba semua merek rokok, dan kesemuanya tak lagi nikmat dihisap. Mulut menolak, karena tak nyaman dengan asap rokok, tenggorokan terasa nyeri bilaa disentuh asap rokok. Akhirnya, saya memutuskan  berhenti merokok.

Tidak hanya berhenti disini, tubuh saya juga menolak minuman berkarbonat seperti coca cola. Tidak makanan mie instan. Jenis makanan dan minuman ini terasa tidak nyaman dimulut ketika dikosumsi.

Saya bersyukur dengan anugerah ini, meski melakukannya tanpa maksud ingin berhenti dari merokok.