Menipu Jepang Pada Sabuk Pengaman

Tahun 1986 Abu membeli sedan Corolla tua build up Jepang tahun 1973 warna putih. Itulah mobil pertama keluarga kami. Mobil ini dilengkapi sabuk pengaman disetiap kiri-kanan pintu bersampingan dengan tempat duduk.

Saya ingin sekali merasakan sensasi memakai sabuk pengaman, karena setiap film seri yang tayang di TVRI – satu-satunya saluran tv yang tersedia masa itu-  anak muda mahupun banditnya selalu memakai sabuk pengaman saat mengemudi mobil. Sesuatu yang tak dilakukan oleh Abu dan supir keluarga kami.

Pernah saya coba memakainya tapi tak bisa karena postur tubuh saya sebagai anak-anak tak berkesesuaian dengan sabuk tersebut. Artinya sabuk itu tak didesain untuk anak-anak.

Tahun 1987, Abu membeli lagi mobil keluaran terbaru; Toyota Super Kijang, mobil berlisensi Jepang dirakit di Indonesia. Abu membeli sedari baru. “Pluk keureutah”, demikian orang Aceh menyebutnya.

Heran saya, mobil baru ini tak dilengkapi sabuk pengaman layaknya mobil terdahulu kami yang tahun keluarannya jauh lebih tua.

Memang beda mobil dirakit langsung dari Jepang dengan rakitan Indonesia, yang pastinya mengikuti kearifan lokal bahwa keamanan dan keselamatan bukan faktor penting. Dimana memakai sabuk pengaman saat mengemudi belum membudaya.

Tahun 1992 pertama sekali saya ke Kuala Lumpur, tahun berikutnya, 1993 juga menjadi kali pertama saya bertandang ke Singapura. Di dua negara itu, akhirnya saya merasakan sensasi memakai sabuk pengaman. Memakai sabuk pengaman merupakan kewajiban dalam berkendaraan di dua negara ini. Kewajiban yang sudah menjadi kebudayaan. Setua apapun mobil yang lalu lalang di jalan pasti dilengkapi sabuk pengaman.

Begitulah disiplin lalu lintas di negara orang. Penjahat sekalipun, pasti memakai sabuk pengaman.

Mobil keluaran Jepang diatas tahun 2017 hampir semua memiliki fitur pengingat untuk memakai sabuk pengaman. Ketika mengemudi dalam kondisi belum mengenakan sabuk pengaman, anda akan mendengar alarm yang notasinya mendenyutkan gendang telinga. Tanda ada yang belum mengenakan sabuk pengaman; baik anda sebagai supir atau orang disamping anda.

Memakai sabuk pengaman bagi kita di negara ketiga masih budaya baru. Masih harus dipaksakan. Undang-undang lalu lintas menjatuhkan hukuman pidana kurungan dan denda uang bagi yang kedapatan tidak menggunakan sabuk pengaman ketika berkendaraan. Padahal yang akan terjaga keselamatannya adalah kita sendiri. Kita merasa ribet dengan sabuk yang menempel di sisi kiri dan kanan mobil.

Kita merasa disibukkan dengan sesuatu yang “tak bermanfaat” itu.

Untuk tak memakainya juga tak mungkin karena bunyi alarm cukup mengganggu. Mungkin kalau didengar dalam durasi yang lama bisa memekakkan telinga kita.

Orang Indonesia pasti tak habis pikir. Ilmu olahnya bangkit. Bagaimana menipu Jepang si pemilik lisensi mobil?

Baru-baru ini didalam mobil, saya menemukan sejenis alat yang mirip kepala sabuk pengaman. Bedanya ia tak tersambung tali atau sabuk. Hanya kepalanya saja.

Kepala tanpa sabuk itu dicolokkan ketempat kepala sabuk pengaman dimasukkan. Tekanan yang dihasilkan meredakan bunyi alarm. Dan kita tak perlu memakai sabuk pengaman. Akhirnya kita bisa menipu Jepang.

Isteri saya punya pengalaman menarik soal sabuk pengaman. Suatu hari dalam perjalanan ke Medan menggunakan jalur darat. Sesampai di Aceh Timur mobil yang ditumpanginya terbalik. Kebetulan ia duduk di bangku depan, disamping sopir serta memakai sabuk pengaman. Saat terbalik ia tak mengalami benturan apapun karena badanya terikat sabuk pengaman. Teman yang duduk dibelakangnya kebetulan tak memakai sabuk pengaman. Ia mengalami benturan. Wajahnya terantuk belakang tempat duduk supir dan merontokkan semua gigi depannya.

Saya juga pernah punya pengalaman sama. Dalam perjalanan mobil dari Aceh Timur ke Banda Aceh, sesampai di Glumpang Minyeuk, Pidie, mobil yang saya tumpangi terjun bebas ke persawahan yang kecuramannya termasuk sangat rendah dibanding badan jalan. Alhamdulillahsaya tak mengalami benturan apapun. Sementara supir disamping saya tak memakai sabuk pengaman, badannya membentur stiur mobil sehingga stiurnya patah. Si supir ini termasuk ajaib lantaran berpostur pendek kekar dan hitam, rusuknyapun tidak patah, hanya mengalami trauma biasa saja.

Masihkah kita ingin menipu Jepang?

 

Tanggerang, 13 Oktober 2019