Makan, Makanan.

Hampir setiap penyakit pada manusia disebabkan asupan makanan kedalam tubuh. Disanalah nikmat dan malapetaka berkontradiksi. Bisa jadi nikmat membawa sengsara atau sengsara membawa nikmat.  Konsep berkeadilan, proporsional, moderat, tidak berlebihan dan berkeseimbangan dibutuhkan setiap individu, supaya kenikmatan makanan menjadi kenikmatan yang sebenarnya.

Ketika pasien mengunjungi dokter, perihal pertama yang diperiksa ialah darah dan air seni. Makanan memproduksi darah manusia. Lalu dokter memberi nasehat, “Anda dianjurkan makan ini dan itu, serta tidak dianjurkan atau bahkan melarang makan ini dan itu”. Betapa vitalnya makanan bagi manusia. Bisa menghidupkan dan mematikan.

Makan ialah kata kerja kedua yang dilakukan manusia ketika lahir kedunia. Setelah menangis pasti akan menyusui. Bagi yang bisu bawaan, makan malah menjadi kata kerja pertama.

Ketika saya belajar Marxisme pemula, si mentor mengatakan penindasan pertama sekali terjadi di bumi dimulai dari cara mendapatkan makanan dan pada akumulasi makanan yang dilakukan manusia. Marx bicara tentang pengelolaan makanan pada sebuah masyarakat primitif dipermulaan peradaban.

Lalu, politikpun lahir.

Dari sini petaka peradaban dimulai. Ketika orang-orang Portugis, Spanyol, Inggris, Perancis dan Belanda membangun kapal-kapal besar. Melayari samudera hanya untuk mengumpulkan makanan-makanan yang tak dimiliki negeri mereka. Makanan juga menjadi alasan VOC dibentuk di nusantara. Dan penjajahanpun terjadi dimana-mana. Lalu nasionalisme dan sosialisme lahir, dan perang tak terelakkan.

Perang juga  memerlukan  makanan. Kecukupan makanan menjadi aspek penting negara memenangkan perang. Pengalaman saya bersama GAM dihutan mengempiriskan betapa       penting  makanan. Melebihi kepentingan peluru dan senjata. Ketika itu, supaya musuh terkelabui, dalam berkomunikasi sesama GAM kata sandi untuk menyebutkan peluru dan beras dipakai saling terbalik; peluru untuk menyebutkan beras dan beras untuk menyebutkan peluru. Terlihat bagaimana keduanya menjadi hal yang penting dan saling berketerkaitan didalam perang.

Apa yang bisa membuat perdamaian? Rasa aman dan makanan yang tercukupi. Itulah kunci perdamaian Aceh dengan alokasi 2% dari dana  umum APBN. Dan untuk membuat itu langgeng juga dengan manajemen makanan.

Mengatur   negeri     kuncinya      juga   pada   pengendalian   dan   pengelolaan      pangan.      Presiden     Indonesia  mendeklarasikan ketahanan pangan sebagai salah satu program prioritas negara dimana TNI digiring terlibat disana. Kenapa? Pangan adalah bagian dari pertahanan nasional.

Krisis rupiah baru-baru ini membuat warga Indonesia khawatir. Politisi pro kekuasaan juga khawatir akan adanya gerakan perlawanan menurunkan Jokowi. Kepada mereka, saya sampaikan jangan gundah. Menurut saya, dolar bisa naik berapa saja dan memukul rupiah di berapapun. Yang harus dijaga hanya harga pangan dan ketersediaan pangan. Rakyat akan berontak ketika mereka lapar dan negara tak punya stok walau hanya untuk mengalasi perut mereka.

Selain itu, jangan pernah kekang kebasan rakyat berkreasi. Rakyat yang lapar dan terkekang adalah malapetaka kekuasaan. Kebebasan adalah hiburan, sesuatu yang menenangkan. Rakyat bisa saja makan satu kali satu hari saja, asal hiburan mereka yang lahir dari kebebasan dan demokrasi tak pernah dibatasi. Selama itu mereka tak akan melawan kecuali diambang mati baik perut mahupun kehendak

Ketika di sosialkan, rupanya bukan hanya makanan yang jadi aspek penting. Tapi bagaimana makanan itu didapat, menjadi lebih penting. Islam tidak hanya bicara terminologi makanan haram dari unsur zat atau material makanan itu sendiri. Islam juga bicara terminologi halal dan haram dari aspek bagaimana bahan makanan itu didapatkan.

Tak hanya sampai disini, Islam juga menjelaskan bahwa makan tak boleh berlebihan, sesuatu yang halal bisa dilarang ketika itu dilakukan dengan cara berlebihan. Kita dianjurkan supaya proporsional. Ilmu kesehatan juga menekankan hal yang sama. Makan berlebihan bisa menyebabkan kegemukan yang bisa berbahaya untuk jantung.

Tapi kenapa masih tak proporsional? Peraturan dan nilai yang ada bukan sepenuhnya untuk dipatuhi cukup untuk diketahui dan menjadi buah pikir kita manusia.

Banda Aceh, 05 Desember 2015.