Liberalitarian, Kapitalisme dan Sekulerisme dari Ruang Kelas

Pagi di awal Oktober 2016. Satu kelompok yang terdiri dari enam mahasiswa mendapat giliran mempresentasikan tulisan tentang Perbandingan Hukum: Common Law dan Civil Law. Keduanya mengenai sistem hukum di Eropa.

Juru bicara kelompok memaparkan keagungan hukum barat yang menjadi rujukan atau diadopsi oleh negara-negara yang pernah dijajahnya. Negara bekas jajahan Inggris (commonwealth) menerapkan Common Law, dan negara bekas jajahan Italia, Perancis dan Belanda menerapkan Civil Law. Artinya, Asia, Afrika, Amerika dan Australia didominasi sistem hukum yang diimpor dari Eropa.

“Kita didominasi oleh kebudayaan barat karena mereka terlanjur cepat maju dari kita”. Menurutnya, ada tiga prinsip pokok yang melatar belakangi lahirnya kedua sistem hukum eropa tersebut: liberalitarian (kebebasan), kapitalisme (pengakuan kepemilikan pribadi) dan sekulerisme (pemisahan agama dari politik dan negara). Demikian disampaikan juru bicara kelompok ini.

Seorang mahasiswa perempuan bertanya kepada juru bicara yang duduk berbaris didepan ruang kuliah. Menghadap sisa mahasiswa lainnya. “Indonesia mencontoh sistem hukum barat, karena mereka lebih dulu maju dibanding kita negara berkembang. Mereka bergerak maju meninggalkan kita jauh dibelakang karena tiga prinsip hidup yang mereka anut; liberalitarian, kapitalisme dan sekulerisme. Ketiga hal ini dipahami sebagai sesuatu yang berbahaya di Indonesia, sesuatu yang harus dicaci didepan umum, sesiapa yang menganutnya dianggap kafir, kebarat-baratan dan harus diwaspadai. Bukankah bila kita ingin maju seperti barat kita harus melihat kedasar-dasar apa yang membuat mereka maju? Kita mencontoh hukum mereka, lalu memuji mereka maju, kemudian mengutuk dasar-dasar yang membuat mereka maju. Pertanyaannya, dimanakah kita?”.

Juru bicara kelompok mengatakan situasi dan kondisi mereka tidak cocok untuk kita yang di timur. Untuk situasi kita yang beragama, kita sudah memiliki Pancasila sebagai falsafah hidup. Tak bisa diutak atik lagi karena disana sudah dicantumkan sila pertama tentang Ketuhanan Yang Maha Esa. Menurutnya, apabila liberalisme, kapitalisme dan sekulerisme dibiarkan berkembang di Indonesia, maka akan merusak tatanan hidup bermasyarakat dan berbangsa.

Mahasiswa perempuan yang bertanya itu semakin bingung. Dia yang duduk tepat dibelakang saya berbisik, “Sepertinya abang bisa menjawab pertanyaan tadi?”. Saya menjawab, “Abang tak punya ide tentang pertanyaan tadi”.

Lalu, saya mengacungkan tangan dan memberi pertanyaan baru, menggiring supaya ruang kelas itu tidak terlalu dalam mendiskusikan tentang liberalisme, kapitalisme dan sekulerisme.

Bireuen, 5 Oktober 2016