Lampuuk : Pariwisata & Kebudayaan.

Lampuuk : Pariwisata dan Kebudayaan

Berbagai media menulis tahun baru 2014 di Banda Aceh tidak meriah karena pelarangan perayaan oleh unsur bersama Pemerintah Daerah/Muspida.

Berbagai pihak mengkhawatirkan, pelarangan ini berdampak pada pencitraan Aceh yang angker dan anti pariwisata. Tentu berakibat pada  berkurangnya jumlah wisatawan yang datang.

Luput dari pemberitaan, situasi di Lampuuk ternyata berbeda. Sebagai warga Lampuuk, saya merasa ada peningkatan limpahan wisatawan mancanegara di akhir tahun 2013. Mereka memilih pantai ini sebagai destinasi, menghindari salju Eropa dan Amerika.

Disini, mereka menikmati matahari, pasir pantai, keramahan masyarakat, gelora ombak, segarnya makanan laut, natal, dan tahun baru.

Mereka datang membawa papan selancar. Laki laki dan perempuan membaur bersama warga disana. Sekilas terlihat para bule itu seakan sudah menjadi bagian komunitas.

Di Lampuuk, diam-diam ada industri yang sedang tumbuh. Jumlah rumah singgah (home stay) bertambah. Semuanya inisiatif masyarakat lokal, bukan bantuan pemerintah. Masyarakat disana menghadirkan suasana yang nyaman dengan citarasa bule. Terasa daya tarik yang lain di Lampuuk.

Saya mencoba mereka-reka, apa penyebab meningkatnya pariwisata disana?. Apakah promosi giat Pemerintah Aceh?. Apakah promosi mulut ke mulut oleh turis yang sudah datang ke Lampuuk?. Bisa jadi juga andil masyarakat Aceh sendiri, menggunakan kemudahan cyber berbicara kepada dunia tentang surga kecil bernama Lampuuk.

Saya tidak sedang mencari siapa yang menjadi pahlawan dari geliat industri pariwisata Lampuuk. Sudah seharusnya semua komponen saling bahu membahu menggelindingkan kebajikan, bekerja dan memberi sesuatu kepada Aceh yang lebih maju.

Pasti ada andil semua pihak disana. Catatan kecil untuk tahun 2014 dan juga tahun seterusnya adalah; bagaimana menumbuhkembangkan semua usaha berbagai pihak . Terutama yang berdampak bagus bagi geliat ekonomi masyarakat.  Sehingga menjadi pemicu tumbuh kembang industri pariwisata Aceh.

Pariwisata Lampuuk bukan cerita kemarin. Lampuuk sudah terkenal sejak dahulu. Ketika Presiden Soekarno berkunjung ke Aceh, proklamator ini menjadikan pantai Lampuuk sebagai destinasi pikniknya.

Sejak kecil saya akrab dengan panorama Lampuuk. Masyarakat disana, selain bertani dan berkebun juga menjadi penyedia jasa pariwisata. Dunia pariwisata memang sudah menjadi bagian dari kebudayaan masyarakat disana. Dalam situasi seperti ini, menjadi mudah berkontribusi terhadap industri pariwisata  Aceh. Bagaimana?, dengan cara eksplorasi kemegahan Lampuuk.

Pariwisata ialah cara cepat dan mudah mendatangkan pundi uang ke Aceh. Menarik putaran uang dunia, lewat kantong wisatawan yang berkunjung ke Aceh. Arus uang di dunia pariwisata lebih cepat dari mimpi kita, tentang investor yang datang membangun cerobong pabrik.

Modalnya hanya dua; kebudayaan masyarakat lokal yang menjadikan pariwisata sebagai bagian integral dari mereka. Kemudian sedikit sentuhan infrastruktur. Untuk ini Lampuuk adalah tempatnya.

Lampuuk Pariwisata dan Kebudayaan2

Diantara sekian masalah pembangunan pariwisata, masalah utama adalah kesiapan masyarakat menerima pariwisata sebagai bagian integral kebudayaan setempat. Baru yang kedua, infrastruktur penunjang.

Yang membuat Bali, Pattaya, dan Phuket berkembang; lantaran kesiapan masyarakat lokal terhadap dunia pariwisata. Kesadaran mereka, bahwa pariwisata adalah ladang yang bisa menyekolahkan anak-anak mereka sampai perguruan tinggi. Untuk Aceh, profesi yang akan mengantarkan mereka naik haji ke Baitullah.

Tidak semua tempat bisa dipaksa agar masyarakat menerima pariwisata sebagai bagian dari kebudayaannya. Pemerintah tidak perlu memaksa konsep pariwisata kepada masyarakat yang memang tidak punya sejarah tentang ini. Hanya akan menghabiskan energi dan menimbulkan antipati. Yang perlu dicatat oleh pemerintah kabupaten/kota di Aceh; pariwisata bukanlah program copy paste, bukan bicara panorama yang indah. Pariwisata adalah sebuah kebudayaan.

Di Aceh, tidak banyak tempat yang memiliki sejarah dan kebudayaan pariwisata. Lampuuk memiliki kedua hal ini. Kita semua perlu membuka mata kesana. Membangun dan memberikan sesuatu untuk Aceh dari Lampuuk.

Dari sekian banyak celoteh orang tentang Lampuuk, saya menyimpulkan daerah ini menyimpan ketakjuban manusia akan kehidupan leisure.

Lampuuk punya pasir putih yang bersih dan lembut. Laut dengan pilihan arus air dan ombak yang beragam. Anda bisa bermain selancar menakluki gelora ombak, atau memilih air yang tenang dan hangat untuk sekedar berenang.

Bagi yang gemar olah raga air dan pantai, Lampuuk menyediakan segalanya. Lampuuk dan sekitarnya adalah pertautan pantai dan gunung. Ada juga sungai, sawah, dan rawa yang indah.

Lebih kompleks lagi, Lampuuk memberikan kesempatan pecinta olahraga hiking, rock climbing, dan mountaineering menyalurkan kesenangannya.

Surga untuk para pemancing dan penikmat makanan laut yang segar. Tidak hanya makanan laut, di Lampuuk anda juga bisa menikmati sajian ikan rawa seumpama gabus dan lele rawa yang segar, langsung  dari daerah sekitar. Semua makanan disini punya pilihan citarasa, baik lokal mahupun continental.

Bagi yang suka olah raga golf, anda bisa menggunakan fasilitas lapangan golf 18 hole yang tepat berada dipinggir pantai. Mengayun stik, memukul bola ke lobang sambil menikmati ombak dan angin pantai.

Bagi yang suka suasana perkampungan, Lampuuk dan sekitarnya menjadi sangat khas karena disini adalah pertautan antara masyarakat nelayan, petani sawah, pekebun, pedagang, pegawai negeri dan sekaligus daerah industri. Menikmati suasana ini sambil bersepeda pasti menyenangkan.

Lampuuk Pariwisata dan Kebudayaan3

Mungkin tak banyak yang tahu. Lampuuk dan sekitarnya adalah musium perlawanan Aceh.

Pada masa penjajahan, disana dibangun salah satu tangsi militer Jepang terbesar. Pusat pelatihan Heiho atau Pembela Tanah Air – pemuda Aceh yang direkrut tentara Jepang sebagai Tenaga Pembantu Operasi melawan Belanda-.

Untuk  keperluan militer, Jepang membangun lapangan udara di Lampuuk.  Soekarno pernah menggunakan lapangan udara ini ketika pertama berkunjung ke Aceh, 15 Juni 1948.

Pada awal orde baru, Lampuuk dan sekitarnya pernah menjadi mercusuar pertumbuhan orang kaya baru Aceh. Ketika itu, terjadi booming harga cengkeh. Masyarakat Lampuuk rata-rata memiliki kebun cengkeh. Mereka menikmati kejayaan ekonomi, sampai harga cengkeh tak lagi memiliki nilai, setelah dimonopoli Tommy Soeharto.

Sejarah  kontemporer Aceh, Lampuuk dan sekitarnya menjadi musium tsunami. Semua gampong dan bangunannya tersapu gelombang tsunami. Yang tersisa hanya sebuah masjid yang menjadi saksi musibah besar itu. Disana juga terdapat lokasi  kuburan massal. Pada masa rehab dan rekon pasca tsunami, mantan presiden Amerika Bill Clinton pernah berkunjung ke Lampuuk.

Sebelum tsunami, di Lampuuk-Lhoknga, terdapat sebuah penjara besar. Penjara itu dipakai untuk mengurung aktivis Gerakan Aceh Merdeka sejak era Daerah Operasi Militer mahupun era reformasi Indonesia. Pejabat Aceh sekarang, Hasbi Abdullah (Ketua DPR Aceh) dan Adnan Beuransyah  (Anggota DPR Aceh) pernah dikurung disana. Salah seorang srikandi perlawanan Acehkontemporer, Cut Nurasikin, tersapu gelombang tsunami ketika mendekam dalam penjara tersebut.

Dari kacamata sosio-historis, sosio-ekonomi dan sosio-politik, masyarakat Lampuuk dan sekitarnya punya tipikal daerah yang maju.

Lampuuk secuil daerah yang punya beragam pilihan. Tantangan kedepan bagaimana membuat pilihan-pilihan di Lampuuk itu memiliki hubungan yang saling terkait.  Jawabannya adalah infrastruktur. Infrastruktur yang bisa membuat link keberagaman pilihan menjadi satu kesatuan. Memakai “terminologi pasar”, Lampuuk layak menjadi satu kemasan pariwisata Aceh.

Terobsesi dari slogan Malaysia Truly Asia, maka Lampuuk layak disebut Truly Aceh.

Banda Aceh, 1 Januari 2014
Kautsar