Kita Setara!

Memori kita kental terhadap kelahiran Nabi Muhammad SAW. Beliau membawa keberkahan kepada perempuan. Sejak MIN, guru sejarah Islam saya selalu bercerita tentang ini.

Penceramah yang diundang saban maulid ke madrasah kami, juga bercerita hal sama. Menjadi anak perempuan dalam dunia “laki-laki” (baca: patriarkhi), merupakan perjuangan yang akan dihadapi sepanjang hidupnya. Sebab itulah, banyak orang tua termasuk sang-ibu yang melahirkan, lebih senang mendapat anak laki-laki daripada perempuan.

Diskriminasi berlatar kasih sayang ini terjadi sejak istilah gender belum terdengar di kampung kita. Mungkin, inipula yang melatar belakangi orang Arab -pada zaman yang diklaim oleh Islam dengan sebutan jahiliyah- membunuh bayi-perempuan.  Lantaran tidak ingin anak-anak yang dicintainya kalah, atau sudah pasti kalah, dalam dunia milik “laki-laki”. Orang tua Arab tidak ingin anak perempuan mereka menjadi hamba persenggamaan laki-laki. Sebagaimana mereka memperlakukan perempuan-perempuannya. Para orang tua Arab, tidak mau anak perempuan mereka menjadi ghanimah (harta rampasan) dalam setiap peperangan. Sang isteri-pun, mungkin diam-diam setuju dengan tindakan para bapak karena tidak ingin anak perempuan mereka menanggung derita seperti dirinya.

Tindakan orang-orang Arab bisa saja tidak salah. Mungkin, mereka melihat kematian sebagai sebuah kebebasan. Kematian adalah kehidupan yang sebenarnya. Atau orang-orang Arab beralur pikir sama dengan orang Toraja. Tidak membedakan kehidupan dan kematian. Atau mereka tidak memaknai kehidupan sebagai pertemuan, dan kematian tidak pernah dimaknai sebagai perpisahan.  Saya sepertinya yakin, bahwa peradaban Arab sebelum Islam memiliki alur pikir “frustasi”. Tidak mampu mengontrol zaman yang didominasi laki-laki. Jadi, tindakan kekerasan terhadap perempuan berangkat dari pikiran perhatian terhadap perempuan. Sekali lagi, bukan karena laki-laki Arab benci terhadap perempuan. Apalagi hal-hal yang berdimensi nafsu syahwat.  Pembunuhan anak perempuan pada masa jahiliyah dilakukan semata-mata bukan karena kepentingan ego laki-laki. Tindakan tersebut dilakukan laki-laki bodoh yang tak mengira darimana anak laki-laki mereka akan mendapat kebahagiaan. Sebagaimana yang didapat dari perempuan-perempuan mereka. Mereka tidak pernah berfikir, siapa yang akan menjadi mitra anak laki-laki mereka saat besar nanti. Sekali lagi, pembunuhan anak perempuan pada masa jahiliyah sungguh merugikan laki-laki. Meski memiliki dimensi pro perempuan, tetapi metode yang dipakai menjadi tidak manusiawi.

Teman saya, sepasang suami-isteri. Dua-duanya aktivis sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat dan jebolan pendidikan barat. Tentu  sangat memuja kesetaraan gender.  Tiga belas tahun yang lalu, saya tanyakan dia tentang anak perempuannya. Dia berpendapat, “Aku harus mengekang anak perempuanku. Aku akan memberinya kebebasan terbatas, bila dibanding anakku yang laki-laki. Aku tidak bisa menjamin masyarakat diluar rumahku ini dapat memberi perlindungan yang cukup kepada anak perempuanku. Aku tidak bisa menjamin negara ini mampu memberi perlindungan maksimal kepada anak perempuanku”. Pandangan teman saya ini, memiliki latar hampir sama dengan cara pandang orang tua Arab pada zaman jahiliyah. Namun, pilihan metodenya saja lebih manusiawi.  Semangat atau spirit orang-orang tua Arab ini, sama sekali tidak melatarbelakangi kekerasan dan diskriminasi yang diperankan oleh lembaga negara termasuk Wilayatul Hisbah di Aceh. Negara tidak memiliki spirit perlindungan. Karena patut dipandang tidak boleh percaya sama sekali pada keikhlasan negara dan keikhlasan kekuasaan. kedua-duanya tidak sehangat kasih sayang keluarga. Negara bukan keluarga yang besar.    Kita tidak bisa memastikan, apakah huwa atau hiya merasa “memiliki dunia ini”. Sesungguhnya, laki-laki atau perempuan sama-sama tidak bisa lagi memastikan diri, apakah memiliki dunia ini atau tidak. Kita setara.

Banda Aceh, 1 Juli 2008 Kautsar Muhammad Yus

*Dikutip dari surat saya kepada kawan Sri Lestari Wahyuningrum (Dosen pada Universitas Indonesia. Sedang menyelesaikan studi doctoral di Australia.)