Kemerdekaan

Kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa’. Merupakan pikiran dasar Bung Karno mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia 69 tahun yang lalu. Mungkin hampir sama seperti pikiran Hasan Tiro yang mendeklarasikan kemerdekaan Aceh pada 1976.

Kehendak untuk merdeka adalah hak asasi manusia, pikiran semua manusia yang berjiwa dan berpikiran bebas. Indonesia dijajah Belanda sejak berdirinya VOC pada 1630 M. Ketika itu nama Indonesia belum ditemukan. Hanya Hindia Belanda; negeri yang berada langsung dibawah kerajaan Belanda. Indonesia dikenal secara politik ketika Partai Komunis Indonesia mendeklarasikan diri pada 1922. Politik, ekonomi dan kebudayaan Indonesia berada ditangan pemerintah kolonial. Rakyat menjadi warga kelas kedua di negeri tumpah darahnya sendiri.

Dimana-mana, perjuangan kemerdekaan selalu dimotori masyarakat terpelajar. Mereka ingin melihat negerinya bebas, sejahtera dan memiliki kedaulatan atas politik dan ekonomi sendiri, tanpa perlu didikte kepentingan-kepentingan yang tidak memiliki hubungan dengan negerinya sendiri.

Masyarakat miskin, tidak terpelajar dan berasal dari kawula cilik, selalunya menjadi pengikut semua bentuk gerakan kepeloporan yang menjanjikan perubahan taraf hidup. Meski tidak pernah mengerti tentang nasionalisme, mereka tidak pernah rugi untuk memihak sebuah gerakan revolusi karena kemapanan yang ada tidak memberi janji apapun. Masyarakat mencoba janji yang baru dimana partisipasi mereka dituntut dan dihargai. Janji itu adalah Indonesia. Merdeka, berdaulat, adil dan makmur.

Ketika revolusi Perancis di deklarasikan pada 1789, revolusi ini menjanjikan perubahan mendasar di Perancis. Ia didukung masyarakat miskin yang gandrung perubahan nasib. Revolusi Perancis tidak untuk mendirikan negara seperti Bung Karno pada 69 tahun lalu. Revolusi mereka untuk menggulingkan sistem monarki dan menggantikannya dengan republik yang menawarkan tiga semboyan. Kebebasan, persaudaraan dan kesetaraan.

Masyarakat miskin Perancis mendefinisikan kemiskinannya disebabkan tatakelola pemerintahan kerajaan Louis XVI. Ketika kelompok menengah perkotaan menyerukan revolusi, sontak seluruh petani miskin berada dibelakangnya. Louis berhasil ditumbangkan dan Perancis menjadi negara republik pertama di dunia.

Apakah setelah Louis jatuh, si miskin Perancis dengan segera bisa melepaskan belenggu kemiskinannya?. Tentu tidak. Mereka masih perlu berjuang di era republik dan demokrasi. Untuk bisa mensejahterakan diri mereka sendiri. Negara terpaksa melayani kepentingannya sendiri. Mencari pendapatan untuk tujuan peradaban republik yang didirikannya. Teman paling dekat untuk ini adalah orang-orang kaya yang memiliki andil ketika revolusi digelorakan. Kapitalisme melihat mereka memiliki sumberdaya yang sudah sedia ada, negara tak perlu repot-repot. Hanya perlu mendayagunakan mereka. Disanalah mutualisme negara dan orang kaya bersimbiosis.

Disinilah Lenin berpendapat bahwa revolusi nasional dan demokrasi bukan bagian dari revolusi kaum miskin. Kedua-duanya milik si kaya yang segera mengambil alih revolusi setelah kemenangan didapat. Menurutnya, kaum miskin sedunia harus bersatu untuk revolusi proletariat.

Apakah si miskin Perancis marah dan merasa merugi?. Mereka puas karena republik meng-apresiasi partisipasi mereka sebagai sesuatu yang penting untuk negerinya. Partisipasi ini justeru menjadi barang mewah bagi si miskin di negeri penyembah Lenin seperti Soviet dan China. Di Perancis, si miskin dapat memilih pemimpin negerinya sendiri untuk tujuan kebaikan bersama serta bisa menikmati fasilitas kebebasan lainnya. Memang, perjuangan itu senantiasa diikuti tahapan-tahapan selanjutnya.

Kemenangan revolusi Perancis tidak serta merta dinikmati oleh daerah-daerah yang dijajahnya. Rupanya slogan Liberte, Egalite dan Faternite hanya berlaku untuk masyarakat Perancis. Tidak berlaku untuk Maroko. Bahkan setelah revolusi, Perancis dibawah Napoleon Bonaparte semakin agresif mengobarkan perang di kerajaan-kerajaan lain di Eropa. Sampai ke negeri Indochina. Begitulah muka dua negeri penjajah.

Setelah penyerahan kedaulatan dari Belanda kepada Indonesia selesai pada Desember 1949. Bung Karno segera berseru ‘revolusi belum selesai’. Kemerdekaan sudah didapat, tetapi tujuan kemerdekaan belum tercapai. Masyarakat yang berdaulat, adil dan makmur masih perlu perjuangan merealisasikannya.

Negara yang merdeka hanya berfungsi sebagai alat untuk mencapai cita-cita kemerdekaan. 69 tahun sudah. Banyak darah dan air mata yang tumpah sepanjang tahun-tahun itu. Hanya untuk sekedar berjuang mencapai cita-cita kemerdekaan. Tidak tahu siapa yang berjuang dan siapa yang mengkhianatinya karena sejarah hanya dominasi orang-orang menang.

Kami masyarakat Aceh, bersyukur karena peringatan kemerdekaan Republik Indonesia berselang satu hari dengan penandatanganan perdamaian perang Aceh. Sembilan tahun sudah proses saling mencintai dalam bingkai ke-Indonesia-an. Semoga hari-hari kedepan memberi ruang yang besar bagi kita semua –termasuk masyarakat Aceh- untuk perjuangan mencapai cita-cita kemerdekaan seperti janji Bung Karno.

Semoga fasilitas perdamaian dan demokrasi ini dapat didaya gunakan semaksimal mungkin untuk tujuan cita-cita kemerdekaan bisa terwujud bagi seluruh rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke.

Jakarta, 17 Agustus 2014