Kautsar; Tulisan Perindu.

Jika

Mariska Lubis

mendengar atau membaca kata “Aceh”, apa yang ada di dalam benak?! Tentunya ada banyak sekali, mulai dari Serambi Mekah dan kopi hingga tsunami dan segala konflik yang terjadi di sana. Aceh memang menarik, bukan hanya bagi Indonesia tetapi juga dunia. Namun, bagi saya, yang menarik saat ini adalah soal pemikiran seorang pria eksentrik yang pemberani di Aceh. Pria itu bernama Kautsar.

Mungkin namanya tidak seterkenal para pahlawan, pujangga, pejabat, atau pun orang-orang besar lainnya tetapi di mata saya, dia adalah “orang besar”. Biarpun perawakannya mungil, tetapi nyalinya sungguh sangat besar. Sangat keras dan idealis. Pemikiran dan wawasannya pun luas, sangat modern dan tidak termasuk kalangan Orang Kaya Baru yang banyak polah dan tingkah, serta berpikiran panjang ke depan. Jauh dari kata primitif dan primordial. 

Ada gelak di dalam hati membayangkan seandainya waktu masih di masa yang lalu, ketika celana pendek dan baju seenaknya masih bebas dikenakan. Berlari ke sana ke mari mengejar matahari sembari diburu oleh celoteh dan celetuk menghunus. Bersembunyi dan menyembunyikan diri di antara semak belukar berharap tak ada mata yang terbuka. Tumpukan kelapa barangkali senyum-senyum dengan serius juga bila mengingatnya kembali.

Sawah yang terpampang menguning di hadapan mata membuat pikiran semakin merambah ke mana-mana. Setiap kata yang terlontar dari bibir pemuda itu menjadi lukisan tersendiri yang begitu mengesankan diri. Tanpa pernah harus menyanjung diri, bisa dibayangkan lukisan-lukisan yang ada dalam benak dan hatinya. Penuh dengan goresan tentang Aceh yang merdeka dan kembali berjaya, terisi oleh masyarakat yang kaya, pintar, cerdik, berani, dan mau berjuang serta bekerja keras.

Teringat dengan percakapan di depan hamparan pagi menguning di pagi hari. Ditemani kopi Aceh yang lezat dan dalam kesederhanaan, kami berdua berbincang dan terkekeh-kekeh. Soalnya, mata-mata para jagoan moral dan prajurit etika berputar-putar melirik ke sana ke mari di kedai tempat mereka asyik nongkrong. Sungguh sangat dramatis bila harus diceritakan lewat kata-kata, melihatnya pun sudah cukup membuat pagi itu penuh dengan tawa.

“Seharusnya anak-anak muda semua belajar filsafat agar pemikirannya maju ke depan. Tidak mati gaya oleh situasi dan kondisi, serta tidak mudah terpengaruh. Tidak juga mudah dipermainkan. Mereka jadi bisa betul-betul bebas dan merdeka dalam berpikir. Sulit sekali mencari anak muda yang belajar filsafat saat ini.” 

“Yah bisa dimaklumi, orang tua mereka pun mana mengerti pentingnya belajar filsafat. Mengerti apa filsafat pun tidak, makanya sekarang kita jadi tertinggal.”

“Padahal anak-anak muda kita ini pintar-pintar, sayang sekali bila tidak bisa berkembang. Mereka sehausnya diberi kesempatan.”

“Anak muda sekarang maunya bukan diberi kesempatan, tetapi maunya dikasih duit! Semua serba instant dan maunya cepat. Banyak cakap dan gayanya, tetapi terlalu malas untuk bekerja keras.”

“Malu saya dengan para pendahulu kita. Mereka begitu hebat sehingga bisa membawa Aceh kepada kejayaannya. Bukan hanya kepandaian berdagang dan berdiplomasi, tetapi orang Aceh juga hebat pemikirannya. Lihat saja hasil pemikiran mereka, banyak sekali ilmu yang dihasilkan oleh orang Aceh. Padahal, jaman dulu mana ada yang sekolah tinggi-tinggi seperti sekarang ini? Mengapa mereka bisa sedemikian hebat? Andai saja anak muda mau melihat lagi sejarah, pasti mereka akan malu.”

“Nggak perlu jauh-jauh, perhatikan saja kemampuan anak muda Aceh di dalam menulis saat ini. Saya sedih setiap kali mengingat hal ini. Itu sudah menjadi bukti bagi saya betapa mundurnya pemikiran saat ini. Seharusnya, kan, lebih maju, ya?”

“Saya ingin melihat Aceh ini maju dan berjaya lagi. Penuh percaya diri, tidak lagi dijajah dan terjajah oleh orang-orang dan pemikiran yang terbelakang.”

“Mantap! Saya yakin dirimu bisa. Tak perlu saya banyak bicara, saya hanya mau melihat dan menunggu saja hasilnya kelak. Biar dirimu saja yang capek. Ha ha ha…..”

“Ha ha ha….”

“By the way, tumpukan kelapa dan desah di balik rerumputan itu masih adakah saat ini?!”

“Waduh!!!”

Ah, Kautsar! Hati yang terpaut tak perlu membutuhkan waktu lama untuk melekat di dalam hati. Tulisan ini hanya sekedar sebuah tulisan kerinduan. Sudah lama kita tak berjumpa dan bercerita-cerita. Tentunya ada banyak sekali kisah perjalanan yang terus dirimu lanjutkan untuk menggapai mimpi dan cita-cita untuk Aceh tercintamu.

Aceh bukan hanya sekedar kata, kan?! Selamat berjuang sahabat!!!