Kautsar sebuah Curriculum Vitae Politik

Reza Idria, Mahasiswa Aceh pada Harvard University, Amerika Serikat

Dari sedikit politisi yang saya kenal di Aceh, Kautsar salah satu yang paling konsisten curriculum vitae-nya dalam memori saya. Setiap menyebut atau namanya disebut, itu berarti sesuatu yang terkait dengan politik. Tidak lebih dan kurang dari itu. Dari saya masih pelajar kelas akhir pada saat Suharto jatuh dan mulai terhasut politik, berlanjut mengenalnya sebagai kakak leting yang tak berhenti menghasut mahasiswa baru, seperti saya, untuk terus menuntut keadilan politik bagi Aceh. Sejak tsunami 2004 dan Perdamaian Aceh, banyak hal baru, orang baru, tema baru.  Ada kawan pedagang, pengacara, wartawan, ustadz dan sebagainya yang sekarang sudah jadi politisi, begitupun ada kawan yang dulunya politisi kini sudah jadi akademisi, kontraktor, atau penyair.

Of course, hidup adalah pilihan penuh warna, setiap orang bebas menentukan eksistensinya di bidang apa saja. Namun itu juga yang mengingatkan bahwa saya tidak punya memori lain soal status Kautsar selain ia adalah seorang politisi.

Kautsar dan politik kemudian menjadi semacam sinonim. Saya selalu ingin berdiskusi tentang politik dengannya, tapi dia selalu ingin bicara soal budaya dengan saya. Saya kira ini memang urusan bagaimana curriculum vitae tentang seseorang, satu sama lain, terpatri di kepala masing-masing.

Tidak banyak pandangan saya yang disetujuinya, begitupun saya tidak selalu bisa membenarkan apa yang dianggapnya “sudah harus demikian”. Tapi Kautsar selalu punya alasan-alasan dan hitungan-hitungan yang bisa dia artikulasikan dengan baik.

Kemampuan komunikasi verbal-nya di atas rata-rata, kalau saya bandingkan dengan sedikit politisi yang saya kenal, sehingga selalu menyenangkan meski tidak selalu sependapat dengannya. Referensi-referensi yang digunakan juga menunjukkan ia memiliki pembacaan yang luas. Itu penting sekali bagi saya untuk melihat bagaimana dan mengapa seseorang mengerti kenapa dirinya memilih jalan politik. Ia punya selera humor yang baik, tapi juga kenekatan seorang remaja. Saya kira itu adalah modal politiknya yang paling kuat, selain kerja keras di lapangan dan konsistensi pada tujuan kerja politiknya.

Reza Idria, Mahasiswa Aceh di Harvard University, Amerika.