Kapitalisme, Jusuf Kalla dan Perayaan Agama.

Tulisan ini terispirasi dari Catatan Pinggir Goenawan Mohamad mengutip pendapat Ernest Gellner bahwa agama adalah community celebration.

Kenapa setiap Ramadan pengeluaran belanja rumah tangga lebih besar daripada bulan yang lain? Padahal, kita tidak makan dan minum pada siang hari”

Pertanyaan  diatas kerap muncul saban Ramadan dalam rubrik tanya jawab yang  ada di majalah mingguan keluarga bacaan ibu rumah tangga.

Ada yang saling bertentangan. Menahan diri dari hawa nafsu, tidak makan dan minum diwaktu siang serta menjalankan ritual ibadah di malam hari. Namun seiring dengan ini, terjadi pembengkakan pengeluaran kebutuhan rumah tangga, padahal masjid dan menghadiri ritual Ramadan tak perlu harus mengeluarkan biaya.  Ada yang tidak patut !

Setiap bulan haji tiba, pendapatan warung di sepanjang jalan Teuku Nyak Arief, Banda Aceh mengalami peningkatan. Disana muncul “kios-kios kaget” yang menjajakan kebutuhan penghuni gedung asrama haji yang berada tepat dipinggir jalan itu.

Pada bulan menjelang Zhulhijah, Banda Aceh terasa ramai dikunjungi “pelancong pengantar jamaah haji” dari seluruh kabupaten/kota di Aceh. Kalau mau diselidik lebih dalam, pasti ada peningkatan Pendapatan Asli Daerah  pada bulan ini terutama di sektor jasa parkir.

Dibulan Rabiul Awal, Rabiul Tsani dan Rabiul Akhir, permintaan daging sapi di Aceh meningkat. Selain memperingati maulid Nabi Muhammad SAW, orang-orang Aceh pada bulan ini gemar melaksanakan walimatul urus dan sunat rasul.

Di negara-negara barat, saat natal dan tahun baru tiba, semua orang merayakan bersama. Natal juga diperingati oleh penganut paham tidak bertuhan atau Atheis. Pengeluaran rumah tangga juga meningkat. Pusat-pusat perbelajaan memberikan fasilitas diskon yang fantastis. Semuanya dilakukan sebagai upaya mengeruk kantong para penikmat natal dan tahun baru.

Yang paling diuntungkan dalam setiap perayaan keagamaan ialah negara asal muasal agama itu lahir; Jazirah Arab, Jerussalem dan Roma. Negara-negara ini meraup untung berlimpah setiap tahunnya dari pelaku ziarah. Agama telah menghidupkan  “tourism industry”.

Para negara peng-impor agama, juga merasa perlu menghadirkan suasana yang sama. Dibanding Indonesia – yang mengakui lima agama diurus negara- Malaysia lebih cerdik memamfaatkan hari besar keagamaan sebagai pesta rakyat yang memberi warna tersendiri kepada dunia perniagaan. Malaysia  mengeksploitasi perayaan agama Islam, China, Kritiani dan Hindu. Padahal Undang-Undang Malaysia hanya mengurus agama Islam. Dengan demikian semboyan Malaysia sebagai Truly Asia benar-benar terimplementasi.

Pasar paling responsif terhadap semua bentuk perayaan. Eksploitasipun terjadi. Hubungan agama dan pasar terjalin dengan erat. Kapitalisme membungkus semuanya menjadi indah dan khidmad. Produktifitas komoditi ditingkatkan. Industri hiburan, periklanan, telekomunikasi, garmen, makanan, pelancongan agama, semuanya tumbuh dengan baik dan saling bersinergi merangkai suasana menjadi selalu diidam-idamkan oleh setiap pelaku perayaan.

Dalam situasi ini, pemuka agama menawarkan keseimbangan terhadap kapitalisme. Mereka berdakwah tentang pentingnya tawaduk dalam arti tidak berlebihan, bersedekah dan zakat sebagai tanggung jawab kebersamaan dan hal-hal lainnya yang bisa menekan semangat konsumtif ummat. Kapitalisme merangkai dakwah menjadi komoditi itu sendiri dan memberi warna yang sempurna terhadap seluruh suasana perayaan agama.

Meski ada kampanye hitam agama terhadap kapitalisme. Kapitalisme tak bisa mati. Sebab, kapitalisme berjalan diatas sunnatullah ekonomi permintaan dan ketersediaan.

Dalam situasi ini, saya jadi ingat pada pernyataan Jusuf Kalla saat inspeksi penangganan darurat tsunami Aceh yang mengritik panitia pelaksana yang cenderung hemat dalam pengeluaran dana bantuan yang memiliki hubungan dengan pemulihan ekonomi Aceh setelah bencana.

Menurutnya, besaran pemasukan sangat ditentukan oleh besaran pengeluaran. Semakin banyak keluar maka semakin banyak yang masuk.  Dengan seperti ini pertumbuhan ekonomipun dapat tercapai.

Jika kita sepakat dengan Kapitalisme, Jusuf Kalla dan agama sebagai celebration community  yang bisa mendatangkan pertumbuhan ekonomi maka pemerintah Aceh perlu memberi warna pasar yang kental pada setiap perayaan agama dicampur dengan memberi konteks lokal yang juga tak boleh kalah kental.

Saya melihat Malaysia cerdik dalam pemamfaatan hari-hari besar keagamaan. Malaysia  melakukan eksploitasi besar-besaran tiga perayaan agama; Islam, China, Kritiani dan Hindu.

Dengan begitu, perayaan agama tidak hanya menjadi ranah kerja Dinas Syariat Islam, Badan Dayah, Baitu Mal, dan Dinas-dinas yang berbahasa Arab lainnya. Justru Dinas Pariwisata, Perdagangan, Koperasi dan Industri yang harus memegang peran kunci.

Wallahualam