Kantongnya, Tangannya, Pikirannya


Ardi dan Kautsar, S

Pintu terbuka. Selang beberapa detik, seseorang muncul, menyodorkan tangannya kepada saya.

 “Ardi”.

Saya menyambut tangannya dan spontan meyebutkan nama sendiri.

“Kautsar”.

Demikian sosok tersebut menyebut dirinya.

Itulah awal perkenalan saya dengan si “Abang”, demikian orang memanggilnya. Gaya kami berkenalan sama seperti orang lain pada umumnya. Abang adalah panggilan yang kami berikan khusus untuknya. Entah dia tahu atau tidak, saya tak ambil pusing. Tulisan ini sedikit serius. Tapi, ya sudahlah, saya akan sedikit mendeskripsikan sosoknya menurut versi saya.

Pada awal 2011, saya di ajak teman bergabung didalam tim pemenangan pusat Partai Aceh. Memenangkan pasangan Cagub dan Cawagub; Zaini dan Muzzakir yang disingkat Zikir. Saya sepakat. Tugas saya sehari-hari adalah menyiapkan materi, data, design spanduk, dan hal lain yang dianggap penting untuk memuluskan proses kampanye Zikir. Dan ini adalah saat dimana saya bertemu dengan si Abang. Saya tidak tahu bahwa dialah Sekretaris Tim Pemenangan Pusat Partai Aceh. Sudah terpatri di kepala saya, seorang yang memiliki jabatan sepenting itu, pasti ianya elit GAM. Yangmana, elit GAM rata-rata bertubuh tinggi besar. Saya mendapati ternyata sekretaris kami berbeda. Saya pernah bercanda dengannya.

“Bang, umur abang berapa?”

“Memangnya kenapa?”

“Ya.. tidak ada apa-apa bang. Cuma terasa masih muda sekali. Abang bisa ke kampus aku dengan stelan mahasiswa. Pasti yang lain pada mikir kalau abang mahasiswa. Tapi… sayang bang…”

“Hehehe, masih muda aku kan. Sayang kenapa?”

“Uban abang banyak sekali, hahaha..”

Canda saya dibalas dengan tawa menggelegar. Tawa khas seorang Kautsar.

Abang merupakan sosok yang bersahabat, cerdas, tapi juga tidak segan bersikap kejam. Saya tidak begitu tahu tentang perjuangan dia dan teman-temannya saat di SMUR. Karena era kami berbeda. Saya mendengar cerita dari mulut ke mulut sepak terjang Abang. Dari kacamata saya, dia adalah seorang loyalis level atas. Bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi untuk teman-teman seperjuangannya. Bukan hanya untuk Partai Aceh tetapi untuk Aceh.

Kenapa saya mengambil kesimpulan seperti ini?.

Posisi yang tinggi dan penting tidak berbanding lurus dengan gaya hidupnya. Saya ingat betul saat dia menandatangani sebuah surat. Belakangan saya ketahui sebagai surat perjanjian menggadaikan mobil pribadinya. Keterbatasan dana kampanye membuatnya menempuh jalan itu. Hasil menggadai mobil tersebut disentralkan untuk pemenangan Partai Aceh. Sebelumnya dia juga harus rela melepaskan skuter kesayangannya untuk mendukung perjuangan Partai Aceh menolak ikut pemilukada.

 “Ardi, PA ini partai yang ada karna pengorbanan banyak orang di, Partai yang dibuat dengan mengorbankan darah ayah dan mamak-mamak kita selama puluhan tahun. Mau kau lihat partai ini hancur ?. Kalau aku tidak!”.

Satu kalimat yang cukup keras untuk saya. Saya masih ingat betul kata-kata yang dia keluarkan saat kami mengobrol di sebuah warung kopi

Setelah deklarasi calon Gubernur dan Wakil Gubernur dari Partai Aceh yang lebih di kenal dengan Zikir, Abang memanggil beberapa dari kami untuk rapat dan menjelaskan strategi pemenangan yang akan kami kerjakan. Diantara kami semua, salah satunya adik kandung dari Abang. Saya sendiri ditunjuk sebagai Sekretaris bidang data Partai Aceh. Tugas ini saya emban bersamaan dengan mengepalai proses perhitungan cepat suara Partai Aceh. Ini menjadi peluang karena tidak ada partai lain memiliki mekanisme hitung cepat atau terkenal dengan Quick Count. Dimata dia tidak berlaku hubungan saudara dalam konteks pekerjaan. Didalam hubungan pekerjaan, dirinya tidak akan memperlakukan seseorang karena itu teman dekat, sanak saudara, bahkan adik sekalipun, dengan spesial. Ditangannyalah arus  perintah dikeluarkan dan disampaikan kepada tim pemenangan pusat. Pada masing-masing bidang, untuk dilaksanakan. Saya masih ingat,  saat-saat kami rapat sampai pukul 3 malam. Tidak jarang,  dia marah dan memukul meja di hadapan kami karna pekerjaan  tidak beres. Amarah yang keluar adalah wujud komitmennya, itu yang kami pahami.

April 2014 merupakan pesta demokrasi rakyat Indonesia termasuk Aceh. Ditahun ini juga, nama Kautsar muncul sebagai salah satu calon anggota DPRA. Tentunya  dari Partai Aceh, di Dapil Bireuen. Saya yakin, pada usia emasnya yang masih muda, pengalaman yang luas, serta ide-ide brilian yang tak henti-hentinya, abang pantas duduk di kursi tersebut. Khususnya untuk mewujudkan impian rakyat, agar terpenuhi hak-hak mereka. Hak rakyat seperti yang pernah abang katakan kepada saya dulu.

Dia layak menuangkan ide-idenya bukan hanya untuk teman atau saudaranya melainkan untuk Aceh.

Lazuardi, ST. Quick Count Observer, Fans Manchester United.