Hari Guru

Kita baru saja memperingati hari guru. Linimasa media sosial dipenuhi ucapan selamat serta puja puji terima kasih kepada guru sang pelita masyarakat, penerang dalam kehidupan, pahlawan tanpa tanda jasa dan berbagai sematan kemuliaan lainnya betapa guru cukup dihormati dalam masyarakat Indonesia. Orang tua diluar rumah.

Bagi yang memahami hidup dan seluruh rangkaian kehidupan adalah pendidikan (dari buaian sampai ke liang lahat), maka semua yang ada disekitar kita adalah guru. Rumah tangga, kampung, masyarakat, organisasi, partai politik, negara, alam semesta dan dunia global adalah guru bagi setiap kita. Semuanya menjadi rahmatan lil alamin.

Konsep belajar mengajar sudah lama ada dalam sejarah kehidupan manusia. Usianya sama seperti kehidupan perlembagaan seks pada manusia. Sudah ada jauh sebelum manusia mengenal penggalan waktu selain siang dan malam.

Dunia mengenal tiga zaman era kejayaan ilmu pengetahuan, Yunani, Cina dan Abbasiyah.

Baru pada abad pencerahan eropa melahirkan pendidikan yang terstruktur, sistematis, dan masif. Ilmu diklasifikasimenemukan sistematika keilmuan, mengenalkan jenjang-jenjang, pengakuan serta penghormatan kepada ilmu dan ilmuwan. Ilmu pengetahuan ditebar keseluruh dunia.

Konsep gurupun kian populer dan menemukan bentuk yang terhormat dalam masyarakat. Menjadi lambang kebaikan, pengabdian, dan keikhlasan. Ketiga lambang ini memasung guru untuk tabu bicara tentang peningkatan kesejahteraan, perbaikan taraf hidup dan lain sebagainya.

Lambang-lambang ini memposisikan guru sebagai pengabdi yang tidak boleh bicara upah dan tanda jasa karena pengabdian dan keikhlasan sifatnya lintas batas materi yang tidak bisa dihitung.

Ketika persoalan upah dan kesejahteraan dibicarakan oleh guru-guru, kedudukannya dalam masyarakat tidak lagi dilihat sebagai guru dalam arti yang sedianya. Tapi dilihat sebagai upaha, sebagai pekerja yang kemuliaannya tak sebanding dengan guru.

Disinilah guru hidup terpasung. Berat oleh status sosial yang disandangnya namun minim tunjangan dan kesejahteraan. Masyarakat dan negara meminta hal yang lebih dari seorang guru karena karena kemajuan kedua-duanya sangat tergantung pada kualitas pendidikan dimana guru memiliki peran yang sangat sentral.

Namun negara dan masyarakat sering lupa bahwa guru juga manusia dan bagian dari kehidupan yang harus berdinamika dengan konsep kapitalisme pasar saat ini dimana kebutuhan dan keinginan harus ditukar dengan uang dan uang memiliki mekanisme kerjanya sendiri yang tidak mengenal istilah kemuliaan, pengabdian dan keikhlasan.

Dimanakah posisi guru dalam dinamika uang dan pengabdian? Dimanakah posisi guru dalam dialektika pasar dan keikhlasan?

Inilah tanggung jawab negara. Tanggung jawab politisi dan birokrat yang menjalankan negara. Tanggung jawab partai politik yang menyetir para politisi dalam pemerintahan dan parlemen. Tanggung jawab masyarakat yang memilih pemimpin. Tanggung jawab kita semua yang turut membayar pajak.

Kita yang patut memformulakan posisi dan kedudukan para guru kita pada tempat yang layak dan terhormat sebagai manusia untuk dapat hidup seimbang dalam dinamika kapitalisme pasar saat ini tanpa harus mencabut mereka dari akar kebudayaan masyarakat kita yang memang sangat menghormati guru.

Selamat Hari Guru !