Gedung DPRA, 29 September 2014

Saya kembali lagi ke gedung ini.

Ketika masih bersekolah di taman kanak-kanak, gedung ini paling megah di Banda Aceh, menurut saya. Disini berkantor gubernur dan anggota DPR Aceh. Dua lembaga besar provinsi bermarkas satu atap; disebelah timur Gubernur dan sebelah barat  anggota DPRA. Ketua DPRA yang pertama saya ingat ialah Bapak Muhammad Amin. Pastinya dari Golkar.

Beberapa kali anjangsana ke gedung DPRA. Pertama sekali, dalam acara lawatan yang dilakukan taman kanak-kanak tempat saya sekolah. Selanjutnya,  beberapa kali diajak Abu sekedar singgah atau menemaninya bertemu dengan teman-temannya.

Meski kantor ini dibelah dua; sayap timur untuk pemerintah dan sayap barat untuk wakil rakyat. Ruangan pimpinan DPRA dan pemerintah dibuat satu atap di sayap timur dan saling bertetangga.

Sayap barat gedung ini berhadapan lansung dengan tiang bendera, termegah dan tertinggi untuk ukuran Banda Aceh. Selain menaungi ruang sidang paripurna, disana juga tersedia beberapa ruangan nyaman dan dingin. Disetiap pintu ruangan ada tulisan komisi-komisi; dari A sampai E. Saya tidak tahu dan tak bertanya pula, apa yang dimaksud dengan komisi di DPRA?. Ada juga ruangan fraksi –tentu saya tahu apa maksudnya- karena ditulis jelas fraksi Persatuan Pembangunan. Berarti disini tempat mangkal anggota DPRA dari PPP (Partai Persatuan Pembangunan).

Akses paling mudah menuju ruang pimpinan DPRA, masuk dari pintu samping yang bertetangga lansung dengan kantor Dolog Aceh. Parkir kendaraan bisa lebih mudah dari sana. Masuk melewati front desk yang dijaga bapak polisi lengkap senjata laras panjang ala polisi India. Di dinding front desk itu ada papan pemberitahuan yang menulis deretan nama Gubernur, Wakil Gubernur, Ketua, Wakil Ketua DPRA, dan Sekda Aceh. Diujung nama mereka dibuat keterangan yang bisa digeser-geser untuk memberi tanda “ada” atau “keluar” kantor.

Dalam benak saya saat itu, polisi disana pasti kelihatan sangar untuk yang belum biasa ke gedung ini. Atau begitulah perasaan anak-anak melihat orang yang  berseragam dan bersenjata. Menuju ke ruang pimpinan, kita harus menaiki tangga melingkar yang tepat berada didepan front desk tersebut.

Dilantai dua gedung itu, ada beberapa ruang yang saya tak ingat lagi. Nama ruangan terbuat dari kayu yang dipasang menjulur kekoridor. Siapa saja yang melintasi lorong lantai dua gedung tersebut, dapat melihat dengan jelas nama-nama ruangan tersebut. Pada kayu-kayu itu ditulis jabatan pemilik setiap ruangan. Menurut saya semua mereka hebat-hebat. Salah satu pemilik kamar disana adalah almarhum ayah Sa’aduddin Jamal, Wakil Ketua DPRA dari unsur PPP. Pernah beberapa kali singgah di ruang kerjanya yang besar dan megah.

Antara beberapa ruang pimpinan itu, ada satu kamar yang sekarang dipakai oleh Ketua DPRA. Dahulu ruangan itu dipakai gubernur Aceh. Saya bisa membaca tulisan pada kayu yang terpasang. Tertulis “Gubernur”, pertanda ruang gubernur Aceh. Ruangan itu membuat saya paling penasaran. Terpikir bagaimana kehebatan orang yang disebut gubernur Aceh. Abu saya selalu mengatakan kita tak mungkin bisa jadi gubernur karena itu memang “jatah” Golkar, bukan PPP. Lantaran itu, saya semakin penasaran dengan apa yang disebut gubernur.

***

Lama tak pernah datang kesana. Gerakan reformasi 1998, membuat saya sering datang ke gedung DPRA. Kami datang sebagai mahasiswa yang berteriak perubahan di negeri ini. Berdiri di tembok pagar sambil mengarahkan mocong toa ke gedung megah itu. Berteriak lantang tentang  arah negeri. Generasi saya pernah bersama-sama camping disana. Menduduki DPRA, menuntut TNI segera ditarik dari Aceh.

Suatu ketika, saya pernah bermasalah dengan kepolisian Aceh Besar lantaran peserta aksi yang saya pimpin berani-beraninya menurunkan bendera merah putih dari tiang yang megah. Aksi di hari yang panas itu, berakhir ricuh setelah kawan-kawan aksi mengubrak abrik ruang sidang paripurna. Melempar kursi-kursi yang ada didalamnya. Mencoret tembok dengan cat kaleng, disemprot keseluruh ruang sidang. Kami menulis semua tuntutan kami di dinding gedung itu. Tuntutan supaya mereka melahirkan kebijakan yang berpihak kepada rakyat.

Hari ini, gedung itu tak jauh berbeda dengan yang lama. Ada penambahan disana sini, khususnya halaman belakang. Dahulu adalah hamparan rumput hijau, kini menjadi gedung baru akibat bengkaknya jumlah anggota dewan. Gedung ini terkesan lebih kumuh dari sebelumnya.

Perbedaan lain tampak dari nama identitas kantor. Dulu tertulis Kantor DPRD Tk I Provinsi Daerah Istimewa Aceh. Sekarang menjadi Dewan Perwakilan Rakyat Aceh. Dulu hanya ada satu tiang bendera megah. Sekarang sudah punya dua tiang yang sama megah dan sama panjangnya.

***

Hari ini saya hadir disini, digedung yang pernah menjadi paling megah ini. Mengikuti gladi resik pelantikan anggota DPRA. Sumpah akan diambil esok harinya.

Setelah pelantikan besok, tentu saya punya ambisi politik. Tapi saat ini saya memohon supaya Tuhan menjaga saya. Tetap dalam amanah.

Banda Aceh 29, September 2014

  • rahmah rusli

    aamiin