Film Soekarno dan Hanung Bramantyo.

Atas nama bangsa Indonesia, Soekarno-Hatta. Begitu naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia ditutup.

Soekarno-Hatta milik bangsa. Dwi tunggal ini ditabal menjadi nama bandara utama Indonesia. Menjadi nama jalan-jalan besar di republik ini. Namanya juga digunakan untuk menyebut stadion sepak bola – Gelora Bung Karno.

Buku Soekarno beleyak peak, dijual di toko mahupun emperan jalan. Namanya dibicarakan orang secara bebas. Tentu mengikut selera bebas semua orang. Apapun isi pembicaraanya, semua spektrum politik sepakat, sosok si bung yang selalu mengenakan peci ini, sebagai orang hebat dan memiliki jasa besar terhadap Indonesia.

Sudah wajar. Soekarno salah seorang pendiri republik. Bapak proklamasi Indonesia. Semua orang punya persepsi sendiri menilai dan mengaguminya.

Ramai orang menyukai orasinya. Agitator ulung. Ditangannya negara didirikan dan diatur hanya dengan pidato dan yel-yel semangat.

Ada yang kagum atas kemampuan pikirnya.  Tak sedikit yang mengacungkan jempol lantaran sikap flamboyan-nya. Punya  cara sendiri memperlakukan perempuan, sahabat dan lawan-lawan politiknya.

Meski tak waras, ramai juga orang yang gandrung dengan sikap otoriternya.

Soekarno milik dunia. Semua orang berhak menilai, mencintai dan mengagumi dari caranya sendiri.  Adalah Hanung Bramantyo, memiliki cara pandang sendiri melihat  Soekarno.

Dia mensutradarai film Soekarno. Memvisualkan sosok Soekarno sebagai remaja, pejuang, pemuda, bapak, suami, dan tentunya seorang manusia. Bukan ratu adil seperti waham orang Jawa.

Nonton film Soekarno, saya kagum dengan anak muda Hanung. Dia pernah  melakukan hal yang sama pada B.J. Habibie dan K.H. Ahmad Dahlan. Berusaha menghadirkan pencerah nusantara dalam sosok manusia. Lepas dari segala mitos yang melekat pada orang-orang besar.

Semua alur film berlatar sejarah garapan Hanung selalu berusaha jujur pada sejarah. Sepertinya dia tahu, kekuatan cerita sejarah ada pada kejujuran akan sejarah itu sendiri.

Untuk memberi kesan bukan cerita biasa, Hanung menyodorkan  kesaksian tidak lazim untuk penonton. Lahirlah kontroversi yang justru berfungsi sebagai  iklan gratis pendokrak popularitas film.

Soekarno sebagai sebuah film politik, mengklasifikasi secara jujur tiga mazhab besar dalam perjuangan. Terminologi politik sering menyebutnya dengan istilah  kanan, tengah dan kiri. Dalam bahasa lain, ekstrim kanan, moderat, dan ekstrim kiri.

Soekarno-Hatta kebagian figur moderat. Sosok rasional. Berfikir penuh pertimbangan. Taktis dalam gerak, dan tidak frontal, dengan asumsi kekuatan  perjuangan berada jauh dibawah kekuatan musuh. Menggunakan tangan musuh dari musuh. Beraliansi taktis dengan Jepang -meski diprediksi punya potensi menjadi musuh masa depan-. Semuanya dilakukan dengan satu tujuan Indonesia merdeka.

Meminjam prespektif Michael Corleone pada novel Mario Puzzo, Soekarno-Hatta di film Soekarno melakukan aktifitas sleeping with the enemy. Bersandar pada musuh dari musuh. Mengintai waktu tepat untuk mencoleng. Ibarat kucing mengunggu sang tuan lalai, lalu mencuri sepotong ikan yang ada dipiringnya.

Soekarno menyebutnya taktik cooperatives. Untuk langkah ini, dia meyakinkan Hatta dan Sutan Syahril . Syahril menampik.  Dia yang berlatar belakang pendidikan Belanda, tidak setuju elemen perjuangan bekerjasama dengan fasis Jepang. Derajat fasisme lebih biadab dibanding kolonialisme itu sendiri.

Sikap Syahril cerminan cara pandang kubu sosialis dunia –termasuk komunisme dalam melihat gerakan fasisme. Bahwa komunis sekalipun, harus berangkulan bahu dengan kapitalis dalam menghadapi gempuran fasis dunia.

Di nusantara, termasuk Daud Beureueh di Aceh, politik perlawanan menunjukkan langgam alami. Meminjam bahasa Aceh popular “talet bui deungon asee –berteman dengan anjing untuk mengejar babi”. Atau menggunakan filosofi Hasan Tiro, “Musuhnya musuh adalah teman, temannya musuh adalah musuh”.

Kelompok kiri dalam film ini diwakili pemuda Wikana. Mereka menyebut Soekarno komprador atau antek-antek Jepang. Menjadi juru propaganda mensuksekan program politik Jepang di nusantara.

Kawan-kawan berhaluan kiri berprinsip, kemerdekaan tidak ditentukan Jepang atau siapapun. Melainkan diperjuangkan sendiri secara mandiri.

Jepang harus dilawan. Menurut Syahril,  Jepang dan kelompok fasis dunia akan kalah ditangan sekutu Rusia, Inggris, Belanda dan Amerika.  Sumberdaya negara sekutu lebih berpotensi memenangi perang dunia kedua.

Syahril berdebat dengan Soekarno. Hatta menyaksikannya. Sesekali menjadi penengah diantara keduanya. Syahril menjelaskan berapi-api berita rakyat Cina melawan Jepang. Pejuang Indonesia juga bisa melakukan hal yang sama. Jika  kemerdekaan ditentukan negara lain, maka Indonesia akan menjadi negara penurut kepada negara yang memerdekakannya. Lepas dari mulut harimau masuk ke mulut singa. Dengan begitu, Indonesia tidak mendapat kemerdekaan yang sebenarnya.

Di film ini, Hanung menggambarkan,  bagaimana elemen pejuang menempatkan percaturan ekonomi-politik global sebagai acuan dasar analisis penentuan strategi taktik perjuangan. Pesawat radio sama seperti fungsi internet zaman ini, yaitu jendela informasi dunia.

Layak film mainstream pada umumnya, film Soekarno juga melihat orang-orang kiri  sebagai kelompok yang memiliki ciri khas. Mereka ngotot pada ide dan pikirannya. Dalam praktek, sering memaksakan kehendak. Pikirannya harus diterima menjadi kebenaran umum. Terlalu curiga dan sinis terhadap kelompok  moderat. Orang kiri terlalu simple melihat realitas dan suka menyederhanakan masalah. Tentu, solusi yang ditawarkan juga sangat pintas. Kelompok kiri suka menggebu-gebu. Kepercayaan diri berlebihan. Nafsu besar tenaga kurang. “Uet jalo toh kapai”.

Di beberapa literatur, Soekarno memang digambarkan sebagai kaki tangan Jepang. Kemerdekaan Indonesia kado kekalahan Jepang ke tangan sekutu. Konsekwensi dari meletusnya Nagasaki dan Hiroshima.

Di film ini, Soekarno dibela. Diperlihatkan pandangan miring itu diwakili oleh cara nilai kelompok kiri dan kanan. Film ini memperlihat bagaimana Soekarno-Hatta berjuang. Kesabaran revolusionernya, perencanaannya matang, dan konsisten pada siasat perjuangannya. Sampai tiba masa kemerdekaan diproklamirkan.

Secara pribadi, nonton film ini membuat saya mengerti “nyali-nya” Soekarno. Akan tindak-tanduknya dalam agresi Belanda pertama dan kedua. Akan langkah-langkahnya dalam perjanjian Renville, Meja Bundar dan Linggarjati.

Bahkan saya bisa meraba alam batinnya saat bersikap menghadapi turbulensi politik pasca gerakan Satu Oktober 1965. Rasa kemanusiaan lebih besar dari api yang ada dalam setiap pidato-pidatonya.

Hanung Bramantyo punya cara apik memposisikan semua kelompok pejuang kemerdekaan. Dia tidak bertindak sebagai juru propaganda negara atau kelompok tertentu. Dia  memberi posisi yang sama kepada semua –kanan, tengah dan kiri-,  sama-sama punya jasa terhadap kemerdekaan Indonesia. Hanung berperan jujur pada sejarah.

Sebagai tontonan yang menghibur, film Soekarno terasa masih kurang menggigit dibanding Tjoet Nya’Dhien. Kelemahan ada pada sosok  Aryo Bayu yang kurang mampu menghadirkan Soekarno seperti Christine Hakim menghadirkan Tjoet Nyak Dhien.

Walau begitu, sekali lagi Hanung Bramantyo perlu diberi aplaus panjang atas apresiasi kekagumannya kepada Soekarno.