Cenayang Politik

Sulthan Muhammad Yus

13 Februari 2000, sehari sebelum ulang tahun saya, Bang Tu (panggilan untuk bang Kautsar, S.Hi) bertanya, “Kalau Sulthan ulang tahun besok (14 Februari), mau hadiah apa?”. Spontan saya menjawab; mau sepatu roda. Esok harinya Bang Tu datang membawa kado paling besar. Kado pertama yang saya buka. Sesuai permintaan, Bang Tu membawa sepasang sepatu roda.

Tahun 2003 akhir, saya menuntut ilmu pada satu pesantren di Medan. Ditengah waktu ujian, tiba-tiba pengeras suara meneriakkan nama saya. Diminta menghadap karena ada tamu. Saya yakin Abu atau Umi yang datang. Ternyata Bang Yek (panggilan untuk Bang Furqan, abang nomor 2), berdiri disamping Kijang bercat biru. Ketika jarak saya dengan mobil sangat dekat, tiba-tiba pintu mobil terbuka. Bang Tu turun sambil tersenyum. Kami bersalaman.

Bang Tu jauh berbeda. Rapi, jenggot terpelihara panjang dan berkumis. Mengenakan topi kupluk, menutupi sebagian rambut gondrongnya. Setelah lama ngobrol, saya tanya kenapa ada Bang Tu. Bang Yek bilang, dia kangen pada adik bungsunya, saya. Bang Tu mengajak kami meneruskan obrolan diluar. Hal itu tidak terjadi karena saya tengah ujian. Sebelum berpisah, Bang Tu berpesan agar saya menjaga kesehatan. Tidak lupa makan dan minum susu yang banyak.

Awal 2000an, Bang Tu menghuni penjara Polresta Banda Aceh di Jambo Tape. Saya dan (Almh) Umi berkunjung, menumpang becak mesin. Kami di tolak, dilarang bertemu. Dengan polosnya, saya yang masih kecil bertanya ; kenapa kami, adik dan ibu tidak bisa bertemu. Padahal kami sudah lama menunggu, sampai  makanan bawaan jadi dingin. Alasannya macam- macam, pokoknya kami tidak bisa bertemu, walau saya sempat dikejar anjing pelacak.

 Tidak lama Bang Tu dipindahkan menjadi tahanan titipan di LP Keudah. Kami lebih mudah bertemu. Hampir setiap hari saya punya rutinitasmengantarkan makan siang kesukaannya. Kari kepala kambing. Untuk mendapatkan kari kepala kambing, saya harus mendatangi gerai-gerai kari kambing sekitar jam 08.00 pagi. Kalau lewat, kepala kambing akan menjadi milik orang lain. Saya jalani hampir setiap hari. Saya menikmati kegiatan memesan dipagi hari dan waktu  siang mengantarkan. Saya tidak mau melewatkan momen itu.

Bang Tu sudah berpolitik jauh sebelum saya hadir dimuka bumi. Dibangku SMP, Bang Tu sudah mendapat training Pelajar Islam Indonesia (PII). PII semacam organisasi wajib dalam keluarga kami. Saat itu PII sedang melanjarkan gerakan bawah tanah sebagai organisasi yang tidak disenangi.  Sebagai anak kecil –tanpa sadar- saya belajar politik dari melihat dan mendengar. Kebetulan Abu seorang politisi senior di Aceh dan Bang Tu aktivis senior dikalangan mahasiswa.

Pernah rumah tinggal kami di Kampung Mulia dibakar OTK. Bang Tu mengerahkan teman-temannya dari Solidaritas Mahasiswa Untuk Rakyat (SMUR) untuk ngebase disana. Hampir setiap malam mereka berdiskusi. Ditemani capucino panas. Lagi-lagi  saya yang masih duduk di bangku kelas 4 MIN hanya mendengar dan mengamati. Para mahasiswa SMUR itu menganalisa gerakan mahasiswa dan gerakan sipil di Aceh dan nasional. Semua itu saya lakukan sambil bermain game Fifa Manajer. Saya pernah bertanya, kenapa abang-abang selalu bicara politik, gerakan mahasiswa, dan demonstrasi. Tapi kerjaanya selalu main game Fifa Manajer. Ini adalah simulator bagaimana mengelola tim dan negara. Ringan saja Bang Tu menjawab. Tentu saja saya tidak paham, apa maksudnya.

Pasca keberhasilan mahasiswa menggerakkan aksi Referendum 1999, SMUR menyusun perayaan kecil. Perayaan dilaksanakan sekaligus memperingati ulang tahun SMUR. Sebagai ketua SMUR sekaligus sosok dibalik keberhasilan aksi, Bang Tu menyiapkan pesta khusus di Lampuuk. Saya tidak ketinggalan, khusus di jemput dari sekolah. Tentu saja saya bingung, untuk apa anak kecil dimintai izin kepada guru untuk menghadiri acara organisasi mahasiswa. Ditengah perayaan, mahasiswa yang masih merokok patungan itu, bicara politik  Aceh, nasional, dan dunia. Mengenai sesuatu yang jauh kedepan.

Butuh waktu bertahun-tahun agar saya paham maksud Bang Tu mengajak serta saya. Bahwa belajar politik tidak hanya saat kita berada di bangku kuliah. Atau dengan membaca buku-buku tokoh gerakan dunia. Tapi politik bisa diajarkan semenjak dini dengan cara yang lain.

Ketika saya kuliah di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, saya terlibat gerakan mahasiswa. Gerakan yang bisa dikatakan sama dengan gerakan yang dilakukan Bang Tu dulu. Ketika aktif di KM Raya (sekarang mejadi Gerakan Mahasiswa Indonesia), saya merasakan banyak dejavu.

Bang Tu bisa membaca apa yang akan saya lakukan ketika dewasa. Dia sadar, tidak setiap saat seorang abang mendampingi adiknya. Maka, setiap waktu sangat berharga. Harus dimanfaatkan. Dia mengajarkan hal yang kita sadari atau tidak, akan berguna esok hari. Sebagai abang, Bang Tu berhasil melakukan itu pada saya.

Menjelang saya dewasa, kami jarang bersama. Saya masih sekolah di pesantren dan kuliah di Jakarta. Bang Tu tetap di Aceh dengan aktivitas politiknya. Saya kekurangan kesempatan mendapatkan pendidikan politik. Walaupun ingin dewasa, tetapi saya merasa lebih enak jadi anak kecil saja.

Suatu waktu, KPU baru saja menyatakan kemenangan pasangan Zikir di Aceh. Bang Tu berkunjung ke Jakarta. Dirumah kontrakan saya, kami duduk dan bercerita. Apa saja kunci-kunci keberhasilan Zikir. Pasangan yang tidak diunggulkan sebagai pemenang. Zikir melawan incumbent, yang diyakini banyak orang akan kembali memimpin Aceh.

Sejak selesai sholat magrib sampai subuh, kami hanya bercerita dan bercerita. Tidak ada makan malam. Dari awal ketika pasangan Zikir tidak mendaftar, kemudian mendaftar, dan menang. Saya kaget dan senang bisa ngobrol panjang. Setelah saya dewasa kami sangat jarang berinteraksi. Terutama ngobrol politik.

Pengalaman  yang diceritakan sangat bermanfaat hari ini. Saat  saya di Bireuen untuk mendukung kemenangannya meraih kursi DPRA. Lagi-lagi  ini seperti dejavu. Bang Tu sudah memprediksi, berbagi pengalaman memenangkan Zikir dengan kami, akan bermanfaat suatu hari kedepan. Hari itu adalah sekarang. Kisah itu menjadi penting karena disampaikan langsung oleh sekretaris Tim Pemenangan Zikir, Bang Tu sendiri. Momen berharga, yang tidak mungkin ditangkap oleh pers internasional sekalipun. Apalagi politisi lokal di Aceh.

Rangkaian pendidikan politik yang Bang Tu berikan semenjak saya kecil hingga hari ini, berkesinambungan bagai sebuah mata rantai.

Seperti cenayang, Bang TU mampu membaca arah masa depan. Dia tau benih politik apa yang cocok kita tanam hari ini, yang akan kita butuhkan pada panen 5 atau 10 tahun yang akan datang. Insting politik yang kuat.

Bang Tu memang dilahirkan sebagai politisi.

Apa kelebihan Bang Tu yang tidak dimiliki orang lain?. Pertama, Sebagai orang yang kenyang dengan berbagai organisasi, semenjak berstatus pelajar sampai hari ini. Dia memiliki jaringan yang luas dan kuat. Sudah berinteraksi dengan berbagai macam orang. Dengan  kepentingan politik yang beragam pula. Kedua, berpengalaman menjadi orang yang berdiri diluar dan berdiri didalam sistem. Ketika berdiri diluar, dia mengorganisir aksi massa yang kuat. Ketika berdiri di dalam sistem, Bang Tu adalah tim asistensi bupati Aceh Timur. Sekarang Bang Tu dipercaya wagub membantu pekerjaanya.

Bang Tu berani berfikir diluar mainstream. Think out of the box. Dan selalu berhasil. Dialah abang biologis sekaligus guru dalam politik.

2012 akhir, saya dan kawan-kawan melakukan aksi penolakan kenaikan BBM di depan gedung MPR/DPR, Senayan. Tepat ketika kami merasa buntu, Bang Tu menelpon.  Bertanya saya dimana dan sedang melakukan apa. Sambil berguyon saya menjawab sedang di gedung MPR/MPR, menjual air aqua kepada demonstran.

“Apapun yang terjadi, jangan sampai merugi karena aksi tidak didengar. Kalau sudah mengalami kebuntuan, pagar yang kokoh harus jatuh”. Demikian Bang Tu berpesan, sebelum menutup telpon.

Segera saya panggil simpul-simpul aksi. Sebelum maghrib, pagar gedung roboh. Diikuti berita bahwa DPR memilih paket C; menunda kenaikan harga BBM. Kami pulang dengan yel-yel keberhasilan. Menikmati tidur malam yang nyenyak. Seolah-olah kita sudah menang.

Demikian sedikit dari rangkaian 23 tahun sebagai adik Bang Tu.

Dihujat dan dibenci orang itu biasa. Apalagi oleh media. Pada akhirnya rakyat akan membuktikan bahwa itu yang terbaik. Dalam politik Bang Tu bilang; kita tidak butuh di puji dan di sanjung. Kita sudah tau apa resiko memasuki dunia politik. Itu kenapa, kita harus tetap berada pada garis kepentingan rakyat.

Keep Fight, Brada!..

Oleh Sulthan Muhammad Yus