Cadar, Sarung, dan Kupiah; Puritanisme Versus Modernisme

Semester pertama kuliah di IAIN Ar-Raniry (sekarang UIN Ar-Raniry) saya dikejutkan dengan pernyataan dosen muda pengasuh mata kuliah Dirasah Islamiyah. Beliau melarang mahasiswa memakai kupiah dan cadar. “Saya akan minta mereka menanggalkannya, atau jangan masuk mata kuliah saya”, Kata beliau dalam ruangan saat memulai kuliah pertama.

Saya terperanjat. Bertanya dalam pikiran, salah apa dengan kupiah dan cadar? Bukankah mereka tidak mengganggu?

Saat itu, antara 1995-1996 beberapa dosen muda baru pulang menyelesaikan srata dua di Australia, Amerika dan Jakarta. Kamipun baru masuk kuliah, sedang belajar membaca Fazlurrahman, Nurkholis Madjid, Harun Nasution dan Jalaluddin Rachmat. Kelompok diskusi di mesjid Fathun Qarib sedang semarak mendiskusikan pemikiran Gus Dur, Kuntowijoyo, Amien Rais dan intelektual muslim lainnya.

Organisasi-organisasi Islam sedang diatas angin kekuasaan. Merekontruksi pikiran-pikiran pembaharuan dan ke-Indonesiaan. Menggabungkan developmentalisme, islamisme, dan kebangsaan. Di sela-sela ini tertiup hawa akan pikiran demokratisasi dan desentralisasi. Di Aceh, organisasi Islam laksana HMI, PMII, ICMI, Muhammadiyah, dan NU punya peran penting membangun dinamika ini bahu membahu dengan universitas.

Saya ikut larut dalam pencarian identitas berfikir. Meski Abu di rumah senantiasa mewanti-wanti supaya tak terpengaruh cara pikir sekuler. Namun sebenarnya, saya sedang menuju kesana.

Pintu dari sekulerisme ialah kebebasan berfikir, pengakuan terhadap relatifitas kebenaran dan penghormatan kepada pluralisme. Dalam hal beragama lebih mengedepankan yang subtantif daripada simbolik. Bahwa benar, Islam masuk kedalam setiap relung kehidupan sosial dan kebudayaan dengan memberi tempat yang seluas-luasnya kepada kearifan zaman. Namun sekulerisme membuat garis yang tegas kepada kekuasaan. Islam tidak menjadi bagian dari politik kekuasaan. Nurkholis pun berprinsip; Islam yes, partai Islam no.

Para sekolahan jebolan strata dua dari Jakarta, Australia, apalagi Amerika mewakili cara pandang sekulerisme meski tak ada keberanian mengakuinya. Mereka menolak simbolisasi agama seperti peci, cadar, jubah, jenggot dan sarung. Pernyataan dosen saya diatas mewakili cara pandang ini. Beliau tidak pasif namun aktif melarang mahasiswanya mengenakan atribut tersebut. Mungkin itu lambang dari puritanisme, atau simbol kekolotan.

Disinilah saya tak sepakat. Bukan lantaran saya pemakai simbol-simbol itu tetapi saya menginginkan kebebasan kepada semua kebudayaan termasuk membolehkan mahasiswa memakai oblong dan sandal ke kampus. Saat itu saya berpikir, nilai juga sesuatu yang harus dipertanyakan. Pemakai peci belum tentu lebih baik daripada pemakai kaus oblong. Begitu juga pemakai jeans belel ke kampus belum tentu mewakili modernisme bila dibanding dengan pemakai sarung. Sesungguhnya Allah tak melihat bentuk tubuh dan pakaianmu, melainkan kepada hatimu.

Menurut saya, melarang cadar, terjebak standar ganda dalam membubuhkan nilai. Disatu sisi mengkampanyekan kebebasan dan keberagaman, disisi lain mengekang kebebasan yang lain.

Di era 80-an, negara (Indonesia)  melakukan gerakan sistematis menghancurkan simbol-simbol Islam. Pembangunan ditabrakkan dengan agama. Seolah-olah Islam penghambat pembangunan. Yang berhubungan dengan agama diasumsikan sebagai keterbelakangan.

Tidak sepenuhnya salah negara. Penganut Islam di tingkat akar rumput rata-rata dari masyarakat rendahan baik dari segi ekonomi, pendidikan mahupun akses pemerintahan. Mereka mewakili cara berfikir puritan, ekstrimis, tidak toleran, curiga dan sulit move on kepada hal-hal yang baru. Sesuatu yang baru dianggap kebarat-baratan, bertentangan dengan budaya timur. Dan Islam diasumsikan oleh muslim hanya milik orang-orang timur. Padahal, puritanisme itu sebenarnya berangkat dari keterbelakangan pendidikan, ekonomi dan sosial umat Islam. Bukan agama Islam.

Negara (Indonesia) melawan kebudayaan mereka dengan kekerasan, bukan counter  yang transformatif.

Sepatutnya kebudayaan menjadi fashion dan milik semua orang. Siapapun bisa memakai  cadar meski ia bukan Arab. Siapapun bisa memakai jas dan dasi kupu-kupu meski kita bukan dari barat. Semuanya bisa pakai batik dan kebaya meski kita bukan Jawa, Semuanya merdeka melakukan apa saja.

Sekitar 2000-2001, Aceh untuk pertama sekali memberlakukan syariat Islam. Hal pertama yang dilakukan ialah menambahkan tulisan Arab dengan bacaan melayu di setiap pamflet kantor pemerintahan. Sebagian teman menyebutkan sedang terjadinya Arabisasi di Aceh. Meski bila buku sejarah dibuka, tulisan Arab justru huruf tulis pertama di Aceh dan menjadi alat untuk menuliskan tutur melayu sebagai bahasa adminisrasi pemerintahan.

Teman-teman saya sering meledek seseorang yang terperangkap dalam mode jubah dan surban dengan julukan orang Aceh yang sedang berfantasi hidup di Arab Saudi era abad pertengahan. Kadang sesama kita berbisik supaya bertanya kepada si pemakai jubah itu dimana mereka memarkir untanya. Disisi yang sama kita lupa bertanya tentang celana jeans yang kita pakai, tentang kebudayaan pakaian kita apakah warisan nenek moyang atau budaya impor yang diadopsi dari alat informasi massa yang juga kita impor dari luar.

Kebudayaan itu tak pernah permanen. Tak perlu ada klaim bagus dan tidak bagus. Tak perlu ada nilai benar atau salah. Yang kita perlukan hanya kesadaran mengakui semua kebudayaan, menghargai perbedaan dan menikmati bagaimana madani yang sebenar-benarnya.

Sekitar 1930-an ulama-ulama PUSA mempelopori pakaian celana, jas dan dasi; sesuatu yang tabu bagi pemuka Islam karena dianggap menyerupai kafir. Tidak hanya cara berpakaian tetapi juga mengadopsi gaya pendidikan barat yaitu meninggalkan pendidikan gaya lesehan bale pengajian. Membangun ruang-ruang kelas lengkap meja, kursi dan papan tulis persis sekolah Belanda. Oleh ulama sarungan mereka dicap sudah terbaratkan.

Tahun 2004 saya berkunjung ke Sri Lanka, negara mayoritas Budha dan Hindu. Masyarakat disana popular memakai sarung dan kupiah seperti Nehru. Mereka dengan kebudayaan mereka, tak terpengaruh Islam atau Hindu. Ketika menyebutkan mereka kaum sarungan bukan berarti ulama dan santri seperti definisi Clifford Gert di Jawa. Mereka Budha dan Hindu.

Di awal 70-an dan secara periodik hingga saat ini bergelombang intelektual muslim dengan latar belakang santri dari Indonesia -termasuk Aceh- berangkat ke barat untuk belajar Islam. Sebuah kejutan bagi puritanisme, Islam tidak lagi identik dengan timur. Islam tak lagi monopoli jazirah Arab. Ulama-ulama yang tak diterima oleh kekuasaan dan kebudayaan di negeri-negeri muslim hijrah ke barat membangun  sentrum pemikirannya sendiri.

Untuk itu, mari bertindak adil sejak masih dalam pikiran. Semua kita perlu kebebasan serta penghargaan terhadap kebebasan kita. Ketika begitu, kita juga perlu memberi orang lain “ruang” mendapatkan kebebasan dan penghormatan sebagaimana kita menginginkannya. Akhirnya puritanisme itu bukanlah cadar, sarung dan kupiah. Modernisme itu bukan jas dan dasi kupu-kupu. Modernisme bagaimana kita bisa berdamai dengan yang lain berbagi tempat dan kebenaran.

 

Jakarta, 1 September 2015