BT – Unsuril Imani.

Kautsar Muhammad Yus Sehari-hari kami memanggilnya Bang Tu (BT), karena beliau adalah anak tertua dalam keluarga. Pertama kali mengenalnya Febuari 1999, saat masih menjadi mahasiswa. Namun sebelum itu, namanya sering terdengar disebut oleh teman-teman. Kami memang tidak satu angkatan tidak pula belajar di fakultas yang sama di IAIN Ar Raniry. Saya kuliah di jurusan TEN Fakultas Tarbiyah dan BT adalah mahasiswa Fakultas Syariah. Setelah berjumpa dalam pelaksanan Kongres Mahasiswa dan Pemuda Aceh Serantau I di Gedung Sosial Banda Aceh, selanjutnya  kami sering bertemu hingga akhirnya saya bergabung di organisasi mahasiswa SMUR yang beliau ketuai. Kesan pertama yang terlihat saat itu adalah anak muda kota yang sederhana

.

Tumb

uh dan besar di Banda Aceh tidak membuatnya tampak seperti anak muda Kota Banda Aceh kebanyakan. Tidak punya kendaraan pribadi, seperti sepeda motor apalagi mobil pribadi. Memang sekali-kali jika ada keperluan organisasi untuk cetak spanduk atau selebaran, beliau menggunakan kendaraan dinas orang tuanya yang kebetulan saat itu adalah anggota DPRD II Banda Aceh (DPRK sekarang). Pernah pula terlihat mengendarai mobil VW kodok yang penampakannya laksana perayaan 17 Agustus, alias setahun sekali karena lebih banyak mogoknya dari pada di jalan.

Berasal dari keluarga yang agamis, mempunyai latar belakang pendidikan pesantren dan sekolah agama, terlibat  organisasi keagamaan seperti PII, memberi keyakinan pada saya bahwa beliau adalah orang yang cerdas. Saat menjadi anggota SMUR banyak pelajaran baru yang saya dapat dari BT. Berbagai isu seperti komunis, sosialis, marxis ,dan berbagai lebel aliran kiri yang menerpa organisasi kami saat itu. Terkadang hal ini sedikit membuat nyali saya ciut, namun proses diskusi intens yang kami lakukan, mengajari saya tentang sikap dan cara lawan (baca:militer) menjatuhkan semangat mahasiswa kala itu.

Pengalaman mengharu biru yang saya ingat adalah saat menjenguk BT pertama kali ketika beliau ditahan atas dakwaan berbuat makar. Sesampai di Poltabes Aceh Besar Jambo Tape, ternyata saya tidak diperkenankan bertamu karena sudah banyak sekali pembesuk hari itu.

Dalam keadaan setengah kecewa dan tanpa protes saya memilih untuk tetap di berada di Pos Keamanan. Tiba-tiba dengan kuasa Allah seorang polisi yang baik hati mengizinkan saya berjumpa dengan BT. Pada masa sidang-sidang di pengadilanpun saya berusaha hadir. Yang paling menegangkan adalah saat beliau membacakan pledoi atas tuntutan jaksa, yang direspon tidak baik oleh salah seorang hakim dengan berkata “Itu lebih baik anda bacakan di depan ayah anda”. Namun alhamdulillah kemudian BT divonis bebas oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Banda Aceh. Salah seorang nama hakim yang saya ialah Bapak Superi, SH.

Arus dan hingar bingar politik yang berlanjut dengan Darurat Militer I dan II, membuat saya tidak dapat berjumpa lagi dengan BT. Dalam salah satu peristiwa di Kota Bireun, beliau kembali dipanggil pihak keamanan, karena dianggap melawan hokum. Kejadian itu berujung pada penetapan BT sebagai salah seorang DPO (Daftar Pencarian Orang) oleh pihak keamanan. Status tersebut membuat beliau memilih untuk bergerilya bersama pejuang nanggroe di pedalaman Bireun. Inilah yang membuat BT tidak hadir dalam pernikahan saya dengan adik beliau, Furqan, pada 2003

BT kemudia

n menjadi si anak hilang yang kepulangannya sangat dinantikan. Keselamatnnya terus didoakan. Hati kami kebat-kebit senatiasa di masa itu. Beberapa orang pernah datang ke rumah melaporkan atau mungkin mengarang cerita tentang keberadaannya. Takdir berkata lain, sekitar Januri 2005 (sebulan setelah tsunami), dengan izin Allah kami bertemu. Saat itu masih harus sembunyi-sembunyi karena belum ada pengumuman resmi dari pemerintah terhadap status DPO politik di masa itu.

Setelah proses damai, kesempatan membuat partai lokal memanggil naluri politiknya untuk terjun dan berkiprah di partai, sejak pendaftaran Partai Aceh sampai hari ini.

Masih seperti dulu, banyak cerita dan diskusi yang kami lakukan. Mulai dari topik ringan sampai isu-isu berat yang kadang sedikit sulit dicerna oleh saya. Berlainan jalur politik  dengan orang tua bukan berarti menjadikannya anak durhaka. Walau berbeda partai politik, hubungan komunikasi ayah dan anak tetap berjalan sebagaimana lazimnya. Saya sering melihat mereka diskusi panjang lebar dan tak jarang akan ditutup dengan petuah dan nasihat Abu tentang hingar bingar dunia, bagaimana hidup dan kehidupan dan sebagainya (semoga Allah memberikan Abu kesehatan senantiasa).

Menjadi bagian dari kehidupan BT, banyak hal yang saya dapatkan. Saya memandangnya dengan empat dimensi yang berbeda. Pertama sebagai seorang teman, kepribadian yang mempunyai solidaritas yang tinggi dan setia kawan. Sebagai seorang abang, beliau adalah sosok yang penyayang kepada kami semua adik-adiknya, bertanggung jawab dan senantiasa memberikan pilihan. Selain itu, beliau adalah abuwa perhatian dan protektif bagi anak-anak saya. Sebagai seorang politisi yang berawal dari aktivis gerakan mahasiswa, beliau adalah orang yang cerdas, selalu berfikir strategis dan jangka panjang, serta tetap focus dan konsisten memilih jalur politik sejak dari awalnya.

Kini, menuju pesta raya demokrasi 2014 beliau menjadi salah seorang kandidat anggota DPRA melalui daerah Pemilihan Bireun. Menurutnya ini adalah pertanggungjawaban politik beliau terhadap masyarakat. Saya sependapat dengan alasan ini meskipun saya tidak punya hak pilih di Bireun. Namun saya memberikan dukungan penuh akan pilihan ini. Saya senantiasa mendoakan, semoga Allah meridhai pilihannya. Selamat berjuang, Bang Tu,..