Bang Tu, You Will Never Walk Alone.

Syifak M Yus

Bang Tu adalah panggilan keluarga buat abang tertua kami, Kautsar Shi. Selepas menamatkan MIN 1 Banda Aceh, saya melanjutkan sekolah menengah pertama di sebuah pesantren di kota Medan. Sejak kecil, interaksi saya dengan bang Tu hanya sedikit. Selain karena masih sangat kecil, pesantren dan aktivitas bang Tu sebagai aktivis mahasiswa turut menjadi penyebabnya. Kekaguman saya terhadap bang Tu dimulai ketika saya melihat langsung aksi demonstrasi yang digalangnya, mulai dari mogok makan di Sp. Lima, boikot pemilu 1999, boikot bayar listrik dan pajak, hingga aksi penolakan BJ Habibie di jembatan Pante Pirak.

Karena aktivitas politiknya itulah pertemuan kami sangat jarang terjadi, terlebih ketika bang Tu ditahan pihak kepolisian. Sesaat setelah kebebasannya, dengan putusan murni tidak bersalah, kami sempat bertemu kembali di Jakarta. Momen dimana bang Tu membaca buku karangan Antonio Gramsci di atas Metromini disela-sela perjalanan kami dari UI Depok ke Tebet,Saya sangat penasaran. Hemat saya, Metromini bukanlah tempat yang nyaman untuk membaca. Rasa penasaran siapa itu Gramsci baru saya tebus ketika duduk dibangku kuliah beberapa tahun setelahnya.

Pertemuan kami semakin jarang terjadi manakala bang Tu memilih bergabung dengan Gerakan Aceh Merdeka. Pilihan yang membuat bang Tu harus ‘naik gunung’. Barulah pada medio 2003 kami bertujuh (enam adik bang Tu dan satu ipar) memiliki kesempatan berkunjung ke basecamp bang Tu dipedalaman Bireuen. Perjalanan kami masuk ke basis GAM membuat adrenalin meninggi, Rasa kangen, takut, dan cemas membuat seisi mobil diliputi ketegangan. Tapi rasa takut itu sirna setelah melihat si abang. Di perjumpaan itu, komunikasi saya dan bang Tu yang biasanya kaku dan canggung berubah seketika. Bang Tu mendadak menjadi hangat dan friendly. Tidak ada obrolan serius ketika itu selain obrolan tentang keluarga dan sekolah. Obrolan yang penuh dengan tawa dan canda.

Bang Tu tidak pernah pelit, setidaknya kepada saya. Dengan statusnya sebagai buronan, kami sempat bermalam bersama di negeri jiran, Malaysia. Dipertemuan itu, saya diberi uang RM 50 untuk menikmati malam di KL. Jumlah yang baru saya sadari banyak, saat supir taksi tidak cukup punya uang kembalian. Dipinjamkan T-Shirt warna kuning-biru dengan logo bintang ditengahnya. Bang Tu menolak saat saya mengembalikan kelebihan uang itu , sebelum pulang ke Aceh. Saya memang berencana mengembalikan sisanya. Supaya bang Tu tidak meminta kembali kaos yang saya pinjam. Diluar prediksi, kembalian uang ditolak dan T-Shirt pun jadi milik saya. Kaos itu akan saya pakai dan banggakan dihadapan bang Bay dan dek Sultan (abang dan adik saya). Akhirnya nasib T-Shirt kebanggaan itu lenyap ditelan Tsunami.

Pengalaman masa kecil melihat bang Tu sebagai seorang aktivis mahasiswa, merubah cita-cita kecil saya. Dari ingin menjadi pak Pos, menjadi seorang aktivis. Karena itu, ketika duduk dibangku kuliah, saya bergabung dengan organisasi gerakan mahasiswa di Jakarta. Menjadi demonstran karena terinspirasi bang Tu. Bang Tu pun mendukung penuh aktivitas saya semasa kuliah.  Bang Tu menyempatkan diri berkunjung ke gedung KPK. Ketika itu saya dan teman-teman mengkoordinir aksi mogok makan. Selama dua bulan menolak kriminalisasi KPK dan mengawal pengusutan kasus Century.

Bang Tu memang selalu mendukung dan siap membantu apapun pilihan saya. Apakah itu pilihan politik, ekonomi, sekolah, maupun urusan pacar. Ia tidak pernah memarahi secara langsung, kalau bang Tu tidak berkenan, maka yang akan menyampaikannya adalah kak Iyak (istri bang Tu) ataupun melalui perantara bang Yek (abang saya yang lain).

Bang Tu jugalah yang mendorong saya untuk melanjutkan S2 di IIUM Malaysia. Menurut bang Tu, pendidikan dan bahasa Inggris adalah bekal kehidupan masa depan.

Sejak saya kecil, bang Tu adalah inspirator saya.

Oleh Syifak Muhammad Yus