Penjajah.

Definisi

Sinonim penjajahan adalah; penindasan, penghisapan dan penaklukan. Dalam bahasa asing sering diistilahkan kolonialisme atau imperialisme. Penjajahan ialah bentuk aktifitas dominasi relasi manusia, kelompok atau negara yang timpang serta tidak adil. Yang satu menindas yang lain, menghisap yang lainnya. Yang satu memiliki keuntungan lebih berlipat dari yang lainnya.

Aktifitas penjajahan biasa terjadi dalam kerangka relasi keterpaksaan (tertindas). Esensi praktek penjajahan adalah pembatasan-pembatasan kewenangan kolektif masyarakat disuatu tempat.

Sebab Musabab Terjadinya Penjajahan 

Sejarah penjajahan dimulai sejak manusia mengenal praktek akumulasi modal (sumberdaya alam dan manusia). Superioritas modal menjadi kekuatan dasar melakukan penjajahan dan praktek dominasi atas kelompok yang lebih lemah.

Ketika istilah negara belum muncul, aktifitas penjajah-terjajah dilakukan dinasti kuat kepada dinasti lemah. Gelombang perlawanan terhadap hubungan ini kemudian melahirkan tatanan masyarakat baru yaitu negara kebangsaan (nation state) baik yang bertata kelola  republik  maupun kerajaan.

Runtuhnya dinasti dan munculnya negara bangsa tidak berarti praktek penjajahan  terhapuskan. Yang terganti hanya pelaku saja; dari dinasti ke negara.

Pada era ini, fungsi negara dengan fasilitas militer yang dimilikinya, menjadi lebih dominan berdiri di depan melakukan ekspansi penguasaan wilayah,  penguasaan sumberdaya alam demi kemajuan negerinya dalam rangka persaingan antar sesama negara penjajah.

Motif ekonomi dan budaya selalu menjadi alasan utama terjadinya penjajahan antar negara. Di antara keduanya; motif ekonomi adalah pemicu awal dan paling utama. Sedangkan pemicu lain, hanya ikutan dan turunan dari praktek dominasi penghisapan ekonomi.

Iklim yang membuat penjajahan itu terjadi adalah adanya jurang pemisah yang tajam antara negara miskin dan kaya.

Negara miskin biasanya memiliki masyarakat yang lemah sumberdaya dan modal. Masyarakat yang lemah secara individu, terpecah-belah antar sesama, sehingga tidak memiliki kesatuan visi dan imajinasi bersama akan masa depan.

Negara miskin biasanya diperintah dalam sistem feodal dimana kemandirian dan kemerdekaan tidak dimiliki oleh individu biasa diluar ningrat.

Solidaritas yang ditimbulkan pada masyarakat ini adalah solidaritas penunjang feodalisme dan bukan solidaritas yang muncul untuk sebuah cita-cita bersama akan masa depan yang lebih baik.

Sejatinya, masyarakat yang demikian ini sudah terjajah oleh bangsa dan etniknya sendiri. Tentu saja, wilayah seperti ini menjadi lahan empuk munculnya penjajahan dari luar.

Bagaimana Anatomi Penjajahan Bekerja?

Situasi dan kondisi suatu tempat akan membedakan bagaimana mesin penjajahan awalnya bergerak. Biasanya, negara-negara penjajah memaksa masuk menggunakan pola kekerasan pada masyarakat yang kuat, berdaulat, dan memiliki imajinasi kebersamaan atau pandangan nation state-nya yang sudah tertanam sedari awal.

Teknik perang dengan penguasaan wilayah per-wilayah menjadi pola utama. Menumbangkan sistem dan pemerintah yang sudah ada serta menggantikannya dengan pemerintahan penjajah. Situasi seperti itu yang terjadi ketika Belanda datang menaklukkan Aceh.

Pada negara atau kerajaan dengan masyarakat yang lemah, negara penjajah masuk tanpa kendala. Misi ekonomi menjadi topeng dimulainya penjajahan. Tidak sulit. Negara penjajah tidak perlu menaklukkan masyarakatnya. Cukup bekerjasama dengan para pemimpin feodal (landlord/tuan tanah) di suatu tempat serta mengelola konflik yang terjadi antar sesama pemimpin feodal.

Biasanya, para pemimpin feodal memiliki konflik antar sesama. Mereka cenderung mencari kekuatan luar untuk memperkuat diri. Di sinilah negara penjajah masuk dan merangkul elit feodal setempat, menancapkan kuku dominasinya. Secara perlahan menarik semua pimpinan feodal di suatu regional untuk bekerja demi kepentingan negara penjajah.

Pemimpin feodal tidak pernah terganggu oleh aktifitas penjajahan, selama praktek feodalisme itu dapat terus berjalan dengan baik. Inilah jawaban mengapa penjajahan Belanda dapat berlansung di Jawa selama 350 tahun.

Bagaimana Penjajahan Abad ke-20  Runtuh.

Ada sekelumit dampak positif yang dibawa sang penjajah yang notabene dari negara lebih maju ke negara jajahannya. Yaitu modernisme dan kapitalisme.

Modernisme, sebuah nilai yang kemudian memakan feodalisme di negeri jajahan. Modernisme lahir dari sistem pendidikan sekolah yang diterapkan negara penjajah dalam rangka pemenuhan sumberdaya terampil. Lalu digunakan untuk melayani mesin kapitalisme yang menuntut efisiensi kerja dan modernisasi organisasi.

Pendidikan membuat anak muda tempatan melek huruf. Anak muda tempatan yang akrab dengan buku dan koran. Anak muda tempatan yang akrab dengan budaya ilmiah kelas menengah; mendengar radio dan bercitarasa akan seni kebudayaan. Anak-anak muda yang gandrung ber-organisasi. Anak-anak muda yang bercakrawala global (tidak hanya melihat dunia sebagai Malaya, Jawa, Sumatera, Sulawesi dan Ambon saja).

Di samping itu, kapitalisme memberi sumbangsih tersendiri kepada anak jajahan bahwa aktifitas ekonomi bukanlah sebatas pengabdian kepada keluarga feodal, yang hanya dibayar dengan nasi dan lauk pauk saja. Kapitalisme, mengajarkan bahwa hidup bukan sekadar makan dan tidur saja.

Kapitalisme mengajarkan bagaimana arti upah dalam bentuk uang yang dapat ditukar dengan kenikmatan (leisure) hidup selain makan dan tidur. Kapitalisme mengajarkan bagaimana kerjasama itu diperlukan untuk keuntungan yang besar. Kapitalisme yang dibawa penjajah memberi sumbangan pada embrio tumbuhnya kelas menengah Indonesia.

Kedua hal itulah yang melahirkan imajinasi bersama akan sebuah negara bangsa. Akhirnya lahirlah patriotisme yang disebut Indonesia.

Perlawanan terhadap kolonialisme di Indonesia bersamaan dengan perlawanan terhadap feodalisme yang ditimbulkan oleh para ningrat feodal; pengabdi mesin kolonialisme Belanda.

Ditataran global ada situasi di mana kesatuan negara penjajah telah terpecah dan saling merebut kapling jajahan yang sebelumnya telah terbagi apik. Chaos global di negara penjajah melahirkan chaos secara lokal di daerah jajahan.

Kelompok perlawanan di negara-negara terjajah saling berintegrasi, negara-negara baru yang lahir akibat perlawanan terhadap kolonialisme dapat bersatu dan kemudian diakui sebahu sejajar dengan negara-negara penjajah.

Masyarakat dunia mulai mengakui akan kemanusiaan, kebebasan, persamaan dan kemerdekaan negara-negara terjajah.

Apakah Penjajahan Telah Berhenti? 

Berangkat ke definisi awal penjajah dengan arti penghisapan, maka penjajahan belumlah berhenti meski telah memperhalus bentuknya dan mempersopan gayanya. Bahkan menebar pesonanya. Penjajahan model lama tak mungkin dapat diterapkan lagi untuk saat ini.

Era keterbukaan, kemajuan teknologi, demokrasi, Hak Asasi Manusia, pertumbuhan kelas menengah yang tiap tahunnya meningkat, dan  supremasi hukum yang semakin bergerak ke arah penyempurnaan, ini menjadi benteng munculnya penghisapan gaya lama dan gaya baru.

Penghisapan sebagai praktek setan yang ada pada manusia, terus menerus mencari cara baru dalam aktifitasnya. Globalisasi menjadi corak baru penghisapan ekonomi. Peran negara yang semakin kecil dalam melakukan kontrol menjadi pintu masuk penghisapan yang dilakukan pemodal besar. Penghisapan dapat dilakukan tanpa terlihat, sebab arus modal saat ini dapat bergerak melampaui kemampuan negara memantaunya.

Supremasi individu sebagai effect dari penerapan demokrasi dan HAM akan semakin mengikis negara untuk ikut campur dalam urusan kepala dan perut manusia. Dengan demikian di masa depan, penjajahan negara atas negara tidak relevan lagi.

Kendati demikian, saya tidak setuju jika atasnama antipenjajahan, globalisme harus dilawan. Yang perlu dilakukan negara; hanyalah menjaga kerjasama global dapat berlansung dari setiap rumah di dunia ini secara setara dan saling menguntungkan.